Relasi yang Menyembuhkan

pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi

Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita akan lebih paham ketika mengalaminya dalam kehidupan kita sendiri.

Lanjutkan membaca “Relasi yang Menyembuhkan”

karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan

Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia, siapapun dan dimanapun. Yaitu hak akan pilihan.

“Tapi tidak semua manusia punya pilihan kan, Bim?”
kata seorang teman saat kami berdiskusi beberapa waktu lalu.

Lanjutkan membaca “karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan”

Adil Sejak dalam Pikiran

Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.

Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Lanjutkan membaca “Adil Sejak dalam Pikiran”

Panasea itu Pernikahan

Nanti kalau dia sudah keluar dari sini, mau saya nikahkan aja mas. Biar punya tanggung jawab.

Salah seorang orangtua klien pada saat pertemuan keluarga

Percaya tidak percaya, kalimat tersebut benar adanya dan pernah diucapkan oleh orangtua dari klien yang saya dampingi. Mendengar kalimat tersebut terucap, saya pun mengajak diskusi orangtua tersebut mengenai pernikahan pada usia anak. Mengenai dampaknya dan juga pengaruh kedepannya. Apalagi baru-baru ini usia pernikahan sudah ditingkatkan batasan umurnya menjadi 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan; ya meskipun masih bisa diajukan dispensasi juga melalui pengadilan. Artinya kesempatan pernikahan pada usia anak masih ada, dan bukan sesuatu yang patut kita banggakan.

Lanjutkan membaca “Panasea itu Pernikahan”

Persona

Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona tersebu, ada sebuah Proverb yang saya cukup sering saya lihat di Internet. Bunyinya seperti berikut:

“The Japanese say you have three faces. The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are.”

“Orang Jepang bilang bahwa kamu memiliki tiga wajah. Wajah pertama kamu tunjukkan kepada dunia. Wajah kedua kamu tunjukkan kepada teman dekatmu dan keluargamu. Wajah ketiga tidak pernah kamu tunjukkan kepada siapapun. Wajah terakhir ini yang menjadi refleksi terjujur dari dirimu.”

Lanjutkan membaca “Persona”