Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit

Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu – tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan bantuan pernafasan. Nafi koma. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke mobil yang sedang kencang melaju di Jalan Cakranegara di sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia itu.

Nafi sendirian dalam perawatan. Orangtuanya tidak pernah tahu. Teman-temannya juga sudah jauh. Orang-orang kesayangan Nafi diperkirakan sudah tidak hadir dan juga tidak terlibat sejak lama dalam kehidupannya. Salah satu indikasinya adalah tidak adanya yang melaporkan anggota keluarga atau temannya yang hilang. Para tenaga medis yang ada di rumah sakit itu juga tidak tahu harus menghubungi siapa. Nafi ditemukan dan dibawa ke ruang IGD pada Sabtu malam lima bulan yang lalu. Tanpa ada petunjuk apapun yang menempel di badannya. Namanya pun diketahui pada saat di IGD dirinya sempat menyebut “Nafi..Nafi”. Entah nama siapa. Tapi nama tersebut dijadikan identitas awal pasien ini. Hanya ada dirinya sendiri. Juga kesadaran yang masih diperjuangkan oleh para tenaga medis.

Pada saat di rumah sakit. Ada seorang perawat yang ditugaskan untuk memonitor kondisi kesehatan Nafi. Jadi, setiap pagi perawat tersebut berjalan ke pojok lorong ruang perawatan. Tempat Nafi dirawat. Perawat tersebut terus melakukannya selama tiga bulan awal Nafi ada di ruangan itu. Harus mengikuti tugas katanya. Hatinya hancur setiap memasuki kamar Nafi. Perawat itu tidak bisa membayangkan rasanya menjadi sendirian. Rasanya berteman dengan kesunyian. Ia tidak tega apabila suatu saat Nafi bangun, tetapi tidak ada orang lain di sekitarnya. Terjaga sampai larut malam sudah menyedihkan. Apalagi ini terbangun dari koma beberapa bulan tanpa ada siapapun yang mencari dan mendampingi.

Perawat tersebut menceritakan hal yang dirasakannya kepada koordinator di ruangannya bekerja. Koordinator itu kemudan mengambil keputusan untuk memindahkan si perawat ke ruangan lain. Hal ini dilakukannya agar pekerjaan perawat tersebut tidak terganggu. Sulit bekerja dalam konsentrasi apabila masih sering menangis dalam sehariannya. Perawat itu pun dipindah ke ruangan yang berada tidak jauh dari ruangan sebelumnya. Ia sudah tidak memiliki kewajiban untuk memonitor perkembangan Nafi.

Tetapi rasa ibanya masih tetap ada. Hal ini juga yang membuatnya tetap datang ke kamar Nafi setiap shift kerjanya selesai. Sekadar menutup jendela kamarnya dan merapikan tempat tidurnya. Hal itu ia lakukan secara rutin. Bahkan saat dia tidak memiliki jadwal kerja. Perawat tersebut tetap datang ke rumah sakit. Hanya untuk menengok Nafi.

“Kamu ini ya. Sudah dibilangi engga usah kesini. Masih aja bebal. Ada apa memangnya?”, tanya Koordinator ruangan tersebut kepada si perawat.

“Engga apa-apa bu.”

“Dia keluarga kamu?”

“Bukan bu.”

“Lalu kenapa sampai seperti ini kamunya?”

“Saya tidak tahu bu. Sepertinya dia butuh saya”

“Engga masuk akal kamu ini. Yasudah lakukan sesukamu. Jangan sampai menganggu pasien lainnya.”

Perawat itu pun menuju ke kamar Nafi dirawat kembali. Ia menutup jendela kamar dan juga kembali merapikan tempat tidur dimana Nafi telah tirah baring lima bukan belakangan ini. Malam itu sedikit berbeda. Perawat tersebut ingin mengobrol dengan Nafi. Meskipun hanya satu arah. Tapi, perawat tersebut percaya kalau Nafi akan selalu mendengarkan dalam keterbatasannya.

“Nafi. Bagaimana kabarmu hari ini? Sepertinya sudah lama ya tidak ada orang yang menanyakan kabarmu. Aku tahu bagaimana rasanya saat tidak ada yang mencari. Saat tidak ada yang membutuhkan. Tapi, kali ini sepertinya kamu yang jauh lebih membutuhkan. Aku tidak tahu sebenarnya apa aku kamu butuhkan. Tapi, aku hanya ingin ada untuk Nafi. Aku tidak rela melihat siapa pun sendirian di rumah sakit ini.”, kata perawat tersebut sembari duduk di sebuah kursi di pinggir kasur Nafi.

“Aku mahfum kesepian yang kamu hadapi. Kamu mungkin merasa menjadi orang paling sial di seluruh dunia. Mungkin hal itu ada benarnya. Tapi, selalu ada kemungkinan hal itu salah. Buktinya. Aku ada disini. Meskipun ya seperti kataku tadi. Kamu mungkin tidak butuh aku.”

“Nafi, kamu tahu? Aku selalu membayangkan bahwa pasien – pasien yang sedang koma itu diberikan kelebihan. Mereka diberi waktu banyak untuk bisa hidup dalam mimpinya. Mimpi adalah oase terakhir bagi mereka yang sedang ada dalam ketidakpastian. Kamu juga pasti sedang sering bermimpi kan? Semoga mimpi kamu selalu baik ya.”

“Nafi saat kamu terbangun nanti. Kamu harus lakukan apapun hal yang mau kamu lakukan. Kamu harus mengejar bahagia menurut versimu apapun yang terjadi. Terlalu sedikit waktu untuk mengusahakan sesuatu yang tidak membuatmu bahagia. Bagaimanapun akhirnya nanti. Ingat ya, selalu lakukan apapun yang membuat kamu bahagia. Apapun.”

Percakapan satu arah itu berakhir dengan air mata yang juga turun dari perawat itu. Air mata yang menanggung banyak beban. Air mata yang dimiliki oleh sang penyelamat yang terkadang juga butuh untuk ditolong. Perawat tersebut sedang tidak baik – baik saja. Begitu pun Nafi. Tapi mereka berdua sepertinya sama – sama tahu kalau tidak apa-apa untuk tidak baik – baik saja.

***

Keesokan harinya di waktu Subuh Nafi terbangun. Benar seperti dugaan perawat itu. Nafi bisa mendengar apa yang disampaikan orang – orang disekitarnya. Nafi mendengar jangka waktu hidupnya yang ditentukan oleh seorang dokter. Dia mendengar petugas kebersihan yang harus membersihkan kotorannya setiap hari. Dia juga mendengar bagaimana keluarga pasien kamar sebelahnya mencari berbagai cara untuk membayar biaya perawatan keluarganya.

Dengan semua kekuatan terakhirnya. Nafi pun menaikkan tangannya yang biasanya ada di sebelah badannya ke atas. Sekali tarik. Bantuan pernafasan yang selama ini menunjang hidupnya selama lima bulan pun lepas. Nafi menjadi sulit bernafas. Tapi dia rasakan sensasinya.

Nafi mendengar perawat itu. Nafi ingin bahagia. Tapi, kebahagiaan Nafi hanya bisa ia rasakan di dalam mimpinya. Ia hanya bisa bertemu dan menjaga orang yang disayangnya di dalam mimpinya.

Nafi tidak mau terbangun lagi dari mimpinya. Ia ingin hidup selamanya di dalam mimpinya bersama orang yang disayangnya. Kali ini dia akan tidur lagi. Tapi bukan untuk kembali bangun.

***

Koordinator ruangan mengabarkan kepada perawat itu bahwa Nafi memilih mengakhiri hidupnya. Perawat itu menangis . Tetapi ia senang. Setidaknya Nafi sudah memilih cara bahagianya sendiri. Abadi dalam mimpi.

Tinggalkan sebuah Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.