Kategori
Refleksi

Pertanyaan tentang Kebahagiaan

Jakarta. Dokumen pribadi.

“Kamu ini kenapa ya terobsesi kebahagiaan?” Pertanyaan teman saya dini hari tadi saat saya sedang bercerita. Saya ditanya begitu juga bingung. Kenapa ya? Kenapa sepertinya saya terobsesi dengan kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu sangat abstrak.

Definisi saja. Menurut kamu apa definisi kebahagiaan? Apa indikator sampai kamu bisa mencapai fase bahagia?

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Kunjungan Kerja ke Belanda-Sistem Koreksional

Photo by Tanathip Rattanatum on Pexels.com

Jadi hari ini saya mau ajak anda kunjungan kerja online ke ke salah satu negara yang punya sistem koreksional yang menarik, yaitu Belanda. Persiapannya tidak banyak, hanya perlu kacamata, pakaian yang nyaman dan memutar playlist saya di Spotify; Maka, dimulailah kunjungan kerja online saya mempelajari sistem koreksional di negara kincir angin ini. Meskipun dalam perjalanannya saya juga mampir sebentar ke U.S.A. Semuanya dibiayai oleh kuota saya pribadi. Jadi anda hanya perlu duduk dan membaca dengan nyaman sambil terus tetap #dirumahaja.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Menghargai Emosi

manusia dengan segala emosinya.
Dokumentasi Pribadi.

Saya sebagai seorang pekerja sosial terus belajar. Banyak sekali ilmu yang saya belum miliki. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat sebuah fenomena yang bernama Toxic Positivity, apalagi menghadapi pandemi Covid-19 ini. Saya pun mungkin juga pernah melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Kategori
Refleksi

Ini Judulnya Belakangan

Banyak kabar duka di tahun 2020 ini. Malam ini Glenn Fredly berpulang, sebelumnya ada juga sosok besar yang menuju keabadian. Banyak orang yang menyalahkannya kepada tahunnya. 2020. Padahal bukannya waktu itu ya berjalan saja tanpa peduli apa yang terjadi dalam pemanfaatannya. Waktu bukan benda sadar. Manusia yang berjalan di atasnya yang seringnya hanya sebentar. Tapi sering tidak sadar, sampai cahanya berhenti berpendar dan warnanya mulai memudar.

Beberapa bulan ini semuanya terasa seperti tidak baik-baik saja ya. Tapi tidak baik-baik saja pun tidak apa-apa. Tidak perlu selalu terlihat baik saat keadaannya tidak demikian. Ini juga saya masih perlu belajar banyak. Manusia bisa punya banyak rencana, toh akhirnya keadaan yang menentukan semuanya. Saya masih ingat sebuah kalimat yang saya temukan di linimasa Twitter beberapa bulan lalu. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini, “Saat manusia masih berwacana, Tuhan sudah berencana.”

Akhirnya pelarian kita hanya kepada yang memang berada di luar kemampuan kita. Saat semuanya sudah mentok. Tidak ada lagi jawaban yang bisa dikeluarkan oleh mesin pencari. Tidak ada buku yang bisa memberikan penjelasan. Tidak ada orang yang mau memberi dukungan. Kembalinya ya ke Yang Maha Kuasa.

Siapa lagi?

Saya tidak mau menjadi antipati terhadap angka kematian yang ditimbulkan oleh Pandemi yang sedang kita hadapi bersama. Data kuantitatif memudahkan orang membaca kejadiannya, tetapi tidak dengan memahami kesedihan di balik angka tersebut. Satu orang pergi sudah terlalu banyak.

Saya paham kematian itu pasti. Tapi, saya tidak akan pernah mau menormalisasi kematian. Siapapun itu.

Jadi,

Jaga diri kalian. Jangan disia-siakan hidup dengan memilih jalan yang membuat kalian tidak bahagia. Hidup terlalu sebentar, untuk tidak memikirkan diri sendiri. Ambil pilihan kebahagiaan itu selagi belum mahal ataupun langka. Bersyukurlah kalau kalian masih memiliki hak istimewa akan pilihan, karena banyak orang bahkan tidak pernah mendengarkan apa itu pilihan di hidup mereka. Jaga kesehatan, makan yang bergizi, olahraga yang cukup. Jangan tidur larut malam.

Peluk orang yang kamu sayang, kalau bisa.

Berikan perhatian lebih, selagi masih ada.

Tetap ada dalam dekapan cinta ya.

Tapi, yang terpenting;

Jangan mati dulu hari ini atau besok-besoknya.

Kategori
Spoken Words

I Like My Coffee

i like my coffee, like how society handle the Covid-19 situation.
easy at the first taste, and quickly become bitter in a second.
they don’t know what gonna hit them, like my experience in tasting luwak coffee.
just know from online review, and hear another people story.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Grooming dan Pekerja Sosial

seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi

Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di Yogyakarta. Salah satu mata bahasannya adalah tentang grooming. Tapi, karena terbatasnya waktu sehingga topik ini tidak terlalu dibahas tuntas. Saya karena penasaran pun menambah bahan bacaan dari beberapa rujukan terkait grooming ini.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka

Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan positif yang mereka dapat dari orang lain. Saya realistis cenderung ke pesimistis. Begitu kata seorang teman. Saya sering bilang kalau banyak orang cenderung sudah memiliki solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, tetapi kadang orang masih butuh penguatan-penguatan bahwa apa yang mereka yakini itu solusi adalah hal yang benar.

Tetapi, kadang yakin benar saja belum tentu menandakan kebenaran yang benar kan?

Kategori
Catatan Pekerja Sosial Narasi

Intervensi Krisis

tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi

“Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini.

Kategori
Cerita Pendek

Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)

“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”

cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di https://radityobimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/

Dua minggu berlalu sejak pertemuan Pertiwi dengan pria yang mengaku bisa membantu menyelesaikan masalah juga dengan kekhawatiran yang mengikuti. Pertiwi pada pagi harinya sudah menelepon untuk menjadwalkan pertemuan kembali, tetapi kali ini Pertiwi meminta tempatnya di luar ruang pertemuan biasanya. Pertiwi mengajak pria tersebut bertemu di sebuah taman dimana terdapat kursi-kursi yang hanya bisa diduduki sendiri oleh pengunjung yang datang. Tepat berada di bawah jalan layang, di sebelah sebuah pusat perbelanjaan.

“Halo Pertiwi, senang bisa bertemu kembali. Kalau boleh tahu kenapa kita bertemunya disini?”

“agar aku bisa lebih mudah menjelaskan mas, tempat ini terikat erat dengan memori.”

Kategori
Spoken Words

Maaf Perempuan, Masih Belum

Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah.
Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah.
Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya.
Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa berbahaya.