Kemungkinan Idul Adha

Dikirim oleh seorang teman

Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi. Dipilih atau tidak dipilih dengan berbagai macam latar belakang dan pertimbangannya.

Saya tidak pernah tahu pilihan yang saya ambil akan mengantarkan ke posisi saat ini, begitu juga dengan kalian. Kita ini, manusia hanya ahli merencanakan. Tapi, saat kita merencanakan mungkin saja Tuhan tertawa. Terlalu banyak perencanaan yang mendetail dan kadang tidak penting untuk dilakukan. Tentunya penting atau tidaknya akan menjadi subjektifitas setiap pelakunya. Bisa saja saya mengatakan bahwa bangun di pagi hari dan mengusap kepala pasangan adalah hal yang sangat penting. Tapi, belum tentu bagi orang akan seperti itu.

Pilihan-pilihan yang berani diambil itu tidak bisa dihitung dengan kode biner. Benar atau salah. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain di luar benar dan salah tersebut. Selalu ada abu-abu yang siap memfasilitasi keraguan manusia akan kebenaran dan kesalahan dari suatu peristiwa.

Andai saja saya tidak kuliah di Bandung mungkin saya tidak akan ada di Lombok. Andai saja saya mengambil pekerjaan yang nyata ada saat itu, mungkin saya tidak akan ada di pekerjaan yang sekarang. Andai saja saya tidak berangkat pada kegiatan itu, mungkin saja saya tidak berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan lainnya.

Terlalu banyak variabel yang termasuk di dalamnya. Terlalu angkuh juga kalau saya sampai merasa itu semua hanya kebetulan. Kalau memang nyatanya itu adalah kebetulan, saya akan selalu merayakan kebetulan tersebut. Baik maupun buruknya; senang maupun sedihnya; ada dan ketidakhadirannya.

Saya tidak mau menjadi benar ataupun menjadi salah. Terlalu lelah sepertinya kalau perjalanan setiap hari dipenuhi dengan hal seperti itu. Pembuktian bahwa hitam adalah hitam, dan putih adalah putih. Tidak apa biar orang lain yang mendebatkannya. Saya akan tetap menjadi abu yang kehitaman, dan putih yang keabuan.

Ciri yang diasosiasikan dengan diri kita yang terbentuk juga adalah hasil dari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak pernah kita aminkan. Naif, bodoh, baik, pintar, pemberani, pendiam, dan banyak ciri lainnya hanya konsep yang diasosiasikan dengan manusia. Belum tentu benar. Belum tentu diaminkan.

Pada ujungnya kemungkinan-kemungkinan yang pernah terlewatkan akan menjadi kemungkinan baru bagi subjek lainnya. Kebersamaan yang tidak terjadi adalah penyatuan bagi orang lainnya. Ketidakhadiran yang kosong akan menjadi keadaan yang penuh bagi yang lain. Kepulangan yang gagal adalah kebersamaan yang sukses bagi orang lain. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan. Tidak hitam dan tidak putih. Mungkin saja tidak abu-abu. Kemungkinan itu bisa ungu berbalut polkadot.

Kemungkinan saya memang banyak. Tapi, sepertinya saya tahu apa yang saya inginkan dan usahakan dengan kemungkinan-kemungkinan yang telah dan akan terjadi.

Nantinya saya akan pulang ke rumah. Lalu anak pertama saya akan menghampiri saya seraya berkata, “Pa, mau dibantu kerjain PR”. Sementara ibunya sedang menyiapkan makan malam.

Disitu saya akan tahu. Semua kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi adalah tidak hanya hitam dan putih. Seperti kata saya di awal, saya akan selalu menjadi abu.

Selamat Idul Adha teman-teman. Semoga kalian merasakan kehangatan dari orang-orang yang kalian sayangi, juga orang-orang yang menyayangi kalian.

Tinggalkan sebuah Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.