Tahun untuk Menyerah

Awal tahun ini Indonesia diterjang bencana demi bencana. Ujung barat ke timur, selatan ke utara jadi semacam berlomba untuk mempertontonkan bencana yang terbaik. Baru beberapa waktu yang lalu tempat saya bekerja mengirimkan tim untuk menyalurkan bantuan kepada teman-teman yang terdampak gempa di Sulawesi Barat. Meskipun tidak ditugaskan untuk turun langsung, saya turut merancang detail perjalanan mereka, merancang teknis penyaluran dan juga merasakan seram melalui cerita tim yang turun karena di beberapa wilayah listrik padam. Membelah jalan melewati hutan-hutan di malam hari. Melihat bagaimana manusia akan selalu mencari cara untuk bertahan hidup, meskipun harus melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Kondisi bencana, memungkinkan semuanya menjadi benar.

Benar-benar memang kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda pemenuhannya, dan memang tugas pemerintah hadir untuk membantu masyarakat kembali dengan sebagian uang pajak dari mereka. Bukan sebagai bentuk belas kasihan, tapi karena memang bantuan tersebut adalah hak rakyat.

Tahun 2021 juga menjadi salah satu tahun yang akan panjang. Media online maupun cetak sudah sering melaporkan, angka kematian karena Covid-19 masih tinggi. Menembus rekor hari demi harinya. Tanpa menunjukkan tanda kapan untuk berhenti. Meskipun sudah ada usaha untuk membuatnya berhenti. Tapi, apa sudah terlambat?

Semoga saja tidak.

Meredefinisi Kematian

Banyaknya musibah atau bencana atau kemalangan-kemalangan yang hadir di Indonesia, membuat saya pribadi jadi memikirkan banyak hal sejak tahun lalu. Lebih banyak waktu di tempat kerja, lebih banyak waktu menghubungi keluarga, lebih banyak waktu untuk kehilangan, lebih banyak waktu untuk bicara ke diri sendiri.

Kematian menjadi bahasan sehari-hari. Kematian sudah merubah sifatnya sendiri, yang sebelumnya seperti hal yang tabu untuk dibicarakan. Sekarang menjadi bahasan rutin yang bertujuan mengingatkan akan pentingnya kehidupan dari setiap individunya.

Kematian menjadi jauh lebih dekat. Jauh lebih dekat, daripada yang pernah saya perkirakan sebelumnya. Lebih yang pernah kalian perkirakan juga saya yakin.

Banyaknya tantangan yang harus masing-masing kita hadapi itu juga yang membuat saya memilih untuk menyerah di tahun ini. Saya menyerah atas semua keras kepala saya sebelumnya. Saya menyerah atas semua keinginan yang tidak realistis, tapi selalu tersembunyi di balik kalimat, “saya pasti bisa”.

Saya pikir kita semua ini tidak punya cukup tenaga untuk menyukai semua orang, dan itu tidak apa-apa. Dengan berpikir seperti itu, justru apa yang saya lakukan menjadi berbeda dari kebiasaan saya sebelumnya. Saya jauh lebih banyak berteman dengan orang-orang baru. Saya lebih menahan diri untuk membenci atau memberikan pandangan negatif hanya berdasarkan informasi setengah-setengah yang saya terima. Apalagi kalau informasi itu hanya sebatas permukaan.

Tahun ini saya menyerah. Saya menyerah untuk mengusahakan bahwa apa yang saya kerjakan harus disukai orang banyak. Ketersinggungan itu sesuatu yang absolut. Tidak terhindarkan. Memahami hal tersebut, saya menjadi lebih bijak menyalurkan energi yang dipunya.

Saya menyerah untuk mengidolakan sosok. Hal seperti ini hanya menegasikan hal-hal buruk yang mungkin sosok tersebut lakukan. Bila sosok tersebut punya kesalahan di masa lalu, akan selalu saya maafkan. Saya mengidolakan sosok tersebut berarti saya juga harus mau menerima kesalahan-kesalahan di masa lalunya. Tapi, tidak ada apabila hal tersebut diulang kembali di masa ini. Menerima masa lalu itu sangat jauh berbeda dengan memaklumi kesalahan yang sama di masa sekarang.

Saya sadar banyak hal yang tidak bisa dilalui sendiri. Saya juga lebih sadar dan menghargai arti dari tiap nafas yang saya hirup dan hembuskan. Saya sadar tidak sempurna dan punya banyak kekurangan, dan saya menjadi sadar hidup itu akan selalu antara apa kata orang dan apa kata hati. Saya tahu kalau hidup berdasar apa kata orang, saya tidak akan sampai sejauh ini. Saya bangga dengan semua yang sudah saya tempuh dan lalui untuk sampai di tahap ini. Saya bangga dengan semua pencapaian saya di umur sekarang ini.

dan akan saya bagikan pencapaian ini dengan orang yang memang pantas untuk menikmatinya.

Penulis: radityobimo

a lifelong learner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.