Kategori
Cerita Pendek

Orang Baik

Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama – sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya. Kita diminta untuk harus memahami bahwa ada skenario terbaik yang sudah dituliskan oleh Yang Maha Mengetahui akan perjalan kita. Prosesnya tidak akan mudah. Penuh batu terjal dan juga karang yang tajam. Belum lagi angin dingin yang membuat sesak nafas apabila terjebak di dalamnya.

Percakapan malam itu sama seperti pelatuk sebuah senjata revolver berpeluru tujuh. Tidak banyak amunisinya, tetapi saat digunakan dampaknya cukup besar. Peluru tersebut mengantarkan kembali ingatan kepada keputusan beberapa waktu lalu. Keputusan yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi oleh semua pihak. Keputusan sepihak, tapi akhirnya menjadi kebaikan semua pihak. Mungkin. Tapi, dilihat dari hasil keluarannya. Memang jadi yang terbaik untuk semuanya pada akhirnya.

Perpisahan itu tidak pernah menyenangkan. Sebaik dan sesering apapun gladi resik yang dilakukan. Serapi apapun skenario yang sudah disusun dengan melakukan reading berulang. Perpisahan tetap tidak sesederhana itu. Pementasan pun dimulai. Semua babak pun selesai ditampilkan. Tetapi, di akhirnya tidak ada tepuk tangan dari penonton. Kita sering lupa kalau sebuah hubungan itu adalah ranah privat. Bukan untuk menjadi penilaian orang lain. Tapi, selalu untuk menjadi elegi untuk diri sendiri.

Aku mahfum kalau skenario ini tidak hanya hitam dan putih saja. Tapi, itu kepercayaan fana. Sebenarnya kita sama – sama tahu kalau variabelnya terlalu berbeda untuk disederhanakan. Meskipun akhirnya jawaban yang akan terucap adalah sebatas “iya” dan “tidak” lalu diikuti tarikan nafas dan tersempil kata “maaf”. Apapun hasilnya kita semua akan sama – sama merasa bersyukur karena dipernahkan untuk bertemu.

“Mana mungkin bulan dan matahari bersatu”, katamu seraya mengalihkan pandangan. Memang. Mereka berdua tidak akan pernah bertemu. Tapi, kamu lupa. Mereka tidak pernah pergi dari Bumi. Saat yang satu menerangi dengan teriknya, yang satu menyapa dengan kelembutannya. Aku juga protes. Aku tidak mau menjadi Matahari ataupun Bulan. Aku Bintang saja. Meskipun tidak terlihat saat tertentu. Bintang selalu ada dengan redupnya. Membawa keseimbangan saat nantinya cahaya dari Matahari dan Bulan sedang tidak pada tempatnya. Tidak seterang mereka, tapi mengintip dari kejauhan dan bisa dilihat hanya oleh mereka yang benar-benar ingin mengetahui.

Kamu orang baik. Selalu akan seperti itu. Tidak akan berubah apapun yang terjadi pada akhirnya. Menyenangkan rasanya apabila bisa mencintai dan dicintai oleh orang baik. Meskipun kita juga harus memiliki kesadaran yang berlipat ganda. Orang baik artinya kita harus paham bahwa kebaikannya bukan untuk dimonopoli. Kebaikannya akan selalu dibagikan dengan siapa – siapa yang membutuhkan. Apapun perannya nanti. Kebaikanmu akan selalu ditunggu oleh mereka – mereka yang memang membutuhkanmu. Entah sebagai seorang istri, seorang anak, seorang ibu, tetangga, guru, penyemangat, ataupun sebagai seorang sahabat. Aku yakin kamu akan selalu baik di semua peranmu yang akan kamu jalankan nanti.

Kamu orang baik. Maka aku juga percaya di hatimu tidak pernah hanya tentang seseorang. Kamu menyediakan ruang – ruang kosong untuk orang lain yang kamu kasihi. Kamu membagikan waktumu untuk orang – orang yang membutuhkan kamu. Kamu tahu tidak akan bisa membantu semua orang yang membutuhkan kamu. Tapi, setidaknya kamu memastikan mereka tidak akan menghadapi semuanya sendirian.

Kamu orang baik. Kamu lilin yang selalu membakar dirinya untuk menerangi orang lain. Bisa saja suatu saat sumbu kamu habis. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari lilin lain agar mampu membagi tugas menerangi. Sumbu kamu akan tetap habis. Tapi untuk waktu yang jauh lebih lama lagi. Menyenangkannya. Kamu akan sadar Kamu tidak perlu membakar dirimu sendiri untuk membuat orang lain merasa hangat dan terang. Kamu nanti akan sadar saat bertemu lilin yang tepat. Bahwa tidak apa-apa sumbu bekurang. Asal selama perjalanan terbakarnya kamu menari dengan api lilin lain di dalam kegelapan itu. Tarian indah yang membuat kamu merasa bahwa kesepian itu hanyalah sesuatu yang fana dan telah kamu tinggal di masa lalu. Kamu akan mengatakan, “aku mau menghabiskan lilinku, asalkan dengan kamu.”

Kamu orang baik. Maka dari itu aku sadar. Kalau mencintai orang baik itu tidak sesederhana menunggu bis di halte transjakarta. Sejak detik pertama ingin mencintai orang baik, aku sadar kalau harus berlari terlebih dahulu kemudian naik angkot untuk sampai tujuan. Perjalanannya akan panas dan melelahkan. Tapi aku yakin semuanya akan terbayarkan kala kamu kembali dicintai oleh orang baik. Sampai batas waktu dimana manusia tidak akan berani menentukan. Hanya bisa percaya saat kita menjatuhkan badan, maka dirinya akan mampu menangkapnya.

Jadi, selamat panjang umur kebaikan. Kita akan bermain truth or dare. Lalu saat kamu memilih dare, aku akan minta kamu untuk selalu bahagia sepanjang usiamu.

*ditulis sambil mendengarkan When You Say Nothing At All.

9 replies on “Orang Baik”

demanding untuk kebahagiaan dirinya sendiri, sepertinya dipermaklumkan ya mbak di negeri ini. sama saja menaruh ekspektasi dengan dare itu, dan engga tahu akan bagaimana hasilnya sampai semuanya sudah terlewati :))

Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.