Maaf Perempuan, Masih Belum

Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah.
Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah.
Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya.
Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa berbahaya.

Lagi

Nyatanya Manusia

Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang yang sudah memprediksinya dan hanya mengatakan “nah kan benar kataku” sembari melanjutkan aktivitasnya lagi. Tanggapan kedua jauh lebih reaktif, “wah beneran ini Indonesia udah ada Covid-19?” Yuk kita beli masker. Kita beli sembako untuk bertahan hidup. Kita cari hand sanitizer.

Lagi

Yogyakarta dan Ketersinggungannya

Manusia seringnya terlalu jauh berpikir, sampai melupakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dapat dinikmati. Terlalu berpikir jauh tentang makna tanggal, makna simbol, makna bahasa, dan makna-makna lainnya yang sebenarnya tidak perlu terlalu jauh untuk dimaknai.

Lagi

Naif

Tidak ada yang lebih naif dari manusia yang sedang sendiri. Dikuatkannya pikiran dan hati dalam rangka untuk percaya diri. Perilaku turut berubah agar sekitar tidak mati sunyi. Banyak menyangkal dan berlindung di kalimat karena “karena untuk berserah diri”.

Orang mau membantu, ditolak setengah mati. Satu hilang, dua pergi, tiga datang, yang keempat menjadi apati. “Masalahku bukan masalahmu” katanya, kalian tidak usah peduli. Tapi saat mereka pergi, diri sendiri menjadi hilang kendali.

Naif memperbanyak diri ketika ditabrak konsep bahagia. Menjadi angkuh, bahagia bukan tanggung jawab siapa-siapa. Tapi jungkir balik memperjuangkan orang lain punya. Sampai lupa hidup bukan hanya hitam putih saja.

Jangan susah hati membantu kenaifan yang ingin abadi. Banyak cara lain untuk membantu tanpa sakit harus dilewati. Tidak perlu menyiksa diri saat sang naif masih berdiri. Percaya saja, suatu saat si subjek akan kembali.

atau justru malah mati.

Relasi yang Menyembuhkan

pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi

Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita akan lebih paham ketika mengalaminya dalam kehidupan kita sendiri.

Lagi

#SadariAnak – Penguatan dan Konsekuensi

Orangtua sibuk bermain Puzzle-Dokumentasi Pribadi

Tulisan ini nantinya akan menjadi tulisan dengan episodenya masing-masing. Saya buat seri tulisan ini untuk kita lebih sama-sama banyak belajar tentang anak. Pengetahuan tentang anak terus berkembang, apa yang kita rasakan saat usia anak-anak bisa menjadi tidak relevan lagi sekarang, dan itu bukan hal yang harus ditakutkan. Saya yakin sudah banyak orangtua atau calon orangtua yang terus mengembangkan pengetahuannya tentang pola asuh dan juga dunia anak.

Saya juga menulis dengan prinsip bahwa “Anak tidak bisa memilih orangtuanya, tetapi orangtua bisa memilih untuk menjadi seperti apa untuk anaknya.” Saya tulis juga dengan bercermin pada kasus-kasus anak yang diamanahkan untuk saya bantu tangani, yang sebagian besar ada pengaruh keluarga di dalamnya.

Lagi

karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan

Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia, siapapun dan dimanapun. Yaitu hak akan pilihan.

“Tapi tidak semua manusia punya pilihan kan, Bim?”
kata seorang teman saat kami berdiskusi beberapa waktu lalu.

Lagi

Semoga Jurnalis Bosan Hari Ini

Jam sudah menunjukkan pukul tiga.
Tapi apa daya tubuh juga belum merasa jengah.
Empat jam lagi akan berangkat untuk bekerja.
Memulai hari dengan rutinitas yang begitu saja.

Tujuh lima belas aku sudah di depan pintu itu.
Tidak lupa menaruh jempol untuk dapat terima kasih.
Berkaca agar berat dan menaruh tas yang lucu.
Terbalik? Tidak apa, masih lelah jadi frustasi.

Dinyalakan laptop dan layar hitam menyapa untuk merenung.
Lalu ku kembali membuka peramban yang sudah terintegrasi.
Situs berita terbookmark menyapa siap berdengung.
Berita baik adalah kejadian buruk dengan tambahan narasi.

Hmm tapi ada yang menarik pagi ini.
Berita hari kemarin yang ternyata dinaikkan kembali.
Kuketikan lokasi, tapi mesin penjawab enggan mencari.
Sepertinya jurnalis bosan hari ini.

Dan semoga begitu setiap hari.

Adil Sejak dalam Pikiran

Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.

Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Lagi