Menormalkan Kematian bagi Anak

Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies. Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama dan juga Kementerian Kesehatan.

Dunia memasuki tatanan normal baru. Indonesia juga termasuk di dalamnya. Banyak yang harus dipaksa berubah. Seperti biasanya juga, perubahan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi perubahan yang harus dipahami dan dijalankan oleh anak-anak.

Anak dalam masa perkembangannya belajar mengenai konsep sakit dan kematian. Saat masuk usia sekolah, setidaknya anak-anak sudah memahami konsep-konsep tersebut. Anak akan tahu saat seorang manusia sakit salah satu ujung akhirnya adalah kematian. Beberapa anak belajar hal ini lebih cepat dari yang lainnya.

Lagi

Kunjungan Kerja ke Belanda-Sistem Koreksional

Photo by Tanathip Rattanatum on Pexels.com

Jadi hari ini saya mau ajak anda kunjungan kerja online ke ke salah satu negara yang punya sistem koreksional yang menarik, yaitu Belanda. Persiapannya tidak banyak, hanya perlu kacamata, pakaian yang nyaman dan memutar playlist saya di Spotify; Maka, dimulailah kunjungan kerja online saya mempelajari sistem koreksional di negara kincir angin ini. Meskipun dalam perjalanannya saya juga mampir sebentar ke U.S.A. Semuanya dibiayai oleh kuota saya pribadi. Jadi anda hanya perlu duduk dan membaca dengan nyaman sambil terus tetap #dirumahaja.

Lagi

Menghargai Emosi

manusia dengan segala emosinya.
Dokumentasi Pribadi.

Saya sebagai seorang pekerja sosial terus belajar. Banyak sekali ilmu yang saya belum miliki. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat sebuah fenomena yang bernama Toxic Positivity, apalagi menghadapi pandemi Covid-19 ini. Saya pun mungkin juga pernah melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Lagi

Grooming dan Pekerja Sosial

seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi

Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di Yogyakarta. Salah satu mata bahasannya adalah tentang grooming. Tapi, karena terbatasnya waktu sehingga topik ini tidak terlalu dibahas tuntas. Saya karena penasaran pun menambah bahan bacaan dari beberapa rujukan terkait grooming ini.

Lagi

maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka

Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan positif yang mereka dapat dari orang lain. Saya realistis cenderung ke pesimistis. Begitu kata seorang teman. Saya sering bilang kalau banyak orang cenderung sudah memiliki solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, tetapi kadang orang masih butuh penguatan-penguatan bahwa apa yang mereka yakini itu solusi adalah hal yang benar.

Tetapi, kadang yakin benar saja belum tentu menandakan kebenaran yang benar kan?

Lagi

Intervensi Krisis

tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi

“Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini.

Lagi

#SadariAnak – Penguatan dan Konsekuensi

Orangtua sibuk bermain Puzzle-Dokumentasi Pribadi

Tulisan ini nantinya akan menjadi tulisan dengan episodenya masing-masing. Saya buat seri tulisan ini untuk kita lebih sama-sama banyak belajar tentang anak. Pengetahuan tentang anak terus berkembang, apa yang kita rasakan saat usia anak-anak bisa menjadi tidak relevan lagi sekarang, dan itu bukan hal yang harus ditakutkan. Saya yakin sudah banyak orangtua atau calon orangtua yang terus mengembangkan pengetahuannya tentang pola asuh dan juga dunia anak.

Saya juga menulis dengan prinsip bahwa “Anak tidak bisa memilih orangtuanya, tetapi orangtua bisa memilih untuk menjadi seperti apa untuk anaknya.” Saya tulis juga dengan bercermin pada kasus-kasus anak yang diamanahkan untuk saya bantu tangani, yang sebagian besar ada pengaruh keluarga di dalamnya.

Lagi

Adil Sejak dalam Pikiran

Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.

Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Lagi

Kenapa Pekerja Sosial?

Setiap bulan Desember biasanya saya menulis refleksi dari perjalanan tahun tersebut dan memang akan saya tulis, tapi bukan di tulisan kali ini. Masih ada 3 draf tulisan yang perlu saya selesaikan sebelum berganti tahun 2020; sebelum nanti topiknya menjadi tidak relevan.

Tapi, pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan hal yang sering sekali ditanyakan oleh keluarga dan juga teman-teman di lingkungan sebelum kuliah, atau orang-orang baru yang kebetulan saya bersinggungan dalam perjalanan.

“Ķenapa jadi pekerja sosial?”

“Pekerja sosial ngapain aja emangnya?”

Lagi