Sajak tentang Penerang

lilin itu kamu, dan lilin itu juga saya.
sama-sama menyala dan juga berupaya.
tujuan tidak sama, tapi berbahagia.
karena sama tahu, untuk mengisi tanpa memaksa.

lilin saya berbinar tanpa adanya pijar.
lilin kamu berpijar tanpa adanya binar.
lalu siapa yang sebenarnya benar?
tidak ada, karena sama-sama terbakar.

tapi itulah esensinya jadi penerang.
membakar diri untuk menghidupi.
tidak peduli siapa yang terkena terang.
akan menyala meski untuk mati.

Jakarta dan Ketersinggungannya

Jakarta menjadi tempat yang menarik untuk saya. Terlepas dari posisinya sekarang sebagai Ibukota Negara yang akan dipindah kedepannya. Beberapa waktu terakhir saya lumayan sering memikirkan lokasi di ujung sedikit barat pulau Jawa ini. Saya juga bingung kenapa saya mau mengeluarkan sumber daya untuk memikirkannya.

Lagi

Mengamati Kondisi Diam

Saya sering mendapatkan kesempatan mengamati interaksi antara anak-anak dengan orang tuanya, anak-anak dengan teman sebayanya, anak-anak dengan pembina termasuk pekerja sosial ada di situ. Hal yang menarik adalah adanya diam. Kediaman yang terjadi bisa karena banyak hal. Persepsi orang akan berbeda akan diam yang ditunjukkan oleh lawan bicara. Orang bisa saja menganggap diam yang ditunjukkan adalah keengganan dari lawan bicaranya untuk menanggapi hal yang sedang dibicarakan. Bisa saja orang marah karena ini. Bisa juga orang bingung karena kediaman ini. Pernah juga kediaman yang terjadi disepelekan. Biasanya saya lihat di interaksi antara orang tua dengan anak.

Lagi

Sajak Media Sosial

satu dua kabari berita
mudahnya tahu orang cerita
hidup kita bagai kelas tiga
apa-apa tahulah tetangga

lucunya kita tidak dipaksa
secara rela menjadi angsa
satu begitu dua mengisi
tiga meniru empat adopsi

menjadi dasar itulah dia
jadi wajah sosial media
penuhnya narasi tanpa makna
pelangi tak indah banyak warna

twiitter instagram hanya media
tapi terasa habisi nyawa
produktivitas jadi melemah
pancing pertengkaran dari rumah

Keluarga yang “Ada”

Photo by Vidal Balielo Jr. on Pexels.com

Beberapa hari yang lalu, saya menyelesaikan tugas saya sebagai panitia kegiatan Family Support atau dukungan keluarga di tempat saya bekerja; dan baru saja saya menyelesaikan amanah dalam kegiatan Rapat Koordinasi Regional. Kegiatan Family Support ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya dilakukan pada tahun ini, dengan konsep yang berbeda, narasumber yang berbeda, lokasi yang juga berbeda, dan juga beberapa perbedaan lain yang pada akhirnya kami nilai tepat dilakukan perubahan tersebut. Berangkatnya juga dari evaluasi kegiatan sebelumnya.

Lagi

tentang Pertiwi (Bagian 2)

“Untuk saya ini saya tidak bisa turun langsung ke orang tua kamu, tapi nanti seandainya memang benar-benar ada krisis yang terjadi. Saya pastikan saya akan melakukan intervensi pada krisis tersebut. ini juga pertemuan pertama kita kan, dipertemuan selanjutnya saya ingin lebih mendengar lagi tentang perkembangan kamu ya Pertiwi.” Kata pria berambut hitam sembari memberikan air minum yang telah disiapkannya dari tadi.

Cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di
https://radityobimo.com/2019/09/24/tentang-pertiwi/

“Tapi mas, aku belum selesai bercerita; kenapa mau ditutup pertemuan ini.”

Lagi

Pekerja Sosial Anak dan Batu Sandungnya

Pekerja sosial dengan segala bentuk setting penanganannya menyimpan cerita-cerita menarik. Saya berani bertaruh setiap pekerja sosial tidak akan memiliki pengalaman yang sama meskipun menangani klien yang sama. Setiap orang punya perspektif sendiri dalam menerjemahkan dan menelaah profesi ini, meskipun dengan undang-undang yang telah disahkan. Kebetulan saya sekarang bekerja di setting anak di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Paramita” Mataram. Ada tiga hal yang berdasarkan pengalaman saya yang sedikit ini, yang sering menjadi sandungan dalam bekerja sebagai pekerja sosial di setting anak.

Lagi

tentang Pertiwi

Pria berambut hitam sedang duduk di sofa ternyamannya, kemudian terbangun menjambat tangan seorang klien yang berusia sekitar 25 tahunan yang datang tanpa ditemani siapapun. Pria tersebut berkata “halo, saya orang yang biasa membantu mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran orang lain, kamu siapa? ada yang bisa saya bantu?”

Lagi

Gratitude

tulisan saya tidak sebaik diri saya, tulisan saya tidak seburuk diri saya. tulisan saya bukan untuk mengajari, tulisan saya untuk membuka diskusi. tulisan kali ini sedikit ringan, berangkat dari pengalaman beberapa waktu kemarin. Baik pengalaman sendiri dan banyaknya pengalaman dari orang lain.

Beberapa hari kebelakang, banyak yang saya pelajari kembali. Dari orang dekat, dari orang jauh, dari yang datang secara terpaksa, dari yang datang secara sukarela, dari orang yang baru ditemui, dari orang yang telah lama ditemui, dari yang mengucapkan selamat datang, dari yang diucapkan selamat tinggal. Banyak pelajaran yang saya ambil, yang bagi saya pribadi sangat bermanfaat bagi diri pribadi dan bagi profesi yang sedang saya tekuni, pekerja sosial.

Lagi

Lima Tahapan yang Tidak Bertahap untuk Menerima

Photo by Felipe Vallin on Pexels.com

Kita, berarti termasuk saya dan kamu. Meskipun berbeda-beda tetapi ada saja hal yang membuat kita semua ini terkoneksi. Salah satunya adalah grieving atau duka atau kesedihan. grief itu universal dan saya rasa setidaknya sekali dalam hidupnya pernah mengalami dan merasakan grief atau kesedihan ini. Biasanya sebagai respon terhadap penyakit yang kronis pada diri sendiri, kehilangan sebuah hubungan yang dekat, atau bahkan sampai kematian dari seseorang yang penting untuk kita. Kubler-Ross pada tahun 1969 mencoba menjelaskan tentang tahapan ini, dalam bukunya “On Death and Dying“.

Lagi