Menormalkan Kematian bagi Anak

Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies. Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama dan juga Kementerian Kesehatan.

Dunia memasuki tatanan normal baru. Indonesia juga termasuk di dalamnya. Banyak yang harus dipaksa berubah. Seperti biasanya juga, perubahan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi perubahan yang harus dipahami dan dijalankan oleh anak-anak.

Anak dalam masa perkembangannya belajar mengenai konsep sakit dan kematian. Saat masuk usia sekolah, setidaknya anak-anak sudah memahami konsep-konsep tersebut. Anak akan tahu saat seorang manusia sakit salah satu ujung akhirnya adalah kematian. Beberapa anak belajar hal ini lebih cepat dari yang lainnya.

Grief yang dialami anak bisa digambar dalam dua sisi.

Pertama, anak tidak terlalu berduka; karena masih belum paham dengan konsep kematian dan duka.

Kedua, anak menjadi yang paling terdampak. Ditunjukkan dengan kebingungan dan kecemasan akan keselamatan diri juga masa depannya.

Tapi, apa iya anak memikirkan tentang kematian?

Kastenbaum dalam bukunya “Death, Society, and Human Experience” menuliskan bahwa anak-anak ternyata memikirkan tentang kematian. Tapi hanya sebatas adanya pemisahan dan kehilangan. Belum memikirkan mengenai kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan pasti terjadi.

Lebih mudahnya, kita dapat melihat gambar berikut. Menggambarkan tentang hubungan antara perkembangan kognitif anak dan juga pemahaman mereka tentang kematian.

Tabel tersebut dapat digunakan sebagai pemberi gambaran awal tentang pemahaman anak akan kematian sesuai umurnya. Tapi harus selalu diingat, tabel tersebut tidak dapat disamakan akan terjadi kepada seluruh anak. Perkembangan anak adalah sesuatu hal yang sangat bervariasi tergantung pada keunikan pengalaman hidup anak itu sendiri. Berarti masa pandemi ini, juga menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi perkembangan anak.

Anak-anak mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi pada saat ini. Orangtua dan lingkungan mungkin juga malas atau kurang tahu juga untuk memberikan edukasi tentang Covid-19. Sampai ada anggota keluarga yang meninggal, dan anak ditinggalkan dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Kita juga perlu sadar, bahwa pembiaran dapat berkembang menjadi awal mula hadirnya masalah dan sepertinya itu hal yang jahat, bukan?

Perbedaan Pengalaman

Berbedanya pengalaman masing-masing anak memahami kematian, akan berujung berbeda juga desain solusi yang dikerjakan. Masa pandemi ini membuat anak-anak kehilangan anggota keluarganya. Sepertinya sudah tidak perlu saya tampilkan lagi berita-berita yang menyebutkan hal tersebut. Saya tidak pernah ingin menormalisasi penambahan angka kematian di data statistik harian Covid-19. Media sosial yang dimiliki Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun sering menyampaikan kabar duka meninggalnya tenaga medis dokter di beberapa wilayah di Indonesia. Dibalik rilis tersebut, kemungkinan besar ada anak-anak yang kehilangan orangtua mereka. Itu salah satu contoh saja. Saya yakin lebih banyak data anak kehilangan anggota keluarganya di lapangan, tapi tidak terpublikasi.

Untuk memahami anak dalam memahami tentang kematian dan duka yang melindunginya; asesmen akan menjadi kunci. Beberapa hal yang setidaknya perlu didalami melalui asesmen adalah sebagai berikut:

  • faktor individual, seperti pengalaman masa lalu anak akan grief dan kehilangan yang lain; tentunya akan mempengaruhi pemahaman anak terhadap kematian
  • faktor yang berkaitan dengan kematian, seperti apakah kematian terjadi tiba-tiba seperti saat masa pandemi Covid ini; apakah anak melihat saat keluarga meninggal; apakah ada stigma yang muncul dari penyebab kematiannya, dan berbagai hal lainnya
  • faktor-faktor lainnya di sekitar anak (lingkungan sosial, keluarga, agama, budaya, dan lainnya)

Saya pikir setiap kematian anggota keluarga akan menyebabkan krisis. Apalagi saat waktunya tiba-tiba atau juga ditambah penyebab kematian yang tidak biasa; seperti overdosis NAPZA, AIDS, atau pada saat ini adalah Covid-19. Kematian yang terjadi pada anggota keluarga pada saat pandemi ini menciptakan kepercayaan akan adanya ketidakadilan.

Kematian anggota keluarga dapat meningkatakan kerentanan anak. Anak dapat merasa takut bahwa dirinya juga bisa meninggal. Sebaliknya, anak yang tidak merasa takut juga menjadi sebuah masalah di masa pandemi. Perlu dijaga sebaik-baiknya untuk menyeimbangkan kewaspadaan anak agar berada di titik yang seimbang, tapi tidak terlalu jauh agar tidak menimbulkan ketakutan yang kurang berdasar.

Perlu selalu untuk diingat kita dapat melindungi diri dan anak-anak kita sebaik mungkin. Tapi, selalu saja ada kesempatan kita semua tertular Covid-19. Apalagi anak-anak, yang belum terlalu aware dengan situasi yang ada. Jadi apa pembukaan sekolah merupakan keputusan yang tepat? Saya yakin teman-teman di Kementerian Pendidikan sudah memikirkannya dengan baik, kalau menurut anda sendiri bagaimana?

Perbedaan yang perlu dipelajari

Ada perbedaan antara grief yang dialami oleh anak dan oleh orang dewasa. Perlu kiranya memberikan pemahanan kepada keluarga yang sedang berduka tentang perbedaan ini. Anak punya waktu sedih yang lebih pendek daripada orang dewasa. Jadi tidak bisa disalahkan saat anak ingin bermain atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya di masa berduka. Bahkan, jauh lebih baik saat anak bisa kembali ke rutinitas biasanya secepat mungkin. Maka dari itu beberapa literatur menyebutkan pendekatan terapi bermain menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat diambil. Membantu anak mengekspresikan perasaannya dengan media yang tepat. Membantu anak menguraikan kebingungan akan kematian yang terjadi.

Anak akan selalu mengininkan orang-orang yang menjaganya akan ada dan terus mencintai mereka selamanya. Kematian yang terjadi, salah satunya karen Covid-19; dapat membuat anak merasa ditelantarkan. Prosedur pemakanan yang tidak memperbolehkan keluarga untuk mendekat juga menjadi faktor yang menyebabkan pengalaman anak memaknai kematian dengan berbeda.

Teori perkembangan juga menyebutkan kalau orangtua mempunyai peranan vital dalam membantu anak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Salah satunya yaitu membantu anak menemukan identitas dirinya sendiri. Sebenarnya, anak dapat juga mendapatkan bantuan menemukan identitasnya dari lingkungan pertemanan di luar keluarga. Tapi, saya rasa keluarga dan orangtua akan menjadi tempat terbaik untuk pengasuhan anak. Selama keluarga mampu, dan keluarga harus mampu. Apabila belum, harus dimampukan.

Memang inilah tatanan normal baru yang harus kita hadapi. Tapi, semoga bukan berarti kita menormalisasi angka kematian yang timbul akibat Covid-19. Bagaimanapun, anak-anak tetap harus dijaga sebaik mungkin. Mereka yang akan menggantikan kita semua di masa depan, dan pandemi ini sudah menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk dilewati. Generasi tangguh mungkin akan jadi jargon mereka suatu saat nanti.

Jadi, kita harus bisa menjaga kepercayaan dan harapan mereka kepada kita (orang dewasa) pada saat ini. Terlalu tinggi harapannya, akan jadi beban di pundak kita semua. Terlalu rendah harapannya, anak akan kehilangan motivasi untuk melangkah ke masa depan.

Membantu mereka selamat melalui pandemi adalah tugas kita bukan?

Tinggalkan sebuah Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.