Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Kesehatan Mental dan Beban bagi Caregivers

Ditulis pada bulan oktober 2018, ketika masih banyak hal yang saya khawatirkan. Sekarang pun sebenarnya masih.

Photo by Nandhu Kumar on Pexels.com

Kesehatan mental akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Kesehatan mental tentunya terkaitan dengan salah satu jenis disabilitas, yaitu disabilitas mental. Disabilitas mental sendiri sering disebut disabilitas kasat mata, karena kasat mata sehingga tidak bisa langsung terlihat, maka dari itu jarang juga orang ingin mengetahui tentang disabilitas mental.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Relasi Kuasa

Jadi begini.
Topik tentang relasi kuasa ini terus menerus terngiang di benak saya. Sejak tahun lalu saat ada kesempatan bekerja di SNPHAR (Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) hasil kerjasama antara berbagai pihak. Saat itu pelaksanaan survei ini dinaungi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Kesehatan Mental dan Sistem Pendukungnya

Keinginan saya untuk menulis tentang kesehatan mental muncul lagi saat saya melihat ada lagi yang menjadi korban dari kesehatan mental dan dampak yang ditimbulkannya. Saya tahu infonya dari twitter. Bukan orang terdekat saya. Tapi bisa jadi, suatu saat itu dapat terjadi. Kepada saya. Kepada kamu.

Kategori
Narasi

Persona

Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona tersebu, ada sebuah Proverb yang saya cukup sering saya lihat di Internet. Bunyinya seperti berikut:

“The Japanese say you have three faces. The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are.”

“Orang Jepang bilang bahwa kamu memiliki tiga wajah. Wajah pertama kamu tunjukkan kepada dunia. Wajah kedua kamu tunjukkan kepada teman dekatmu dan keluargamu. Wajah ketiga tidak pernah kamu tunjukkan kepada siapapun. Wajah terakhir ini yang menjadi refleksi terjujur dari dirimu.”

Kategori
Refleksi

Jangan Menyembuhkan

Fenomena burnout satu dekade belakang ini semakin mencuat. Memasuki masa revolusi industri, dimana setiap orang dituntut untuk melakukan segalanya dengan efektif dan efisien. Hal ini membuat setiap orang berlomba-lomba melakukan pekerjaan terbaiknya. Atau sebaliknya, berlomba-lomba mencari cara agar dapat melakukan pekerjaannya dengan sesuai dan menghindari hukuman.

Benar atau salah. Bukan posisi saya untuk menilai.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Toleransi dalam Berperan

Pekerja sosial dilihat dari tujuan adanya profesi ini, sering dikaitkan dengan pengembalian atau perbaikan keberfungsian sosial atau social functioning dari individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat. Keberfungsian sosial erat kaitannya dengan peran dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Rumus Perubahan

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI dalam paparannya mengatakan “if you can’t measure it, you can’t improve it.” Jika kamu tidak dapat mengukurnya, maka kamu tidak dapat meningkatkannya.

Masuk akal memang. Bagaimana kita mau melakukan peningkatan, kalau kondisi saat ini saja kita belum tahu sedang dalam tahap apa. Hal ini dapat dikaitkan juga dengan masalah sosial seperti kemiskinan. Kalau kita berada di dalam masyarakat yang mayoritasnya memang pra sejahtera, dibawah rata-rata pendapatan warga Indonesia. Maka lambat laun kita akan mengkonfirmasi bahwa kondisi yang ada ini adalah sebuah kondisi yang seharusnya.

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Tentang Perbandingan

Beberapa waktu kebelakang. Dalam waktu yang sempit. Saya diberi kesempatan mempelajari hal lebih banyak daripada biasanya. Belajar dari orang lain dan belajar dari diri sendiri. Belajar dari media, belajar dari kerusuhan, belajar dari kemalangan orang, belajar dari kebahagiaan kelompok. Belajar mengukur kecukupan diri sendiri. Agar bisa meningkatkan kapasitas diri.