Kategori
Cerita Pendek

Anakku, ini Untukmu Kelak

diambil di Borobudur, 2020

Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, “Mau temani ayah sekali-kali”. Khas dengan suaramu yang masih cempreng. Permintaanmu itu yang membuat aku harus melakukan tawaran bak ahli negosiasi di bursa saham kepada ibumu. Kita sama-sama tahu kalau kamu terlewat jam tidur. Besoknya kamu akan bangun kesiangan. Sedangkan, kamu harus sekolah juga. Tapi, ibumu mengizinkan. Sekali-kali katanya.

Kamu menemaniku dalam diam. Kamu tahu aku suka bekerja tanpa diganggu. Kamu mencoba menyibukkan diri dengan membaca berulang – ulang buku cerita anak favoritmu. Sesekali kamu tanyakan kepada aku apa arti kata yang baru saja kamu eja. Aku jawab sebisaku didampingi dengan senyuman terbaikku. Jam mulai bergerak maju dan gejala kantukmu mulai tiba. Berkali – kali aku tawarkan untuk kamu pindah ke tempat tidur dengan ibumu. Berkali – kali pula kamu menjawab dengan nada tinggi, “Engga mau. Aku masih mau disini”. 

Tapi, akhirnya kamu tidur juga. Sesegera mungkin aku pindahkan badanmu yang masih setengah tinggi badanku itu ke tempat tidurmu. Selimut kesayanganmu tidak lupa ku taruh di atas tubuhmu. Lalu, tanpa sadar kamu menarik selimut itu kemudian kau peluk. Seakan besok selimut itu akan hilang dan tempat produksinya akan digusur tanpa sebab. Aku bisa membayangkan betapa hancurnya hatimu saat hal itu benar-benar terjadi.

Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk selalu hadir dan terlibat dalam masa tumbuh kembangmu nanti. Aku memang suka bekerja. Tapi, kamu dan ibumu tetap yang utama.

Aku yakin kamu nanti akan banyak bertanya. Aku pun dulu demikian. Tapi, aku pastikan. Aku akan ada untuk menjawab semua pertanyaanmu. Tanya ibumu, dia tahu bagaimana aku suka bertanya dan suka menjawab pertanyaan. Seakan itu pekerjaanku sehari-hari. Kamu tidak perlu khawatir saat nanti dihadapkan dengan kondisi yang menguji nilai kamu. Kamu pasti akan bertanya, “Kenapa ada orang yang bisa jahat ke orang lain”. Aku pun akan menjawab, “Karena kalau tidak ada orang jahat, orang baiknya nanti engga keliatan”. Klise memang. Kamu akan paham bagaimana dunia akan membesar-besarkan keburukan tapi kurang menghargai kebaikan. Tapi karena usiamu, kamu hanya akan mengangguk-ngangguk menandakan persetujuan atau justru malah kebingungan.

Aku yakin akan menjadi sumber tertawa di keluarga. Aku akan keluarkan bercandaan receh yang ibumu mungkin sudah bosan mendengarnya. Kamu akan senang karena baru pertama kali. Kemudian cerita lucu itu akan kamu ceritakan kembali ke teman-teman kamu lainnya. Mereka tertawa dan kamu akan mendapatkan kredit sosial dari mereka. Kamu akan sering diasosiasikan sebagai si pembuat bahagia. Seseorang yang berteman erat dengan humor.

Tapi, nak. Aku juga mau kamu menghargai emosi kamu yang lainnya. Aku tidak akan pernah rela saat kamu hanya dinilai sebagai sang maha lucu. Seakan hidup kamu selalu bahagia dan menyenangkan. Aku tahu di suatu saat nanti ada tugas-tugas perkembangan seorang ayah yang akan aku gagal lakukan. Kamu akan sedih karena itu. Kamu harus jujur ya dengan kesedihan kamu. Jangan tutupi dengan humor. Aku tahu kadang orang paling sering tertawa, adalah orang yang paling sedih. Kamu tidak mau orang lain merasakan kesedihan yang kamu rasa. Jadi, kamu berusaha sekuat tenaga membahagiakan orang lain.

Jangan ya. Sedih ataupun senang. Aku akan tetap jadi ayahmu yang akan selalu membanggakanmu di depan teman – teman bermain tenisku.

Aku akan membangunkanmu sebuah ruangan di salah satu sudut rumah. Ruangan yang dari dalamnya kamu bisa melihat langit dengan jelas. Kamu bisa melihat bulan cerah saat supermoon. Kita akan melihat berbagai rasi bintang yang kenyataanya tidak sama dengan sebutannya. Kamu akan kecewa. Tapi, aku akan ada disampingmu saat itu. Saat hujan turun kamu bisa melihat dengan jelas butiran air hujan yang jatuh ke bumi. Aku ingin kamu bisa ikut mensyukuri. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang patut dirayakan. Kamu juga adalah bagian dari kebahagiaan yang selalu akan aku dan ibumu rayakan.

Aku akan selalu menyiapkan telinga saat nanti kamu beranjak lebih dewasa. Saat kamu tidak yakin dengan sesuatu yang ada di dadamu. Kamu mulai mengenal perasaan. Kamu mulai tertarik dengan orang lain. Saat itu kamu akan menyadari kalau kebahagiaan orang lain ternyata membuat dirimu juga bahagia. Aku akan membantumu memahami perasaan itu. Aku juga akan membantumu saat patah hatimu yang pertama kali. Kamu pasti akan merasakannya. Tapi, kamu tidak akan sendirian menghadapinya. Tenang gini – gini. Aku juga punya pengalaman banyak tentang hubungan. Intinya adalah saat kamu patah hati. Kamu tinggal menentukan apa yang lebih penting. Sakitnya atau orangnya? Aku yakin kamu akan memilih orangnya. Doakan yang terbaik umtuk dirinya, agar menjadi doa yang baik juga untuk kamu.

*P.S. Aku tidak akan menceritakan ke ibumu.

Kita juga akan sering bekerja sama untuk menganggu ibumu nanti. Saat ulang tahunnya nanti kita buat ibumu marah dulu dari pagi, sebelum sore harinya kita buat ibumu terharu. Kita tunjukkan bahwa ibumu tidak salah memilih pasangan. Tidak salah juga melahirkan kamu. Kita bantu ibu untuk cuci piring, menyapu, dan mencuci pakaian. Tidak perlu diminta terlebih dahulu.

Anakku yang baik hatinya.

Kamu mungkin nanti juga akan merasa direndahkan karena kelebihan yang kamu miliki. Tapi, kamu akan mengerti kalau nol tiap orang itu berbeda-beda. Aku akan selalu mengusahakan nol terbaik untukmu. Ini janjiku. Kamu pun harus mengusahakan nol terbaik untuk anak – anakmu nanti.

Aku ingin nanti kamu tidak mengenal konsep berkorban. Aku ingin kamu selalu melakukan kebaikan untuk orang lain tanpa meminta balasannya. Jangan pernah sampai terucap nanti, “Kan aku sudah berkorban”. Aku akan jadi orang pertama yamg mengajakmu bicara. Tidak ada yang namanya berkorban. Kalau kamu senang dan tulus membantu orang lain ya lakukan. Tidak perlu ada prasyarat lain di dalamnya. Kamu akan merasakan nanti bagaimana senangnya merasa dibutuhkan. Jangan takut dibilang terlalu baik. Manusia memang suka mempermasalahkan yang sebenarnya hal wajar. Kamu tetap harus berbuat baik apapun yang terjadi.

Anakku yang baik hatinya. Kamu nanti akan aku bebaskan memilih semua jalan hidupmu. Kamu bebas memilih apa warna kamarmu berikut dengan tempelan poster-posternya. Kamu bebas memilih dimana kamu akan sekolah dan kuliah. Kamu bebas memilih siapapun pasanganmu. Kamu tidak akan dilarang mau bekerja dimanapun. Tapi, saat kamu sedang ragu. Aku dan ibumu akan selalu ada untuk menjadi tempatmu bercerita. Mungkin nanti kamu jauh, tapi kamu akan selalu menemukan cara untuk menghubungi kami. Kamu akan menemukan cara untuk pulang. Itu sudah ciri khas keluarga kita. Kemanapun kita pergi. Kita selalu tahu cara untuk kembali.

Sudah sekitar setengah jam berlalu. Aku masih ada disebelah kasurmu sembari mengusap kepalamu. Kamu merasa sedikit gelisah karena lampu kamarmu belum aku matikan. Aku sadar. Kamu banyak memberi perubahan baik kepada aku dan ibumu. Jadi, biarkan aku menjagamu dengan sekuat tenagaku. Seakan aku merawat kebaikan itu sendiri yang tidak akan pernah dibiarkan untuk padam. Kamu adalah kebaikan yang aku selalu rayakan.

Peluk hangat.

Ayahmu di masa depan.

4 replies on “Anakku, ini Untukmu Kelak”

Terima kasih, Nadya.
Sepertinya social dan physical distancing mengeluarkan banyak pikiran orang ya. Seperti tulisan ini, berkhayal sudah berumah tangga dan memiliki anak :))

Stay safe.

Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.