S-P-O-K yang Pulang

S-P-O-K yang salah dipahami.

Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat.

Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek.

Predikat juga enggan mengakui pulang. Alasannya karena yang pulang akan selalu dianggap pecundang.

Tapi, akhirnya aku sadar, kalau pulang itu selalu tentang subjek yang menghadirkan sosok.

Bersamanya dirawat ingatan, yang menemani petang yang dingin hingga pagi yang nyaman. Pulang itu selalu tentang kamu, dan semua sisi baik juga buruk yang menjadikannya candu.

Naif

Tidak ada yang lebih naif dari manusia yang sedang sendiri. Dikuatkannya pikiran dan hati dalam rangka untuk percaya diri. Perilaku turut berubah agar sekitar tidak mati sunyi. Banyak menyangkal dan berlindung di kalimat karena “karena untuk berserah diri”.

Orang mau membantu, ditolak setengah mati. Satu hilang, dua pergi, tiga datang, yang keempat menjadi apati. “Masalahku bukan masalahmu” katanya, kalian tidak usah peduli. Tapi saat mereka pergi, diri sendiri menjadi hilang kendali.

Naif memperbanyak diri ketika ditabrak konsep bahagia. Menjadi angkuh, bahagia bukan tanggung jawab siapa-siapa. Tapi jungkir balik memperjuangkan orang lain punya. Sampai lupa hidup bukan hanya hitam putih saja.

Jangan susah hati membantu kenaifan yang ingin abadi. Banyak cara lain untuk membantu tanpa sakit harus dilewati. Tidak perlu menyiksa diri saat sang naif masih berdiri. Percaya saja, suatu saat si subjek akan kembali.

atau justru malah mati.

Semoga Jurnalis Bosan Hari Ini

Jam sudah menunjukkan pukul tiga.
Tapi apa daya tubuh juga belum merasa jengah.
Empat jam lagi akan berangkat untuk bekerja.
Memulai hari dengan rutinitas yang begitu saja.

Tujuh lima belas aku sudah di depan pintu itu.
Tidak lupa menaruh jempol untuk dapat terima kasih.
Berkaca agar berat dan menaruh tas yang lucu.
Terbalik? Tidak apa, masih lelah jadi frustasi.

Dinyalakan laptop dan layar hitam menyapa untuk merenung.
Lalu ku kembali membuka peramban yang sudah terintegrasi.
Situs berita terbookmark menyapa siap berdengung.
Berita baik adalah kejadian buruk dengan tambahan narasi.

Hmm tapi ada yang menarik pagi ini.
Berita hari kemarin yang ternyata dinaikkan kembali.
Kuketikan lokasi, tapi mesin penjawab enggan mencari.
Sepertinya jurnalis bosan hari ini.

Dan semoga begitu setiap hari.

Sajak tentang Penerang

lilin itu kamu, dan lilin itu juga saya.
sama-sama menyala dan juga berupaya.
tujuan tidak sama, tapi berbahagia.
karena sama tahu, untuk mengisi tanpa memaksa.

lilin saya berbinar tanpa adanya pijar.
lilin kamu berpijar tanpa adanya binar.
lalu siapa yang sebenarnya benar?
tidak ada, karena sama-sama terbakar.

tapi itulah esensinya jadi penerang.
membakar diri untuk menghidupi.
tidak peduli siapa yang terkena terang.
akan menyala meski untuk mati.