Kategori
Refleksi

Surat Terbuka untuk Diri Sendiri

Dibacakan oleh orang baik di masa kebahagiaan sedang langka. Terima kasih, M.P.

Selamat sore, Bim. Aku menuliskan ini untukmu di sore hari. Terserah kapan kamu mau membacanya, seadanya waktu saja. Kerjaan sedang tidak padat. Terdampak Covid-19 mungkin. Atau lebih enak didengar kita sebut Corona saja ya Bim. Ada banyak hal yang berubah sejak wabah ini terjadi. Baik untuk diriku sendiri, maupun mungkin kamu juga.

Bim, aku banyak mengamati lini masa media sosial akhir-akhir ini. Portal berita online sudah menjadi bookmark wajib yang aku buka setiap pagi. Biasanya sih untuk mengetahui ada berita apa semalam. Lalu aku juga buka portal berita pada sore hari. Nah, kalau yang ini aku mau tahu sudah ada berapa banyak orang yang meninggal karena Corona. Ternyata sudah lebih dari seratus orang di hari kemarin.

Benar katamu, di saat begini. Nyawa orang tidak lebih pentingnya daripada data angka yang terus bertambah. Padahal aku juga tahu, pada bertambahnya 1 digit. Ada puluhan orang yang menangis. Tidak menyangka akan sampai begini ya. Kamu juga kan?

Tapi, Bim. Aku merasa ada yang kurang terperhatikan. Bagaimana ya para lanjut usia di tengah masyarakat. Bagaimana ya teman-teman disabilitas. Aku tahu sendiri kok, tidak sedikit dari mereka yang harus hidup sendirian di masyarakat. Semoga lingkungan mereka mau peka ya. Mau membantu. Semoga kemanusiaan itu masih akan tetap ada. 

Bim, aku juga melihat bagaimana orang-orang disekitarku. Mereka terlihat santai mengahadapi wabah ini. Roda perekonomian masih tetap berjalan. Masyarakat juga masih banyak yang keluar dari rumah. Yang berkumpul? juga ada mungkin. Tetapi, beberapa hari terakhir aparat gabungan sudah mulai menertibkan mereka. Sebuah tanda yang baik. Mereka optimis menghadapi ini. Aku sendiri masih belum, Bim. Semoga kamu tidak kecewa.

Bim, aku masih ingat kamu sering bilang kalau bahagia itu mahal. Sepertinya memang begitu ya, kenapa baru sekarang aku sadar ya? Aku sudah terlalu menerima begitu saja semua hal yang sekarang menjadi hal yang langka. Contohnya nih seperti bisa keluar nonton bioskop, makan di warung seafood langganan, atau sekedar duduk-duduk di pinggir pantai melihat orang lalu lalang dengan semua kesibukannya. Sekarang itu semua jadi hal yang mahal. Bisa dilakukan, tapi ya mahal. Ada harga yang harus dibayar. Padahal sebelumnya gratis-gratis saja kalau mau melakukan hal-hal tersebut.

Et, karena aku tahu kamu. Maksudnya gratis itu kita engga perlu khawatir berlebihan untuk keluar rumah. Bukan berarti aku engga bayar ya untuk nonton, makan, ataupun masuk ke area pantai wisata.

Bim, kalau tidak salah. Berarti benar ya? hehe. Katanya sudah ada edaran yang melarang kamu bisa mudik? Semangat ya, aku tahu kok kamu akan selalu merindukan rumah. Aku pikir rumah pun akan selalu merindukan kamu. Tapi, di saat seperti ini. Aku tahu kamu akan mengikuti himbauan itu. Demi kebaikan semuanya. Aku tahu kamu. Kamu tidak akan mau membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Apalagi, kalau tiba-tiba kamu bawa penyakit kan.

Apalagi dengan kebijakan yang mengatakan darurat sipil. Aku sih belum tahu itu apa. Tapi, sepertinya sesuatu hal yang penting ya? karena banyak penolakan dari teman-temanku juga. Tahu sendiri, di lingkunganku banyak aktivis. Mereka orang baik kok, dan aku yakin mereka juga memperjuangkan hak-hak dari teman-teman yang lain.

Bim, aku juga buat sesuatu sebuah karya lo. Entah apa sebutannya ya? sajak? atau spoken words? Apapun itu. Ini banyak menggambarkan perasaanku saat ini. Judulnya aku beri nama di waktu krisis.

di waktu krisis
sayang sekali banyak waktu yang habis
senang diawal, lalu diakhir jatuh dan menangis
padahal kita tahu, ini semua bisa ditangkis

Jadi gimana, Bim? bagus engga?

Bagus atau engganya. Aku tahu kok kamu akan tetap menghargainya. Terima kasih, Bim.

Bye, Bimo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.