Sua;Sua

*tuk tuk tuk*

Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai, tapi kembali dihapus berulang-ulang. Dia ragu kali ini. Ragu untuk bertemu dengan emosi lainnya yang sudah lama tidak dirasakannya.

****

Lanjutkan membaca “Sua;Sua”

Orang Baik

Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama – sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya. Kita diminta untuk harus memahami bahwa ada skenario terbaik yang sudah dituliskan oleh Yang Maha Mengetahui akan perjalan kita. Prosesnya tidak akan mudah. Penuh batu terjal dan juga karang yang tajam. Belum lagi angin dingin yang membuat sesak nafas apabila terjebak di dalamnya.

Lanjutkan membaca “Orang Baik”

Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit

Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu – tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan bantuan pernafasan. Nafi koma. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke mobil yang sedang kencang melaju di Jalan Cakranegara di sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia itu.

Lanjutkan membaca “Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit”

Anakku, ini Untukmu Kelak

diambil di Borobudur, 2020

Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, “Mau temani ayah sekali-kali”. Khas dengan suaramu yang masih cempreng. Permintaanmu itu yang membuat aku harus melakukan tawaran bak ahli negosiasi di bursa saham kepada ibumu. Kita sama-sama tahu kalau kamu terlewat jam tidur. Besoknya kamu akan bangun kesiangan. Sedangkan, kamu harus sekolah juga. Tapi, ibumu mengizinkan. Sekali-kali katanya.

Lanjutkan membaca “Anakku, ini Untukmu Kelak”

Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)

“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”

cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di https://radityobimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/

Dua minggu berlalu sejak pertemuan Pertiwi dengan pria yang mengaku bisa membantu menyelesaikan masalah juga dengan kekhawatiran yang mengikuti. Pertiwi pada pagi harinya sudah menelepon untuk menjadwalkan pertemuan kembali, tetapi kali ini Pertiwi meminta tempatnya di luar ruang pertemuan biasanya. Pertiwi mengajak pria tersebut bertemu di sebuah taman dimana terdapat kursi-kursi yang hanya bisa diduduki sendiri oleh pengunjung yang datang. Tepat berada di bawah jalan layang, di sebelah sebuah pusat perbelanjaan.

“Halo Pertiwi, senang bisa bertemu kembali. Kalau boleh tahu kenapa kita bertemunya disini?”

“agar aku bisa lebih mudah menjelaskan mas, tempat ini terikat erat dengan memori.”

Lanjutkan membaca “Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)”