Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Grooming dan Pekerja Sosial

seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi

Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di Yogyakarta. Salah satu mata bahasannya adalah tentang grooming. Tapi, karena terbatasnya waktu sehingga topik ini tidak terlalu dibahas tuntas. Saya karena penasaran pun menambah bahan bacaan dari beberapa rujukan terkait grooming ini.

Ken Lanning menjadi salah satu yang punya peran penting dalam mengkonseptualisasikan tentang Grooming ini. Berkat Lanning konsep grooming menjadi lebih dipahami dan lebih membuka pengetahuan tentang dampak dari kekerasan seksual kepada korban dan juga adanya hubungan yang rumit antara korban dan pelaku, karena seringnya kita terfokus hanya pada kejadian kekerasan seksual yang terjadi, dan kurang memperhatikan pra dan paska kejadian kekerasan seksual dilakukan. Kesimpulan dari paparan Lanning yang saya pahami adalah bahwa lebih penting memahami tentang sifat dan juga perkembangan hubungan antara pelaku dan korban daripada hanya terbatas pada adanya ajakan, rayuan, atau paksaan yang terjadi.

Saya sendiri ingin lebih banyak mengetahui tentang grooming dan segala sesuatu di dalamnya. Saya yang saat ini bekerja di lembaga rehabilitasi anak pun menyadari banyak sekali tantangan untuk mendapatkan informasi tentang kekerasan seksual yang terjadi dari perspektif korban. Sedangkan, dari perspektif pelaku jauh lebih mudah digali, dan menariknya informasi yang disampaikan oleh pelaku seringkali disampaikan begitu saja, tanpa adanya beban yang mungkin ikut di belakangnya. Tentunya tidak semua pelaku, tetapi menarik untuk dipelajari apa yang memungkinkan perbedaan itu ada.

Ada hal yang cukup mengganjal tentang kasus-kasus kekerasan seksual yang saya pelajari. Beban membuktikan adanya tindakan kriminal berupa pencabulan itu semua ada di pundak korban. Bisa dibayangkan beban psikis dari korban kekerasan seksual. Mendapatkan kekerasan, diminta tanggung jawab untuk membuktikannya. Belum lagi kalau ada relasi kuasa antara pelaku dan korban. Bisa apa selain memendam? Atau menyalahkan diri sendiri? Apalagi kalau korban ada di usia anak.

GROOMING

Ada berbagai definisi yang sudah dimunculkan terkait grooming ini. Lanning sendiri menyebutkan bahwa grooming adalah dimana pelaku kekerasan seksual secara tanpa kekerasan mengakses dan mengontrol korban kekerasan seksual anak untuk memfasilitasi keinginan seksualnya. Meskipun begitu Lanning juga mengatakan bahwa penggunaan ancaman dan paksaan masih sering juga ditemukan.

Colton, dkk (2012) juga mengeluarkan definisinya sendiri tentang topik ini. Grooming adalah sebuah proses yang meliputi tiga tahapan. Tahap pertama, memperoleh akses kepada korban. Tahap kedua, melakukan dan merawat terjadinya kekerasan seksual. Tahap ketiga, menyembunyikan terjadinya kekerasan seksual.

Berbeda dengan definisi tersebut, McAlinden (2006) mengatakan bahwa grooming adalah perilaku yang dipersiapkan oleh pelaku kekerasan seksual kepada anak. Ada persiapan. Bukanlah sebuah kejadian spontan. Sudah direncanakan, dan sudah dilaksanakan dengan berbagai kemungkinannya. Tapi ahli lainnya Benner dan O’Donohue (2014) mengatakan bahwa perilaku grooming akan sulit dibedakan dari interaksi biasa antara anak dan orang dewasa. Menyeramkan?

Mari kita bayangkan. Ada predator anak yang berteman dengan anak anda. Mereka mencoba memposisikan dirinya agar punya minat yang sama dengan anak anda, dan kemudian pada akhirnya mendapatkan kepercayaan tidak hanya dari anak, tetapi juga dari anda selaku orangtuanya. Perkembangan teknologi juga membuat kekerasan seksual bisa terjadi secara daring maupun luring. Secara daring, apa bisa kita mengawasi apa yang anak kita lakukan dengan gawainya 7×24 jam?

Atau kalau boleh saya simpulkan grooming ini tujuannya adalah serangkaian usaha yang dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari korban maupun orangtua, yang nantinya dimanfaatkan untuk memfasilitasi kepentingan seksual pelaku.

Bagaimana sebenarnya pengalaman anak langsung tentang grooming ini? Kutipan berikut bisa sedikit menggambarkan.

“They make your parents look like they are terrible, and your friends look like thet are not your friends – because he’s always the one making you feel good about yourself. (Mereka membuat orangtuamu terlihat buruk, dan teman-temanmu seolah-olah mereka bukan temanmu. – karena si pelaku selalu menjadi yang pertama membuat dirimu nyaman.”

Alicia Kozakiewicz

Alicia baru berumur 13 tahun ketika dia di-grooming (saya belum menemukan padanan kata yang pas), diculik, menerima kekerasan, dan diperkosa oleh seseorang yang dikenalnya melalui dunia maya.

Pada beberapa kasus, pelaku menggunakan ancaman dan kekerasan fisik untuk memaksa terjadinya hubungan seksual atau kekerasan seksual kepada anak. Meskipun mayoritasnya memang menggunakan pendekatan yang tersembunyi atau diam-diam dengan meraih kepercayaan dari anak dan orang-orang di sekitarnya.

Tujuan

Jadi, coba saya ambil kesimpulan dari definisi-definisi tersebut. Tujuan dari grooming ada beberapa, yaitu:

  1. Memanipulasi persepsi dari orang dewasa lainnya di sekitar anak.
  2. Memanipulasi anak dalam rangka mengurangi kemungkinan kekerasan seksual terbongkar, dan meningkatkan kemungkinan anak kembali mencari pelaku kekerasan seksual.
  3. mengurangi kemungkinan anak dipercaya, apabila anak melaporkan
  4. yang paling akhir, meminimalkan kemungkinan kekerasan seksual terdeteksi

Grooming dapat terjadi di berbagai tempat, baik di lingkungan umum, domestik, ataupun institusional. Lebih lengkapnya dapat melihat tabel berikut. Meskipun selalu ada skenario lain yang terjadi pada kasus kekerasan seksual pada anak.

Memahami Perspektif Pelaku dalam Grooming

Memahami sebuah kejadian, kita perlu untuk mengambil perspektif dari semua orang yang terlibat dalam kejadian tersebut, tidak terlepas dalam kasus grooming dalam kekerasan seksual yang terjadi pada anak.

untuk lebih memahaminya saya kutipkan beberapa pernyataan dari pelaku kekerasan seksual yang pernah ada. Meskipun berbahasa inggris, tetapi akan saya terjemahkan karena masih sangat relate dengan kasus-kasus di Indonesia.

“I was overly friendly with the children, to the point of huggin and so on. That should have alerted someone that something wasn’t right, i tended to relate more to children instead of adults and my peers, and that should have alerted someone that something wasn’t right (Saya sangat dekat dengan anak, sampai pada tahapan memeluk dan lainnya. Seharusnya itu menimbulkan kecurigaan dari orang kalau ada sesuatu yang tidak beres. Saya merasa lebih memahami anak-anak ketimbang orang dewasa dan teman saya, dan lagi itu seharusnya menimbulkan kecurigaan dari orang lain kalau ada yang tidak beres”

Pelaku Kekerasan Seksual

“i’d start sexualising the conversation, a little bit at a time, and then a little hug, if i sensed any resistance at all i’d stop (saya mulai dengan membuat percakapan kami menjadi lebih seksual ((lebih sering menyinggung hal-hal seksual)), sedikit lebih sedikit, kemudian ada pelukan, ketika saya merasakan adanya penolakan dalam bentuk apapun maka saya akan berhenti.”

Pelaku Kekerasan Seksual

“and normally most offenders get the victim alone, part of the grooming is to get them alone. ‘This is where i live, if you want a hand with your homework, or want to get your bike fixed’. That’s where the offence is most likely to occur. (dan biasanya pelaku kekerasan seksual dapat membuat korban sendirian, bagian dari grooming adalah membuat korban sendiri. ‘ini tempat tinggalku, kalau kamu membutuhkan bantuan untuk mengerjakan pr atau mau memperbaiki sepedamu’. Disitu dimana kekerasan paling sering terjadi)”

Pelaku Kekerasan Seksual

“i would arrange for private if you want more than what you’re learning here in the time abailable, you can bring your work to my place. (Saya akan menyediakan waktu khusus kalau kamu mau belajar lebih daripada yang ada disini. Kamu bisa membawa pekerjaanmu ke tempatku.)”

Pelaku Kekerasan Seksual

Ada beberapa hal yang saya rasa menjadi tanggung jawab moral profesi saya dalam membantu masyarakat menghadapi ancaman grooming dalam kekerasan seksual kepada anak yang tidak dapat disepelekan ini.

Rencana Tindak Lanjut

1. Pemberian pengetahuan dan pemahaman tentang grooming kepada orangtua.


Saya paham konsep grooming ini bisa menjadi sangat menyeramkan. Tetapi bukan itu ketakutan itu yang menjadi tujuan utama saya menulis ini. Edukasi yang baik kepada orangtua tentang tanda-tanda grooming, dampak yang ditimbulkan, dan kejadian-kejadian sebelumnya diharapkan meningkatkan peran aktif orangtua dalam memerangi kekerasan seksual pada anak. Melawan dengan berpegangan pada pengetahuan daripada pada ketakutan.

2. Bicarakan dengan anak tentang grooming dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi

Saya paham budaya kita seakan menahan agar orangtua tidak memberikan pendidikan tentang seks pada usia anak. Akhirnya anak mengetahui dari sumber lain. Iya kalau benar? kalau yang diketahui duluan adalah yang salah, lalu mau bagaimana? Menunggu kejadian yang tidak diinginkan terjadi? Pernyataan dari salah seorang pelaku kekerasan seksual di luar negeri ini bisa menjadi gambaran.

“Parents shouln’t be embarrassed to talk about things like this – it’s harder to abuse or trick a child who knows what you’re up to (Orangtua tidak perlu malu untuk membicarakan hal seperti ini. Jauh lebih sulit untuk melakukan kekerasan atau menipu anak yang sudah tahu mereka akan menghadapi apa) ”

Pelaku Kekerasan Seksual

Bahkan dari artikel yang saya baca, kepolisian federal australia akan menyelenggarakan pelatihan keamanan siber untuk anak, dengan umur paling muda mulai dari empat tahun. Hal ini dikarenakan sudah ada anak di usia empat tahun yang memposting gambar ekspisit mereka dan menjadi target grooming dari predator seksual di internet.

3. Memberikan pelatihan lebih mendalam kepada praktisi perlindungan anak


Ilmu saya sebagai pekerja sosial yang bekerja di setting anak masih sangat sedikit sekali. Begitu juga mungkin yang terjadi di teman-teman polisi, jaksa, hakim, dan profesi lainnya yang ikut terlibat dalam sistem perlindungan anak. Apabila ada kebijakan yang melindungi anak, misalnya Undang-Undang 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Perlindungan Pidana Anak (SPPA). Kebijakannya sudah cukup baik, meskipun ada beberapa hal yang menggantung. Tetapi kebijakan yang sudah cukup baik ini, tidak diimbangi dengan pemahaman dan kemampuan untuk mengimplementasikannya. Maka akan sia-sia. Satu pihak berusaha menjunjung tinggi hak anak, tetapi tidak dibarengi oleh pihak lainnya yang ada dalam sistem tersebut. Pekerjaannya jadi tumpang tindih dan tidak maksimal.

4. Pembangunan sistem kerja perlindungan anak


Hal ini sudah diinisiasi di beberapa kota atau kabupaten di Indonesia. Misalnya, Pusat Layanan Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PLKSAI) di Surakarta, atau Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) di Mataram. Fungsinya satu, agar dinas-dinas yang bekerja dalam sistem perlindungan anak bisa terkoordinir. Tentunya yang lebih sulit dari membangun sebuah proyek adalah merawatnya agat tetap sesuai dengan tupoksinya, sehingga tidak hanya menjadi sebuah proyek pengeluaran Surat Keputusan saja. Menghindari hal tersebut perlu partisipasi aktif dari semua pihak, utamanya yang tahu dan paham tentang bagaimana sebuah sistem bekerja. Harus ada supervisor. Supervisornya harus punya supervisor lagi. Pengawasan berulang untuk menjami berjalannya sistem.

Saya pikir permasalahan anak akan ada banyak sekali tantangan di dalamnya, tetapi bagaimanapun juga itu tetap menjadi tanggung jawab kita. Pekerja sosial. Orang dewasa. Apa iya kita tega membiarkan permasalahan anak, diselesaikan oleh anak-anak kita sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.