Grooming dan Pekerja Sosial

seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi

Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di Yogyakarta. Salah satu mata bahasannya adalah tentang grooming. Tapi, karena terbatasnya waktu sehingga topik ini tidak terlalu dibahas tuntas. Saya karena penasaran pun menambah bahan bacaan dari beberapa rujukan terkait grooming ini.

Lanjutkan membaca “Grooming dan Pekerja Sosial”

maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka

Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan positif yang mereka dapat dari orang lain. Saya realistis cenderung ke pesimistis. Begitu kata seorang teman. Saya sering bilang kalau banyak orang cenderung sudah memiliki solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, tetapi kadang orang masih butuh penguatan-penguatan bahwa apa yang mereka yakini itu solusi adalah hal yang benar.

Tetapi, kadang yakin benar saja belum tentu menandakan kebenaran yang benar kan?

Lanjutkan membaca “maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka”

Intervensi Krisis

tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi

“Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini.

Lanjutkan membaca “Intervensi Krisis”

Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)

“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”

cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di https://radityobimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/

Dua minggu berlalu sejak pertemuan Pertiwi dengan pria yang mengaku bisa membantu menyelesaikan masalah juga dengan kekhawatiran yang mengikuti. Pertiwi pada pagi harinya sudah menelepon untuk menjadwalkan pertemuan kembali, tetapi kali ini Pertiwi meminta tempatnya di luar ruang pertemuan biasanya. Pertiwi mengajak pria tersebut bertemu di sebuah taman dimana terdapat kursi-kursi yang hanya bisa diduduki sendiri oleh pengunjung yang datang. Tepat berada di bawah jalan layang, di sebelah sebuah pusat perbelanjaan.

“Halo Pertiwi, senang bisa bertemu kembali. Kalau boleh tahu kenapa kita bertemunya disini?”

“agar aku bisa lebih mudah menjelaskan mas, tempat ini terikat erat dengan memori.”

Lanjutkan membaca “Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)”

Maaf Perempuan, Masih Belum

Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah.
Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah.
Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya.
Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa berbahaya.

Lanjutkan membaca “Maaf Perempuan, Masih Belum”