Kategori
Catatan Pekerja Sosial

maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka

Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan positif yang mereka dapat dari orang lain. Saya realistis cenderung ke pesimistis. Begitu kata seorang teman. Saya sering bilang kalau banyak orang cenderung sudah memiliki solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, tetapi kadang orang masih butuh penguatan-penguatan bahwa apa yang mereka yakini itu solusi adalah hal yang benar.

Tetapi, kadang yakin benar saja belum tentu menandakan kebenaran yang benar kan?

Pandemi Corona atau Covid-19 yang sedang dihadapi oleh sebagian masyarakat ini pun juga begitu. Saya bilang sebagian ya karena memang hanya sebagian yang mau turut andil mencegah penularannya. Baru sebagian yang mau mematuhi arahan-arahan yang diberikan oleh pemerintah. Baru sebagian yang paham resiko yang dapat terjadi. Akhir-akhir ini nyawa digambarkan dengan data statistik. Data statistik berupa angka ini juga yang rawan memiliki banyak penarikan kesimpulan dari masyarakat.

“Ah bisa sembuh kok, itu kemarin masuk berita pakai kebaya cantik-cantik”

“Yang meninggal karena ada penyakit bawaan aja itu, di Cianjur itu kan pneumonia (padahal akhirnya positif Covid-19)”

“Lombok bukan Cina, Bro. Tenang saja”

Mungkin anda pernah mendengar hal tersebut, atau mungkin anda yang mengucapkan hal demikian?

Secara pribadi berat kalau harus memikirkan seandainya saya menjadi salah satu pembawa Covid-19 dan menyebarkannya kepada orang-orang yang rentan. Apalagi kalau alasan di belakangnya bukan karena ketidaktahuan saya. Tetapi, karena ketidakpedulian saya atas krisis yang sebenarnya benar-benar sedang terjadi.

Apalagi kalau sampai melihat atau merasakan sendiri ada orang terdekat kita yang masuk dalam data angka tersebut. Kita, termasuk saya selama ini hanya memahami data tersebut sebagai sebuah hasil yang sudah diberikan. Saya pikir dibalik penambahan satu angka saja pada data tersebut, ada berbagai macam grieving yang dialami oleh orang terdekat.

Ini bukan simulasi. Ini krisis nyata. Sulitnya adalah bagaimana kita dapat menarik garis keseimbangan antara menjadi waspada dengan menjadi paranoid. Tetap optimis, tetapi juga harus realistis. Disini juga yang saya masih perlu banyak belajar dengan cepat dan tepat. Menarik rasanya kalau kehidupan kita ini ditentukan bukan oleh diri kita sendiri, tetapi lebih kepada kepeduliaan orang lain untuk memikirkan hal di luar dirinya sendiri. Apakah masyarakat kita sudah siap?

Saya pikir belum. Atau bahkan akan tidak akan terjadi? Kalau anda berpikir sebaliknya. Selamat, anda orang yang optimis dan saya ingin belajar banyak dari anda. Saya juga ingin bisa seoptimis itu melihat Indonesia dengan segala keunikannya.

Kembali ke topik. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi dampak dari Covid-19 ini? Saya pikir himbauan dan arahan dari pemerintah kita sudah jelas, dan itu yang perlu kita ikuti. Khususnya untuk para pekerja sosial. Saya pikir kita juga punya peran penting untuk dapat membantu. Mari gunakan ijazah dan sertifikasi yang ada untuk hal baik bagi masyarakat. Ini pun juga perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat yang mau peduli.

Apa yang bisa dilakukan?

Hal utama yang harus dilakukan oleh semua orang adalah memastikan kesehatan dan kebersihan diri sendiri. Tools seorang pekerja sosial dalam melakukan intervensi adalah dirinya sendiri. Sadar diri bahwa kesehatannya penting untuk dapat melakukan proses pertolongan adalah langkah vital yang wajib dilaksanakan. Banyak yang bisa kita lakukan, tetapi ini yang juga sudah saya lakukan untuk lingkungan terdekat saya.

1. Pemberian Pemahaman

Memberikan masyarakat pemahaman mengenai Covid-19 untuk menghindari timbulnya kepanikan dan ketakutan, atau justru malah untuk menghilangkan ketidakpedulian. Hal ini juga untuk membantu agar dampak dari kepanikan seperti membeli barang berlebihan bisa dihindari. Wajar untuk panik atau takut, tapi kita juga perlu memikirkan orang lain yang mungkin juga membutuhkan hal yang sama tetapi tidak memiliki hak istimewa seperti diri sendiri. Memang sulit memberikan pemahaman, tetapi mulai dari orang terdekat. Mulai dari keluarga. Jangan sampai nanti suatu saat, kita diminta pertanggungjawaban karena menjadi penyebab banyak orang menjadi kesulitan.

2. Perhatikan dan Bantu yang Rentan

Memastikan orang-orang rentan di lingkungan sekitar mendapatkan perhatian khusus. Usia anak-anak dan Lanjut usia menjadi usia yang rentan terkena dampak dari Covid-19. Advokasikan kepada yang berwenang untuk membantu memikirkan mereka juga. Pengasuhan sosial bagi yang membutuhkan perlu ditingkatkan. Hal ini juga yang menjadi dasar di Inggris, dibuka kesempatan lagi bagi pekerja sosial yang telah keluar dari profesi ini untuk dapat re-join atau mengabdi kembali menjadi seorang pekerja sosial dalam menghadapi pandemi ini. https://www.socialworkengland.org.uk/news/temporary-registration-of-social-workers

Justru yang rentan, malah menjadi populasi yang banyak belum paham tentang Covid-19. Padahal dampaknya besar sekali kepada mereka.

3. Social Distancing, bukan sebatas kerugian ekonomi dan pengasingan

Meredakan dampak dari social distancing. Masyarakat Indonesia asing dengan istilah ini. Masyarakat yang asing membuat pemerintah juga belum secara serius sebelumnya memikirkan perlu adanya kebijakan tentang hal ini, sampai pandemi ini terjadi. Untungnya pemerintah bergerak cepat untuk mengimplementasikan kebijakan ini. Saat ini pun mulai terasa efek dari social distancing ini dengan tagarnya #dirumahaja. Tetapi, sepertinya saya rasa masyarakat juga banyak yang belum siap. Saya termasuk orang yang diberikan hak istimewa untuk tidak harus bekerja di jalan untuk mendapatkan pemasukan harian. Kalau anda juga demikian, saya harap anda juga bersyukur.

Masih banyak teman-teman kita yang harus turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ojek online, supir taksi, pedagang, petugas kebersihan, dan berbagai macam pekerjaan lainnya secara nyata terkena dampak dari Covid-19. Warga masyarakat pun satu persatu mulai membantu kepada teman kita yang terkenda dampak. Berbagai link Kitabisa yang didonasikan untuk membantu masyarakat bersliweran di status teman dan timeline twitter saya. Sepertinya memang jaring pengaman sosial tambahan yang dibutuhkan selain dari pemerintah, adalah yang muncul dari kesadaran masyarakat. Kesadaran bahwa semua orang berhak sejahtera, dan kepercayaan bahwa kita semua membutuhkan satu sama lain.

Hmm apakah seperti ini rasanya menjadi sedikit lebih optimis? Sedikit saja kok. Masih banyak pesimisnya.

Covid-19 akan terus menyebar. Sudah menjadi tugas kita untuk memastikan dan membantu bahwa data angka yang muncul tidak hanya menjadi angka lewat yang berganti setiap harinya. Perlu memunculkan empati memahami angka-angka yang muncul dari perspektif orang terdekat penyumbang angka tersebut, dengan demikian harapannya kita semua bisa lebih waspada dan menjaga diri sendiri juga orang lain di sekitar kita.

Kakak kandung saya dan istrinya adalah dokter. Mereka juga turut membantu menghadapi pandemi ini. Semoga ada perhatian lebih dari masyarakat dan juga dari pemerintah untuk seluruh tenaga medis yang ada.

Semoga di akhir pandemi ini, kita bukan diingat sebagai angka satuan yang ditambahkan pada data statistik dampak Covid-19.

Diam di rumah. Bantu sebisanya. Kalau pandemi ini sudah selesai, silahkan kembali bertengkar tentang perpolitikan yang kamu dukung. Sekarang bukan waktunya.

Silahkan saja anda egois dengan semua keangkuhan bahwa anda tidak akan kenapa-kenapa. Tetapi, semoga di akhirnya anda tidak menjadi salah satu pemercepat kesengsaraan orang lain yang bahkan mungkin tidak mengenal anda.

Harapan masih tetap ada. Semua pihak sedang berusaha merawat harapan tersebut. Saya harap kamu juga.

“Nothing could be worse than the fear that one had given up too soon, and left one unexpected effort that might have saved the world”

Jane Addams

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.