Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering disebutnya. Maka dari itu target perubahan yang direncanakan bukan hanya kepada anak sebagai sasaran saja. Tapi, juga termasuk keluarga, komunitas yang lebih luas, atau faktor-faktor lingkungan lain yang menjalani interaksi dengan anak.

Saya juga sering berdiskusi dengan rekan sejawat terkait hal ini. Saya sampaikan bahwa belum ada banyak sosok yang bisa ditiru oleh anak di lingkungan disini. Komunitas terdekat mereka yang justru malah menjadi trigger utama perilaku penyebab masalah anak-anak. Tidak selalu secara sukarela anak-anak jatuh dalam lubang masalah. Bisa melalui intimidasi ataupun cara-cara persuasif dengan pemberian barang yang tidak bisa dijangkau anak-anak secara gratis, contohnya NAPZA. Apabila sudah menjadi sebuah kebutuhan, para bandar bisa dengan mudah masuk untuk mempengaruhi anak-anak. Menjadi pengguna, atau menjadi kurir.

Sekarang pertanyaannya kalau lingkungan sekitar anak belum mendukung, lalu bagaimana?

Ada anak yang menemukan role model mereka di televisi, tapi seringnya tayangan di televisi kurang relate dengan kebutuhan anak. Saat ada anak yang sudah menjadikan seorang sosok sebagai role modelnya, justru karena alasan tertentu role modelnya berbalik dari melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi role model pada awalnya. Role model hilang, anak jadi bingung.

Itulah beberapa dari kita belakangan ini. Kita ini dibuat sebagai seorang anak yang hanya dapat melihat sosok role model melalui televisi karena terbatasnya akses untuk menjangkau langsung. Lalu, saat kepercayaan sudah terbangun, yang terburuk terjadi. Harapan akan perubahan hilang.

Terlalu tinggi harapan, saat tidak tercapai kecewanya besar.

Terlalu rendah harapan, tidak ada penggerak dari perilaku yang akan dilakukan.

Kalau harapannya hilang bagaimana?

Saya belum tahu. Kalau kamu tahu, bantu saya cari harapan itu kembali.