Kategori
Narasi

Kemungkinan Idul Adha

Dikirim oleh seorang teman

Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi. Dipilih atau tidak dipilih dengan berbagai macam latar belakang dan pertimbangannya.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial Narasi

Intervensi Krisis

tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi

“Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini.

Kategori
Narasi

Nyatanya Manusia

Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang yang sudah memprediksinya dan hanya mengatakan “nah kan benar kataku” sembari melanjutkan aktivitasnya lagi. Tanggapan kedua jauh lebih reaktif, “wah beneran ini Indonesia udah ada Covid-19?” Yuk kita beli masker. Kita beli sembako untuk bertahan hidup. Kita cari hand sanitizer.

Kategori
Narasi

Relasi yang Menyembuhkan

pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi

Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita akan lebih paham ketika mengalaminya dalam kehidupan kita sendiri.

Kategori
Narasi

karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan

Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia, siapapun dan dimanapun. Yaitu hak akan pilihan.

“Tapi tidak semua manusia punya pilihan kan, Bim?”
kata seorang teman saat kami berdiskusi beberapa waktu lalu.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial Narasi

Adil Sejak dalam Pikiran

Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.

Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Kategori
Narasi

Panasea itu Pernikahan

Nanti kalau dia sudah keluar dari sini, mau saya nikahkan aja mas. Biar punya tanggung jawab.

Salah seorang orangtua klien pada saat pertemuan keluarga

Percaya tidak percaya, kalimat tersebut benar adanya dan pernah diucapkan oleh orangtua dari klien yang saya dampingi. Mendengar kalimat tersebut terucap, saya pun mengajak diskusi orangtua tersebut mengenai pernikahan pada usia anak. Mengenai dampaknya dan juga pengaruh kedepannya. Apalagi baru-baru ini usia pernikahan sudah ditingkatkan batasan umurnya menjadi 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan; ya meskipun masih bisa diajukan dispensasi juga melalui pengadilan. Artinya kesempatan pernikahan pada usia anak masih ada, dan bukan sesuatu yang patut kita banggakan.

Kategori
Narasi

Persona

Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona tersebu, ada sebuah Proverb yang saya cukup sering saya lihat di Internet. Bunyinya seperti berikut:

“The Japanese say you have three faces. The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are.”

“Orang Jepang bilang bahwa kamu memiliki tiga wajah. Wajah pertama kamu tunjukkan kepada dunia. Wajah kedua kamu tunjukkan kepada teman dekatmu dan keluargamu. Wajah ketiga tidak pernah kamu tunjukkan kepada siapapun. Wajah terakhir ini yang menjadi refleksi terjujur dari dirimu.”