Maaf Bapak

Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering disebutnya. Maka dari itu target perubahan yang direncanakan bukan hanya kepada anak sebagai sasaran saja. Tapi, juga termasuk keluarga, komunitas yang lebih luas, atau faktor-faktor lingkungan lain yang menjalani interaksi dengan anak.

Lanjutkan membaca “Maaf Bapak”

Ode untuk Manusia

Izinkan “saya” menggunakan “aku”.

Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir – akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kemungkinan besar. Masalah tersebut akan disalurkan kepada objek ataupun subjek lain. Sayangnya, budaya timur kita yang santun. Membuat aku, kamu, dan kita semua tidak mau menyalurkan masalah ke orang lain. Lebih mudah dilemparkan tanggung jawab ini kepada waktu. Toh, waktu tidak akan menuntut kan?

Lanjutkan membaca “Ode untuk Manusia”

Pertanyaan tentang Kebahagiaan

Jakarta. Dokumen pribadi.

“Kamu ini kenapa ya terobsesi kebahagiaan?” Pertanyaan teman saya dini hari tadi saat saya sedang bercerita. Saya ditanya begitu juga bingung. Kenapa ya? Kenapa sepertinya saya terobsesi dengan kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu sangat abstrak.

Definisi saja. Menurut kamu apa definisi kebahagiaan? Apa indikator sampai kamu bisa mencapai fase bahagia?

Lanjutkan membaca “Pertanyaan tentang Kebahagiaan”

Ini Judulnya Belakangan

Banyak kabar duka di tahun 2020 ini. Malam ini Glenn Fredly berpulang, sebelumnya ada juga sosok besar yang menuju keabadian. Banyak orang yang menyalahkannya kepada tahunnya. 2020. Padahal bukannya waktu itu ya berjalan saja tanpa peduli apa yang terjadi dalam pemanfaatannya. Waktu bukan benda sadar. Manusia yang berjalan di atasnya yang seringnya hanya sebentar. Tapi sering tidak sadar, sampai cahanya berhenti berpendar dan warnanya mulai memudar.

Beberapa bulan ini semuanya terasa seperti tidak baik-baik saja ya. Tapi tidak baik-baik saja pun tidak apa-apa. Tidak perlu selalu terlihat baik saat keadaannya tidak demikian. Ini juga saya masih perlu belajar banyak. Manusia bisa punya banyak rencana, toh akhirnya keadaan yang menentukan semuanya. Saya masih ingat sebuah kalimat yang saya temukan di linimasa Twitter beberapa bulan lalu. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini, “Saat manusia masih berwacana, Tuhan sudah berencana.”

Akhirnya pelarian kita hanya kepada yang memang berada di luar kemampuan kita. Saat semuanya sudah mentok. Tidak ada lagi jawaban yang bisa dikeluarkan oleh mesin pencari. Tidak ada buku yang bisa memberikan penjelasan. Tidak ada orang yang mau memberi dukungan. Kembalinya ya ke Yang Maha Kuasa.

Siapa lagi?

Saya tidak mau menjadi antipati terhadap angka kematian yang ditimbulkan oleh Pandemi yang sedang kita hadapi bersama. Data kuantitatif memudahkan orang membaca kejadiannya, tetapi tidak dengan memahami kesedihan di balik angka tersebut. Satu orang pergi sudah terlalu banyak.

Saya paham kematian itu pasti. Tapi, saya tidak akan pernah mau menormalisasi kematian. Siapapun itu.

Jadi,

Jaga diri kalian. Jangan disia-siakan hidup dengan memilih jalan yang membuat kalian tidak bahagia. Hidup terlalu sebentar, untuk tidak memikirkan diri sendiri. Ambil pilihan kebahagiaan itu selagi belum mahal ataupun langka. Bersyukurlah kalau kalian masih memiliki hak istimewa akan pilihan, karena banyak orang bahkan tidak pernah mendengarkan apa itu pilihan di hidup mereka. Jaga kesehatan, makan yang bergizi, olahraga yang cukup. Jangan tidur larut malam.

Peluk orang yang kamu sayang, kalau bisa.

Berikan perhatian lebih, selagi masih ada.

Tetap ada dalam dekapan cinta ya.

Tapi, yang terpenting;

Jangan mati dulu hari ini atau besok-besoknya.