Terjadi penyerangan oleh terduga teroris di Mabes Polri. Sebelumnya, terjadi ledakan pada sebuah Gereja di Makassar. Dirunut setelah itu, banyak terduga teroris di tangkap di berbagai wilayah. Termasuk Nusa Tenggara Barat. Pertanyaannya: mereka di rentang seusia saya.

1995.

Kedua kejadian. Berkaitan atau tidaknya, sama-sama dilakukan oleh orang yang berkelahiran tahun 1995. Generasi milenial yang dibangga-banggakan. Saya pikir memang benar. Tiap komunitas punya indikator kesuksesannya masing-masing. Bagi kelompok mereka, mungkin ini tingkat sukses tertinggi.

Berbagai sumber saya baca. Para jurnalis berlomba untuk update informasi terbaru di lapangan. Namanya diketahui, ZA. Alamatnya juga, di Ciracas, Jakarta. Foto terakhir setelah tertembak banyak bersliweran di sosial media.

Yang terjadi, terjadilah.

Kejadian Jakarta memang masih belum diketahui motifnya. Tapi, saya sedari tadi coba mereka ulang. Bagaimana jalan pikir seseorang sampai berani berbuat nekat seperti itu. Pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi perilaku. Sampai saat ini mengetik pun, saya masih belum menemukannya.

Tapi ada yang mengkhawatirkan. Kejadian Jakarta dan Makassar dilakukan oleh angkatan muda. Bisa jadi teman-teman kita juga ada yang memiliki pola pikir yang sama. Tidak bisa disangkal perkembangan sosial media menjadi pemicunya.

Hari ke hari, jam tiap jam gawai kita tidak pernah lepas dari notifikasi. Banyak informasi yang saling bertukar. Interaksi itu transaksional. Saat interaksi langsung kita bisa segera memfilter informasi. Bisa dari mimik wajah penyampai informasi, gesture, keajegan berbicara, informasi yang disampaikan.

Bisa mudah membedakan apakah penyampai informasi punya kapabilitas atau tidak. Saat tidak langsung bagaimana?

Sebatas nomor. Sebatas foto profil. Kemalasan untuk melakukan cek informasi kembali. Kemungkinan misinformasi terjadi sangat besar. Percaya kepada orang yang salah sangat mungkin terjadi.

Percaya kepada sang ahli berpendapat. Bukan kepada si ahli.

Rilis dari Kapolri baru keluar ketika saya mengetik bagian ini. Dia mantan mahasiswa semester 5 yang drop out. Media sosialnya ada postingan tentang ISIS, kemudian jarang komunikasi dengan tetangga di daerah rumah. Meski telah lama tinggal di daerah tersebut.

Bisa punya jaringan. Bisa jadi seorang lone wolf. Saat sendirian justru berbahaya. Lebih tidak bisa diawasi. Tidak banyak yang peduli. Bisa terjadi kepada siapa saja.

Ide itu dua mata pedang. Saat di tangan yang tepat, dapat membawa kemajuan. Saat di berikan kepada yang bingung, hal seperti ini bisa terjadi.

Saya jadi kalut.

Saya menangani berbagai kasus anak. Tidak sedikit kondisi anak yang saya tangani sedang kebingungan. Bingung tidak bisa makan. Bingung tidak bisa sekolah. Bingung tidak ada pemasukan. Bingung tidak ada yang bisa dilakukan.

Saat menerima intervensi, pelan-pelan. Bersama dengan anak, kebingungan itu dicari jalan keluar. Sebisa mungkin. Semampu kami.

Itu yang menerima intervensi.

Bagaimana dengan yang tidak? Bagaimana dengan banyak anak kebingungan di luar sana?

Saat kita bingung. Siapapun yang mau membantu, akan dianggap seperti sang penyelamat.

Saat sang penyelamat bukan orang yang tepat.

Bisa dipikirkan kan akhirnya bagaimana?

Ah, saya mungkin terlalu meracau. Mungkin efek banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sampai besok. Selamat istirahat teman-teman.