Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Menghargai Emosi

manusia dengan segala emosinya.
Dokumentasi Pribadi.

Saya sebagai seorang pekerja sosial terus belajar. Banyak sekali ilmu yang saya belum miliki. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat sebuah fenomena yang bernama Toxic Positivity, apalagi menghadapi pandemi Covid-19 ini. Saya pun mungkin juga pernah melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Everyone trying to be positive. It isn’t wrong, but i think there’s something weird about this feeling. I strongly believe in the undeniable power of positivity. But, i also believe that being not okay, is completely fine. After all, we are humans with all of our flaws.

Penghargaan berlebihan kepada rasa bahagia, kepositifan pada semua situasi. Hasilnya adalah ingkarnya manusia kepada emosinya sendiri; Mungkin itu definisi saya akan Toxic Positivity.

I don’t want to be at the mercy of my emotions. I want to use them, to enjoy them, and to dominate them

Oscar Wilde

Semua yang berlebihan itu tidak baik. Saat positivisme digunakan untuk menyembunyikan pengalaman emosi manusia lainnya, sangat rentan hal tersebut menjadi toxic. Menjadi beracun. Menyakiti diri sendiri secara sadar. Kita dengan sengaja menolak dan merepresi emosi kita lainnya. Menutupnya dengan percobaan menunjukkan betapa positifnya diri kita pada semua situasi.

Padahal tahu sendiri manusia ini banyak kekurangannya. Saya bisa marah, bisa sedih, bisa merasa tidak ingin melakukan apa-apa. Saat kita menunjukkan toxic positivity, artinya kita membiarkan diri sendiri menjadi bukan manusia lagi.

Memang, tuntutan dari lingkungan sering menempatkan manusia untuk selalu positif. Masyarakat lebih menghargai perasaan positif, daripada perasaan yang dinilai negatif. Sedih, cemburu, marah, dan berbagai emosi lainnya seringnya dipinggirkan. Apalagi di beberapa budaya terjadi pengkotak-kotakan emosi untuk dimiliki kelompok tertentu saja. Saat individu memiliki emosi yang bukan ada di kotaknya, maka akan dipertanyakan kesesuaiannya dengan kotaknya dirinya berada sekarang.

Jebakan yang Disadari

Ada beberapa hal yang juga saya lakukan yang sering jatuh dalam jebakan toxic positivity ini

  • Menyembunyikan emosi sebenarnya dengan memberikan emosi yang bisa jauh lebih diterima oleh orang lain.
  • Merasa bersalah akan emosi yang dirasakan saya sendiri
  • Selalu mendorong dengan memberikan perspektif “masih ada yang jauh lebih buruk, masih ada yang lebih tidak beruntung”
  • Percaya dan mengamalkan kalimat “ya mau bagaimana lagi”.

Saya sadar betul beberapa hal diatas itu ada di diri sendiri. Maka dari itu saya menulis, setidaknya sebagai pengingat pribadi.

Kita, atau saya saja deh. Saya malu untuk mengakui emosi saya yang lainnya, mungkin apabila berani itu hanya ke beberapa orang saja. Saya dijebak oleh diri saya sendiri, yang tentunya dipengaruhi oleh lingkungan dimana saya tumbuh dan berkembang.

Saya bawa lingkungan karena rasa malu akan diperkuat dengan penghakiman. Penghakiman yang biasanya terjadi tanpa proses pengadilan yang membuat banyak manusia tidak mau mengakui emosinya sendiri.

“Saya bahagia. Saya bahagia. Saya bahagia.”

Banyak diucapkan sebagai mantra oleh beberapa orang pada pagi hari setiap dirinya akan berangkat aktivitas.

Padahal kita tahu, itu tidak menghilangkan emosi kita yang sengaja ingin kita tiadakan. Itu hanya pelarian sementara dari tanggung jawab yang kita bahkan tidak berani untuk menyapanya.

Rasa malu ini menimbulkan setiap orang berlomba-lomba membuat personanya masing-masing. Persona yang kadang juga saya bingung dibuat untuk apa. Siapa yang mau kita puaskan dengan persona palsu kita ini? Masyarakat? Kadang karena persona ini, kita melupakan bahwa diri sendiri punya kebutuhan. Sebuah hal yang tidak mungkin kita bisa memuaskan semua orang yang punya harapan ke kita.

Apa keberfungsian sosial itu berarti menegasikan emosi diri sendiri agar bisa sesuai dengan tuntutan masyarakat?

Persona yang kita bangun ini seringnya membuat kita hidup lebih banyak dengan yang sebenarnya buka diri sendiri. Kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Tidak menyadari kebutuhan diri sendiri.

Sering tidak kalian punya teman yang dari luar mungkin terlihat kuat sekali, tapi ketika mengenalnya lebih dalam sangat terlihat sekali pondasi dirinya sudah sangat rapuh dan menunggu untuk roboh. Ini yang diciptakan oleh rasa malu, tuntutan dari masyarakat, dan keenganan diri sendiri menghargai emosi yang ada.

Mengeluarkan kepalsuan diri sendiri hanya mengundang kepalsuan-kepalsuan lainnya, sampai nanti akan diciptakan narasi-narasi baru untuk mendukung kepalsuan kita yang sudah tidak bisa dihilangkan. Hidup bukan untuk diri sendiri. Apa tidak lelah? atau lebih tepatnya mau sampai kapan?

“Your emotions make you human. Even the unpleasant ones have a purpose. Don’t lock them away. If you ignore them, they just get louder and angrier.”

Sabaa Tahir

Manusia ini punya banyak sekali emosi. Lebih mudah memahaminya mungkin bisa dengan membaca Plutchik’s Wheel of Emotions. Bisa diakses di link berikut
https://www.6seconds.org/2017/04/27/plutchiks-model-of-emotions/

sumber tertera

Toxic Positivity dan Penyampaiannya

Ada beberapa hal yang sering kita sampaikan kepada orang lain yang justru menjadi positivisme yang toxic. Berikut list yang sangat membantu dari https://cmhanl.ca/app/uploads/2019/09/Toxic-Positivity-Handout-2019.pdf

sumber tertera

Intinya sebenarnya adalah tidak apa-apa untuk tidak apa-apa. Sejauh kita mampu mengendalikannya dan apabila tidak segera meminta pertolongan ke profesional. Kamu dan saya masih manusia yang tugasnya memanusiakan manusia. Itu berarti, kita juga harus memanusiakan diri sendiri, kalau kamu masih mau menjadi manusia seutuhnya; daripada hanya menjadi manusia yang hanya baiknya saja.

Mari menghargai emosi masing-masing. Kita sadari dan kita terima apapun itu. Setidaknya emosi-emosi itu yang membentuk kita sampai bisa seperti ini. Sadari.

P.S. Berikut penjelasan yang sangat memudahkan untuk memahami Toxic Positivity. Sumbernya tertera dan apabila ada yang mau didiskusikan mari kita berdiskusi.

sumber tertera

Rujukan Lainnya

https://www.cityline.tv/wp-content/uploads/2019/11/Toxic-Positivity.pdf
https://medium.com/the-post-grad-survival-guide/the-terror-of-toxic-positivity-95abb8d08f9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.