Skizofrenia dan Sajaknya

Schizoprenia adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa dan berperilaku. Indonesia memiliki lebih dari 150.000 kasus tiap tahunnya (yang tercatat). Dapat diberi pengobatan untuk membantu tapi kondisinya tidak bisa disembuhkan. Sering diasosiasikan dengan sebutan orang “gila”. Pengalaman saya sebagai pekerja sosial yang sering bersinggungan menangani teman-teman schizoprenia, menjadi salah satu pemicu bagi saya untuk lebih fokus dalam kesehatan mental.

Sajak-sajak berikut hadir selama pengalaman-pengalaman tersebut dibentuk. Baik dari suduh pandang penyintas maupun dari sudut pandang keluarga.

Lagi

yang menunggu di garis akhir

Masuk ke dalam sebuah sistem biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Meskipun yang sebenarnya hanya ada satu kemungkinan. Sistem yang akan mengubah seseorang yang masuk. Sangat jarang sekali, seseorang yang akan mengubah sebuah sistem. Mungkin kasusnya 1:1.000.000. Terlalu munafik kalau saya menyebutkan, kalau akan mengubah sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Lagi

Pendaftaran-Pendaftaran

Semua proses intervensi pekerja sosial, biasanya. Mayoritasnya. Berangkat dari masalah. Meskipun terkadang juga berangkat dari Potensi. Nah definisi masalah ini yang membuat semuanya semakin menarik. Mudahnya masalah sering diartikan sebagai ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Kalau ketidaksesuaiannya dirasakan oleh banyak orang, maka akan menjadi masalah sosial.

Lagi

Berharap itu Gratis, Mencapainya Tidak

Beberapa waktu belakang ini, saya banyak mengamati kembali tentang salah satu definisi masalah. Harapan. Ketidaksesuaian harapan dan kenyataan menjadi bumbu manjur menciptakan masalah.

Sulitnya, harapan itu tidak hanya harapan dari diri sendiri. Harapan individu seringnya juga ditimpali dengan harapan dari orang lain. Seringnya orang terdekat. Sampai tahap individu berpikir, “sudah saya penuhi harapan-harapan orang terdekat saya, harapan-harapan pribadi sendiri, kapan diakomodir? Kapan direalisasikan?”

Lagi

Nol dan Nol

Kebanyakan rasa tidak bahagia yang muncul dikarenakan banyaknya diri sendiri membanding-bandingkan dengan orang lain. Sudah menjadi budaya. Menjadi sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang tidak sehat. Kesepakatan yang bodoh.

Semuanya berangkat dari pemahaman akan kesetaraan. Semua orang ingin agar setara. Tapi setara tidak akan pernah terjadi. Kesetaraan itu hanya mitos yang dibuat secara kolektif. Mitos untuk menyenangkan hati rakyat akan mimpi palsu. Mitos untuk mereka percayai dan perjuangkan. Mitos yang akhirnya diturunkan kepada generasi selanjutnya. Dibentuk untuk mempercayai bahwa kesetaraan akan terjadi.

Lagi

Moral-Marit Dunning Kruger

Setiap individu dalam menjalani kehidupan selalu terikat dengan nilai-nilai yang ada. Nilai tersebut dapat kita sepakati atau tidak kita sepakati. Meskipun tidak disepakati oleh diri sendiri, nilai tetap akan memberikan batasannya.

Lagi

Tentang Keberfungsian Sosial

Keberfungsian sosial menjadi “nyawa” dari profesi pekerjaan sosial. Kalau ditanyakan kepada mahasiswa pekerjaan sosial tentang definisi profesi, saya berani jamin mayoritas akan menyebutkan atau menyinggung keberfungsian sosial di definisinya. Sasaran intervensi ideal yang dicita-citakan dapat dicapai oleh semua klien yang ditanganinya. Juga merupakan salah satu aspek dari kondisi “sehat” yang didefinisikan oleh World Health Organization (WHO).

Lagi

Kesehatan Mental dan Beban bagi Caregivers

Ditulis pada bulan oktober 2018, ketika masih banyak hal yang saya khawatirkan. Sekarang pun sebenarnya masih.

Photo by Nandhu Kumar on Pexels.com

Kesehatan mental akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Kesehatan mental tentunya terkaitan dengan salah satu jenis disabilitas, yaitu disabilitas mental. Disabilitas mental sendiri sering disebut disabilitas kasat mata, karena kasat mata sehingga tidak bisa langsung terlihat, maka dari itu jarang juga orang ingin mengetahui tentang disabilitas mental.

Lagi

Relasi Kuasa

Jadi begini.
Topik tentang relasi kuasa ini terus menerus terngiang di benak saya. Sejak tahun lalu saat ada kesempatan bekerja di SNPHAR (Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) hasil kerjasama antara berbagai pihak. Saat itu pelaksanaan survei ini dinaungi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Lagi