Kategori
Refleksi

Surat Terbuka untuk Diri Sendiri

Dibacakan oleh orang baik di masa kebahagiaan sedang langka. Terima kasih, M.P.

Selamat sore, Bim. Aku menuliskan ini untukmu di sore hari. Terserah kapan kamu mau membacanya, seadanya waktu saja. Kerjaan sedang tidak padat. Terdampak Covid-19 mungkin. Atau lebih enak didengar kita sebut Corona saja ya Bim. Ada banyak hal yang berubah sejak wabah ini terjadi. Baik untuk diriku sendiri, maupun mungkin kamu juga.

Kategori
Refleksi

Ode untuk Manusia

Izinkan “saya” menggunakan “aku”.

Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir – akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kemungkinan besar. Masalah tersebut akan disalurkan kepada objek ataupun subjek lain. Sayangnya, budaya timur kita yang santun. Membuat aku, kamu, dan kita semua tidak mau menyalurkan masalah ke orang lain. Lebih mudah dilemparkan tanggung jawab ini kepada waktu. Toh, waktu tidak akan menuntut kan?

Kategori
Refleksi

Pertanyaan tentang Kebahagiaan

Jakarta. Dokumen pribadi.

“Kamu ini kenapa ya terobsesi kebahagiaan?” Pertanyaan teman saya dini hari tadi saat saya sedang bercerita. Saya ditanya begitu juga bingung. Kenapa ya? Kenapa sepertinya saya terobsesi dengan kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu sangat abstrak.

Definisi saja. Menurut kamu apa definisi kebahagiaan? Apa indikator sampai kamu bisa mencapai fase bahagia?

Kategori
Refleksi

Ini Judulnya Belakangan

Banyak kabar duka di tahun 2020 ini. Malam ini Glenn Fredly berpulang, sebelumnya ada juga sosok besar yang menuju keabadian. Banyak orang yang menyalahkannya kepada tahunnya. 2020. Padahal bukannya waktu itu ya berjalan saja tanpa peduli apa yang terjadi dalam pemanfaatannya. Waktu bukan benda sadar. Manusia yang berjalan di atasnya yang seringnya hanya sebentar. Tapi sering tidak sadar, sampai cahanya berhenti berpendar dan warnanya mulai memudar.

Beberapa bulan ini semuanya terasa seperti tidak baik-baik saja ya. Tapi tidak baik-baik saja pun tidak apa-apa. Tidak perlu selalu terlihat baik saat keadaannya tidak demikian. Ini juga saya masih perlu belajar banyak. Manusia bisa punya banyak rencana, toh akhirnya keadaan yang menentukan semuanya. Saya masih ingat sebuah kalimat yang saya temukan di linimasa Twitter beberapa bulan lalu. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini, “Saat manusia masih berwacana, Tuhan sudah berencana.”

Akhirnya pelarian kita hanya kepada yang memang berada di luar kemampuan kita. Saat semuanya sudah mentok. Tidak ada lagi jawaban yang bisa dikeluarkan oleh mesin pencari. Tidak ada buku yang bisa memberikan penjelasan. Tidak ada orang yang mau memberi dukungan. Kembalinya ya ke Yang Maha Kuasa.

Siapa lagi?

Saya tidak mau menjadi antipati terhadap angka kematian yang ditimbulkan oleh Pandemi yang sedang kita hadapi bersama. Data kuantitatif memudahkan orang membaca kejadiannya, tetapi tidak dengan memahami kesedihan di balik angka tersebut. Satu orang pergi sudah terlalu banyak.

Saya paham kematian itu pasti. Tapi, saya tidak akan pernah mau menormalisasi kematian. Siapapun itu.

Jadi,

Jaga diri kalian. Jangan disia-siakan hidup dengan memilih jalan yang membuat kalian tidak bahagia. Hidup terlalu sebentar, untuk tidak memikirkan diri sendiri. Ambil pilihan kebahagiaan itu selagi belum mahal ataupun langka. Bersyukurlah kalau kalian masih memiliki hak istimewa akan pilihan, karena banyak orang bahkan tidak pernah mendengarkan apa itu pilihan di hidup mereka. Jaga kesehatan, makan yang bergizi, olahraga yang cukup. Jangan tidur larut malam.

Peluk orang yang kamu sayang, kalau bisa.

Berikan perhatian lebih, selagi masih ada.

Tetap ada dalam dekapan cinta ya.

Tapi, yang terpenting;

Jangan mati dulu hari ini atau besok-besoknya.

Kategori
Refleksi

Gratitude

tulisan saya tidak sebaik diri saya, tulisan saya tidak seburuk diri saya. tulisan saya bukan untuk mengajari, tulisan saya untuk membuka diskusi. tulisan kali ini sedikit ringan, berangkat dari pengalaman beberapa waktu kemarin. Baik pengalaman sendiri dan banyaknya pengalaman dari orang lain.

Beberapa hari kebelakang, banyak yang saya pelajari kembali. Dari orang dekat, dari orang jauh, dari yang datang secara terpaksa, dari yang datang secara sukarela, dari orang yang baru ditemui, dari orang yang telah lama ditemui, dari yang mengucapkan selamat datang, dari yang diucapkan selamat tinggal. Banyak pelajaran yang saya ambil, yang bagi saya pribadi sangat bermanfaat bagi diri pribadi dan bagi profesi yang sedang saya tekuni, pekerja sosial.

Kategori
Refleksi

Surat Terbuka untuk (yang katanya) Penyelamat Orang Lain

Pertama, selamat. Saat ini mungkin ada seseorang atau banyak orang yang menaruh harapan kepada kamu. Semoga menikmati dibebankan harapan orang lain dan pasti merasa takut dan cemas, apabila nantinya tidak mampu memenuhi harapan-harapan yang ada.

Kategori
Refleksi

yang menunggu di garis akhir

Masuk ke dalam sebuah sistem biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Meskipun yang sebenarnya hanya ada satu kemungkinan. Sistem yang akan mengubah seseorang yang masuk. Sangat jarang sekali, seseorang yang akan mengubah sebuah sistem. Mungkin kasusnya 1:1.000.000. Terlalu munafik kalau saya menyebutkan, kalau akan mengubah sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial Refleksi

Berharap itu Gratis, Mencapainya Tidak

Beberapa waktu belakang ini, saya banyak mengamati kembali tentang salah satu definisi masalah. Harapan. Ketidaksesuaian harapan dan kenyataan menjadi bumbu manjur menciptakan masalah.

Sulitnya, harapan itu tidak hanya harapan dari diri sendiri. Harapan individu seringnya juga ditimpali dengan harapan dari orang lain. Seringnya orang terdekat. Sampai tahap individu berpikir, “sudah saya penuhi harapan-harapan orang terdekat saya, harapan-harapan pribadi sendiri, kapan diakomodir? Kapan direalisasikan?”

Kategori
Refleksi

Nol dan Nol

Kebanyakan rasa tidak bahagia yang muncul dikarenakan banyaknya diri sendiri membanding-bandingkan dengan orang lain. Sudah menjadi budaya. Menjadi sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang tidak sehat. Kesepakatan yang bodoh.

Semuanya berangkat dari pemahaman akan kesetaraan. Semua orang ingin agar setara. Tapi setara tidak akan pernah terjadi. Kesetaraan itu hanya mitos yang dibuat secara kolektif. Mitos untuk menyenangkan hati rakyat akan mimpi palsu. Mitos untuk mereka percayai dan perjuangkan. Mitos yang akhirnya diturunkan kepada generasi selanjutnya. Dibentuk untuk mempercayai bahwa kesetaraan akan terjadi.

Kategori
Refleksi

Prioritas Dua Puluhan

Setiap orang punya semua masalahnya.
Tidak.
Lebih tepatnya setiap orang punya kebutuhannya masing-masing. Utamanya di usia-usia dua puluhan. Sering dikaitkan dengan teman-teman sebaya saya dengan Quarter Life Crisis. Meskipun saya sendiri merasa term quarter life crisis ini sudah overused.