Kategori
Refleksi

Ode untuk Manusia

Izinkan “saya” menggunakan “aku”.

Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir – akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kemungkinan besar. Masalah tersebut akan disalurkan kepada objek ataupun subjek lain. Sayangnya, budaya timur kita yang santun. Membuat aku, kamu, dan kita semua tidak mau menyalurkan masalah ke orang lain. Lebih mudah dilemparkan tanggung jawab ini kepada waktu. Toh, waktu tidak akan menuntut kan?

Berkaitan waktu. Sekarang aku dan kalian semua ada di lini waktu 2020. Sudah ada banyak kedukaan yang dirasakan. Sudah ada banyak kematian yang dinormalkan. Sudah ada banyak sakit hati yang didiamkan. Semuanya dirasakan secara kolektif oleh kita semua. Tidak ada satupun yang tidak. Seperti 2020 ingin bilang, “wektumu ndek dunyo ki sediluk lo, meh opo mene kowe” sambil terkekeh. Untungnya 2020 benda mati. Kalau ia hidup. 2020 akan menjadi individu dengan kepala besar. Aku pun akan bilang, “2020 kamu narsistik tengik. Cari bantuan profesional sana”.

Aku sampai terlalu fokus kepada 2020 seakan dia hidup. Kadang lupa bahwa dia hanya satuan waktu yang akan terus berjalan. Tidak peduli seberapa besar aku membencinya. Dia akan tetap berjalan sesuai kodratnya. Aku dan 2020 akan begitu. Berjalan di jalur masing – masing. Mungkin suatu waktu akan bersinggungan. Lalu akan pergi menjauh. Kemudian bertemu lagi di waktu yang jauh lebih baik.

Tapi, meskipun sejauh ini 2020 menyebalkan. Aku tidak mau dia berakhir lebih cepat. Ada kebahagiaan juga yang terselip di antara laranya. Tidak ikhlas rasanya kalau kebahagiaannya juga kemudian dipercepat. Cari sedih itu mudah sekali. Sedangkan. Bahagia akan subjektif setiap orangnya. Ada yang bilang mudah didapat. Ada yang bahkan rela tidak tidur untuk sekadar merasakannya di setiap hembusan nafasnya tiap malam. Ada yang bahkan belum menemukan kebahagiannya. Lagipula, itu lah spesialnya manusia. Menjadi salah satu penyebab juga aku senang mengamati manusia lainnya. Terdengar menyeramkan memang. Tapi, murni untuk pembelajaran.

Tahun ini hanya semakin menegaskan pentingnya komunikasi. Aku pikir kita semua ini sangat lemah dalam komunikasi. Hanya ada beberapa orang yang memang berbakat untuk jago dalam menyampaikan. Lainnya. Termasuk aku. Memanfaatkan berbagai simbol yang bisa dimanfaatkan. Lirik lagu. Gambar lucu. Kutipan sarat makna. Atau bahkan canda disaat hanya ada duka. Kita semua pandai menyembunyikan apa yang ada di balik mantel berlabel harga diri. Sepandai bagaimana sebuah praktik prostitusi akan tetap berjalan meskipun lokalisasinya dialih fungsikan. Beradaptasi menjadi miniatur lokalisasi kecil baru si tiap-tiap landmark di negeriku Indonesia ini.

***

“Kamu engga apa-apa” Sapa seorang teman. Aku pikir kepedulian sesederhana itu selalu dapat menjadi oase kecil yang mampu berlipat ganda tanpa perlu menunggu datangnya hujan. Kepedulian menjadi sebuah privilege tersendiri pada masa seperti saat ini. Semua orang berlomba-lomba menunjukkan kepeduliannya, meskipun mungkin saja mereka sendiri tidak merasakan kepeduliaan itu kembali pada mereka. Tapi, manusia dengan segala kekurangannya. Tetap melakukannya. Memang kita ini bebal kok.

Pada akhirnya hidup akan terus berjalan. Rasa sedih, duka yang sedang dirasakan individu. Tidak lantas membuat dunia menjadi berhenti atau melambat. Tidak seperti film-film aksi holywood yang sering ditonton di saat bioskop masih buka. Pada bagian akhirnya belum tentu tokoh utama akan datang dengan kuda putihnya untuk menghapus semua keraguan. Bisa saja dia memang datang, tapi juga berada dalam kondisi yang sama dengan orang yang akan ditolongnya. Tapi, ada hal yang tidak akan berubah. Kedatangannya selalu menandakan adanya harapan. Hal itu yang perlu dijaga sekarang.

Aku pikir juga. 2020 adalah waktu yang tepat untuk mengubah doa – doa yang terdengar egois menjadi lebih terdengar tuluis (aku tahu ini bukan dalam Bahasa Indonesia, tapi biarkan saja ya. Biar bahagia). Kalimat “aku ingin memiliki” diubah menjadi “aku ingin bisa menjaga”. Menjaga kesannya lebih tulus dan lebih tahan lama, meskipun tidak harus memiliki. Sedangkan memiliki lebih mementingkan diri sendiri dan belum tentu akan menjaga. Ya, aku juga tahu Tuhan tidak akan secara harfiah mendengar doa – doa kita semua. Tapi, hei. Apa salahnya jaga-jaga kan? Ya kan Tuhan?

Aku berharap kita semua bisa kembali ke usia saat kita masih balita. Jatuh sedikit, diusap – usap dengan rambut ibu. Secara ajaib langsung bisa sembuh. Kemudian berlarian lagi. Lalu, jatuh kembali di hari esoknya, tapi sudah melupakan luka di hari sebelumnya. Ajaib.

Mengakhiri tulisan yang tidak terstuktur ini. Ada berbagai harapanku kepada semuanya. Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan. Semoga kalian bisa membagikan cinta yang kalian punya. Semoga kalian bisa memeluk keluarga meskipun hanya melalui doa. Semoga kalian tetap hidup. Semoga kalian tetap ada.

Semoga kalian tetap peduli.

Ini ode dari aku untuk manusia.

*ditulis sembari mendengarkan JP Saxe, Julia Michaels – If The World Was Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.