Kategori
Cerita Pendek

Sua;Sua

*tuk tuk tuk*

Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai, tapi kembali dihapus berulang-ulang. Dia ragu kali ini. Ragu untuk bertemu dengan emosi lainnya yang sudah lama tidak dirasakannya.

****

Rutinitas bukan untuk semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup melakukan kegiatan-kegiatan yang sama setiap harinya, tanpa adanya variasi. Apabila ada variasi mungkin hanya menu makan malam saja, apa di pedagang kaki lima atau di restoran dengan menu kikil mercon favoritnya. Menggunakan jaket jeans favoritnya ataupun membiarkan angin menabrak tubuhnya. Lewat perempatan belok kanan atau jalan lurus, demi bisa melalui jalan yang sering dilalui bersama dulunya. Variasi-variasi kecil yang sebenarnya tidak akan berpengaruh pada hasil akhirnya. Tapi dilakukan. Ego mencoba percaya kepada efek kupu-kupu; Kepakan sayap kupu-kupu di Brazil yang beberapa orang percaya dapat membuat tornado terjadi di Texas. Random kan? Justru itu yang Ego cari, agar tidak terjebak di kehidupan yang bisa tertebak hari-harinya.

Otomatisasi menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dipisahkan dari Ego akhir-akhir ini. Pekerjaan yang terlalu padat menjadi salah satu faktor penyebabnya. Sebenarnya pekerjaannya hanya bagian kecil yang membuat Ego memasuki zona serba otomatis. Ada faktor lainnya. Tapi, Ego tidak pernah mau terbuka akan hal itu. Terlalu banyak tenaga yang dikeluarkan untuk membahasanya, katanya. Padahal, teman-teman terdekatnya sudah tahu. Ego tidak mau membahasnya karena dia masih belum bisa lari dari malam itu. Ego belum mau memahami. Katakanlah meskipun Dia sudah memahami, dia masih belum bisa menerima.

Ego sudah terbiasa sendiri. Kesendiriannya juga yang membuat hidupnya serba otomatis. Dia terlalu memahami dirinya. Terlalu paham, sampai tidak menyisakan ruang untuk menemukan kembali; atau justru ingin ditemukan kembali. Hal ini juga yang membuat Ego menjadi seperti sekarang. Terlalu banyak emosi dirinya yang dia temukan dalam waktu sekejap. Otaknya belum selesai memprosesnya. Tetapi pemicunya sudah pergi lagi. Meninggalkan Ego dengan segala sensasinya yang sampai detik ini pun masih sering dirasakan di waktu-waktu tertentu. Tentunya bukan sensasi yang menyenangkan. Justru kebalikannya. Ego seperti diajari untuk bernafas dalam air, kemudian dibiarkan untuk tenggelam.

“Pertemuan tidak pernah menyenangkan. Semua pertemuan tidak akan pernah menyenangkan. Pertemuan itu membuka pintu akan kepedulian. Pertemuan itu akan selalu diakhiri dengan perpisahan. Langsung. Maupun tidak langsung.” Gumam Ego dalam pikiranya.

Ego tidak mau bertemu dengan emosi-emosinya yang lain. Setidaknya untuk saat ini. Dia tidak mau tiba-tiba sesak nafas seperti kemarin. Ego tidak mau berkonsultasi dengan Psikolog kembali. Ego ingin kembali menjadi robot dengan semua rutinitasnya yang tidak menyenangkan. Tetapi, sepertinya Dia tahu bukan itu kebutuhan Ego sebenarnya.

Ego tahu siapa dirinya. Tapi dia belum mau membiarkan orang lain untuk mengetahui tentang dirinya. Ketika ditanya sampai kapan. Selalu dijawabnya.

“Sampai nanti sudah bisa menghitung lama waktu tempuh jalan kaki dari Bumi ke Bulan.”

Ego memang tidak akan pernah bisa melupakan. Tapi yang bisa dia lakukan, adalah menunda reaksinya.

****

Pada akhirnya kalimat di gawai selesai diketiknya.

“Sudah dikirim?”

“Belum. Untuk apa ya?”

“Untuk kebaikannya, kan?”

“Iya, selalu untuk kebaikannya. Sampai kapan pun.”

“Sampai kapan pun? Kamu tetap egois ya.”

“Hahaha, kan itu juga bagian namaku.”

Tulisan ini diinisiasi bersama Aditami. Tidak sengaja bertemu melalui sebuah podcast. Kemudian menantang diri sendiri untuk menulis tentang pertemuan. Tulisan ini saya kembangkan setelah mendapat draf awal tulisan Aditami. Aditami bisa ditemukan di aditami.wordpress.com dan instagram @bahas.asa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.