Layanan Dukungan Psikososial, Pengalaman Gempa Bumi Mamuju

Awal tahun ini menjadi waktu yang cukup sibuk untuk saya pribadi. Ada banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi maupun di kehidupan kerja. Saya sebagai seseorang yang merasa berfungsi sosial (keberfungsian sosial juga pernah saya bahas di blog ini), maka saya berusaha sebaik-baiknya memenuhi peran-peran saya di setting pribadi maupun di setting kerja.

Minggu lalu saya mendapatkan tugas dari tempat saya bekerja sekarang. Tugasnya untuk melakukan pendampingan dalam pemberian Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk adik-adik kita di Mamuju, Sulawesi Barat. Semuanya terjadi begitu cepat. Malam harinya saya diminta untuk antigen, kemudian besok paginya berangkat. Rute penerbangan yang diambil adalah Lombok-Bali-Makassar.

Pertanyaannya, kenapa tidak langsung Mamuju? Padahal ada Bandara juga disana. Jawabannya sederhana, tidak ada penerbangan connecting yang efektif dan efisien kesana. Penerbangan transit yang terdaftar di aplikasi pemesanan online seperti Traveloka atau Tiket.com mewajibkan kami untuk bermalam selama hampir satu hari di Makassar. Dalam situasi bencana tentunya satu detik waktu pun berharga.

Lalu, setelah menghubungi rekan kami yang ada di Makassar, maka diputuskan kami akan turun di Makassar dan menempuh jalur darat ke Mamuju. Perkiraan waktu itu sesuai Maps waktu tempuh Makassar-Mamuju sekitar 12 jam. Meskipun rekan yang mendampingi kami mengatakan bisa ditempuh selama sepuluh jam.

Keberangkatan dari BIZAM, Lombok.

Setibanya di Makasar dan ISOMA sekitar 30 menit, kami langsung berangkat menuju Mamuju sekitar pukul 15.30 WITA. Menjadi catatan ini adalah perjanan pertama saya di Bumi Sulawesi. Pertama kali dan langsung ditugaskan untuk menuju lokasi bencana.

Gelap menjadi teman perjalanan kali ini

Kami berhenti beberapa kali untuk ISOMA dan juga meluruskan kaki. Perjalanan 12 jam cukup terasa, apalagi dengan kondisi jalan menuju Mamuju yang ternyata banyak yang berlubang dan bergelombang. Saya yang duduk di barisan belakang Avanza waktu itu, merasakan sekali guncangan. Sempat beberapa kali juga kepala saya mencium langit-langit Mobil.

Satu hal yang saya amati di perjalanan ini adalah protokol kesehatan dari masyarakat sudah sangat tidak terlihat. Masker pun jarang-jarang ada. Tempat makan kami setelah mendarat yang masih di daerah Makassar, pegawainya pun banyak yang tidak menggunakan masker. Ya, semoga saja karena memang sudah benar-benar bebas Covid daerah tersebut.

Beberapa plat nomor di Sulawesi

Tepat 12 jam kemudian kami sampai di Mamuju. Melewati beberapa bekas longsor karena gempa bumi yang sudah dipindahkan. Sampai di penginapan pukul 03.00 WITA, tim kami pun istirahat karena pukul 08.00 WITA sudah diharuskan berangkat ke shelter pengungsian di Stadion Manakarra, Mamuju.

Layanan Dukungan Psikososial

Sepertinya saya perlu menginformasikan terlebih dahulu perihal Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Sebenarnya sudah ada banyak literasi yang menjelaskan mengenai LDP, mungkin coba saya rangkumkan dengan bahasa yang saya mengerti.

Sebelumnya kita mengetahui bahwa kegiatan LDP ini dilakukan untuk mendukung dan meningkatkan kondisi psikososial seseorang, sesuai namanya.

Terdapat kondisi psikologis, dan juga kondisi sosial. Keduanya saling berhubungan secara dinamis.

Kondisi psikologis orang akan mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh kondisi sosialnya. Kondisi sosial orang juga tentunya akan mempengaruhi dan dipengaruhi kondisi psikologisnya.

Bencana atau hal darurat lainnya memaksa manusia untuk tidak berada di garis keseimbangannya. Memaksa berada di garis darurat. Lebih mudahnya coba saya gambarkan (dengan sangat sederhana sangat-sangat sekali) seperti di bawah ini.

garis keseimbangan manusia

Dalam kondisi ideal, atau dalam kondisi yang kita familiar dengannya. Manusia cenderung berada di garis hijau. Berada di tengah-tengah. Segala sesuatu berada di jangkauan kita. Manusia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, manusia dapat menjalankan peran-peran di kehidupannya sesuai tuntutan masyarakat, manusia mampu mematuhi norma dan aturan yang ada.

Tapi, tekanan demi tekanan yang menimbulkan stres, menciptakan masalah, membuat semuanya menjadi terlihat serba salah menggeser garis keseimbangan manusia ke kanan dan ke kiri. Tidak terlalu penting arahnya, tetapi yang berlebihan itu tidak baik. Saat kondisi bencana bergeraknya garis keseimbangan ini menjadi lebih cepat. Menjadi tiba-tiba berada di pojok paling kiri maupun paling kanan. Kondisi gawat darurat.

Garis keseimbangan yang saya jelaskan secara sederhana ini dapat dibaca lebih lanjut dengan kata kunci windows of tolerance oleh Dr. Dan Siegel.

Dalam kondisi bencana, khususnya untuk anak. Ada banyak penyebabnya garis keseimbangan ini tidak berada dalam kondisi ideal, beberapa hal diantaranya seperti anak terpisah dari orangtuanya, anak melihat lingkungan fisiknya yang berubah drastis/hancur karena bencana, terabaikannya hak-hak anak, dan banyak penyebab lainnya yang bisa terjadi waktu pra, saat, dan pasca bencana.

Menjadi kesepahaman bersama saat bencana bahwa keselamatan diri adalah prioritas nomor satu, sehingga beberapa kepentingan anak menjadi terlewatkan. Tenda-tenda pengungsian yang ada pun membuat ruang privasi antar individu menjadi minim sekali. Hal ini dapat menjadi bahaya laten akan kekerasan seksual kepada anak.

Mas Poko, salah satu Pendamping Rehabilitasi Sosial Anak yang turun dari Jakarta mengatakan bahwa inti dari LDP adalah membuat anak bahagia. Tentunya dengan berbagai cara, kalau beliau spesialisasinya menggunakan media sulap. Hal ini yang juga beliau lakukan di Mamuju, bermain sulap dengan membuat anak menjadi peserta aktif dalam aksi-aksinya.

Adapun dalam pemberian LDP waktu itu tidak bisa dilakukan sembarangan, apalagi dalam kondisi bencana dan juga pandemi Covid-19. Ada prosedur yang dilakukan sebelumnya, pertama adalah berkoordinasi dengan koordinator di pengungsian tersebut. Hal ini penting dilakukan agar terdapat kesepahaman antara tim teknis yang melakukan LDP dengan orang-orang yang juga membantu di dalam pengungsian tersebut.

Secara teknis sendiri ada beberapa tahapan yang dilakukan pada saat pemberian LDP.

1. Asesmen Kondisi Psikososial

Asesmen dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran tentang permasalahan, kebutuhan, harapan, dan sumber-sumber yang dapat diakses dalam meningkatkan kesejateraan psikis dan sosialnya. Hal ini penting juga untuk mengetahui usia dari anak-anak yang akan diberikan LDP. Tahap perkembangan anak-anak tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Perbedaan usia dapat menjadi hambatan besar apabila LDP dilakukan dalam satu kelompok yang heterogen. Kebutuhan anak usia di bawah 6 tahun, dengan anak usia di atas 12 tahun tentu saja berbeda. Maka dari itu penting untuk dilakukan asesmen awal mengenai kondisi psikososial mereka.

Apabila tidak dapat dilakukan asesmen dengan informan primer, dapat dilakukan aseamen melalui informan sekunder. Saya di Mamuju melakukan asesmen dengan rekan yang sudah hadir dulu di lokasi. Saya menjadi mengetahui keseharian mereka di lokasi pengungsian, rentang umur mereka, tantangan yang dirasakan oleh petugas lainnya, dan harapan-harapan mereka akan orang yang datang pengungsian.

Mengenai harapan ini memang perlu menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan LDP sepertinya. Pemberian bantuan karena bencana, sedikit banyak mempengaruhi kondisi psikis mereka. Anak bisa merasa bahwa setiap petugas yang hadir dan tampil di depan mereka, pasti akan memberikan bantuan. Padahal kan kenyataannya tidak begitu. Harapan yang tidak realistis ini dapat menjadi masalah bagi anak, maupun bagi petugas atau relawan yang ingin membantu.

Hal yang penting diingat, asesmen bukan sekedar pengumpulan data. Pada asesmen terdapat aspek penilaian akan data yang telah dikumpulkan.

2. Perencanaan Kegiatan

Setelah mendapatkan hasil asesmen, baru kita bisa bergerak pada tahap perencanaan kegiatan. Banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan saat LDP. Oleh sebab itu, agar efektif dan efisien perlu memperhatikan beberapa hal dalam perencanannya. Salah satunya adalah menentukan tujuan kegiatan. Hal ini agar kegiatan lebih terarah dan mendapatkan tema yang dapat diasosikan dalam pelaksanaannya.

Hal-hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah jumlah anak yang mengikuti, karakteristik anak dan pengasuhan di lingkungan tersebut, tempt dilaksanakan kegiatan, dukungan sarana prasarana, dan tidak lupa adalah pemilihan waktu kegiatan yang tepat.

Hal-hal yang terlihat sepele sebenarnya, tapi dalam pelaksanannya sering terlupakan. Kondisi anak yang mungkin tidak stabil, malah justru perlu perhatian lebih dalam penanganannya. Bukan sekedar hanya muncul, memberikan yel-, kemudian selesai. Ada banyak bahaya laten dari bencana yang terjadi yang mengancam kesejahteraan psikologis dan sosial anak.

Bahan-bahan yang bisa mendukung pun perlu disiapkan. Saya sengaja membawa beberapa permainan anak, alat menggambar, kertas origami dari tempat saya bekerja. Tapi, akhirnya tidak digunakan karena tidak ada waktu. Hal yang saya pelajari adalah, kita harus selau punya rencana cadangan.

Satu hal lagi yang cukup penting menurut saya adalah perlunya obaserver. Fasilitator LDP yang membentuk anak dalam kelompok, tentunya akan terbagi-bagi fokusnya yang membuat tidak semua anak dapat terawasi. Disini lah pentingnya ada observer untuk mengawasi masing-masing anak, sehingga saat ada perilaku yang tidak wajar dalam segera dilakukan intervensi.

3. Pelaksanaan Kegiatan dan Monev terus menerus

Pelaksanaan kegiatan tentunya perlu memperhatikan hasil perencanaan yang telah dilakukan, meskipun tidak jarang dalam kondisi bencana akan muncul kegiatan-kegiatan yang mungkin belum sempat direncanakan.

Monev juga perlu dilakukan secara terus menerus dalam pelaksanaan kegiatan. Evaluasi awal dan akhir juga menjadi keharusan, apabila tidak memungkinkan menggunakan instrumen baku. Salah satu cara paling mudah tapi mungkin tidak akurat yang dapat dilakukan kepada anak-anak adalah dengan menanyakannya langsung.

“Halo adik-adik, Kak Bimo mau tanya. Pagi ini yang perasaannya bahagia boleh tunjuk tangan?”

Pada akhir kegiatan pun juga ditanyakan kembali.

“Adik-adik kalau sekarang yang perasaannya sudah bahagia, boleh berdiri?”

Memang tidak akan seakurat menggunakan instrumen baku, tapi cara ini lebih memungkinkan dilakukan di kondisi pasca bencana. Setidaknya menurut saya. Ada perbandingan dari kondisi awal sebelum dilakukan LDP dengan kondisi akhir setelah dilakukannya LDP.

Saat bertugas di Mamuju dikarenakan keterbatasan waktu, saya lebih banyak berperan sebagai observer dan fasilitator LDP secara individu. Tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orangtua yang berada di pengungsian. Saya percaya setiap fasilitator dalam LDP memiliki seninya masing-masing dalam membantu anak.

Bahaya Laten Pasca Bencana

Salah satu bahaya laten yang dapat terjadi pada anak pasca bencana adalah kemungkinan meningkatnya pernikahan usia anak. Saya sempat berbicara kepada beberapa orangtua yang anaknya sudah remaja, beberapa dari mereka menyampaikan akan menikahkan anaknya saat kondisi lebih stabil. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi beban orangtua dalam mengurus anak. Sayangnya dan seringnya, pernikahan usia anak justru membawa hal sebaliknya.

Pernikahan yang terjadi dapat terjadi karena paksaan orangtua. Kehamilan tidak dikehendaki karena kurangnya pengawasan dalam pengungsian di masa pasca bencana juga menjadi bahaya laten yang akan melanggengkan pernikahan usia anak di daerah bencana.

Saya yakin pemerintah pun sudah memiliki kajian mendalam perihal batas usia pernikahan yaitu pada umur 19 tahun, meskipun tetap ada permintaan dispensasi menikah di usia anak.

LDP sebenarnya bukan merupakan kegiatan yang sangat kompleks. Tujuan utamanya adalah mengembalikan kondisi individu kepada kondisi semula sebelum terjadinya bencana. Tapi, apabila asal-asalan juga akan ada dampak yang diberikan kepada anak kedepannya.

Saya sering menulis, dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan manusia. Salah satu hal terpenting yang perlu diatur adalah manajemen harapan. Jangan sampai justru menjebak kita atau orang-orang lain yang mau membantu indicidu tersebut di masa depan.

LDP yang diberikan untuk anak juga bukan tentang siapa yang paling dulu sampai, siapa yang paling keras bersuara, siapa yang memberikan hadiah paling banyak, dan/atau siapa yang paling banyak masuk media.

Ini tentang kesejahteraan anak, dan akan selalu seperti itu. Sampai kapanpun. Demi kepentingan terbaik untuk anak.

Dalam suka duka mereka. Terpaut suka duka kami. Dan sejahtera mereka, adalah cita-cita kami.

Hymne Almamater saya, Poltekesos Bandung

Penulis: radityobimo

a lifelong learner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.