Tahun untuk Menyerah

Awal tahun ini Indonesia diterjang bencana demi bencana. Ujung barat ke timur, selatan ke utara jadi semacam berlomba untuk mempertontonkan bencana yang terbaik. Baru beberapa waktu yang lalu tempat saya bekerja mengirimkan tim untuk menyalurkan bantuan kepada teman-teman yang terdampak gempa di Sulawesi Barat. Meskipun tidak ditugaskan untuk turun langsung, saya turut merancang detail perjalanan mereka, merancang teknis penyaluran dan juga merasakan seram melalui cerita tim yang turun karena di beberapa wilayah listrik padam. Membelah jalan melewati hutan-hutan di malam hari. Melihat bagaimana manusia akan selalu mencari cara untuk bertahan hidup, meskipun harus melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Kondisi bencana, memungkinkan semuanya menjadi benar.

Lanjutkan membaca “Tahun untuk Menyerah”

Maaf Bapak

Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering disebutnya. Maka dari itu target perubahan yang direncanakan bukan hanya kepada anak sebagai sasaran saja. Tapi, juga termasuk keluarga, komunitas yang lebih luas, atau faktor-faktor lingkungan lain yang menjalani interaksi dengan anak.

Lanjutkan membaca “Maaf Bapak”

The Moon and The Sun

The Sun asked The Moon, “Why are you so vulnerable?”
and The Moon said, “Because i choose to.”

The Sun confused, “Why though? Look at me. I’m the most powerful things in the universe. Without me, there will be no life.”

“I know it so well, you are exactly what father want us to be. To be strong. To be a role model. To be perfect. But i’m not you. I choose to be vulnerable around her. Because she also choose to be vulnerable around me. Sometimes you just find things.” said The Moon.

***

S-P-O-K yang Pulang

S-P-O-K yang salah dipahami.

Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat.

Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek.

Predikat juga enggan mengakui pulang. Alasannya karena yang pulang akan selalu dianggap pecundang.

Tapi, akhirnya aku sadar, kalau pulang itu selalu tentang subjek yang menghadirkan sosok.

Bersamanya dirawat ingatan, yang menemani petang yang dingin hingga pagi yang nyaman. Pulang itu selalu tentang kamu, dan semua sisi baik juga buruk yang menjadikannya candu.