Kategori
Catatan Pekerja Sosial Narasi

Intervensi Krisis

tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi

“Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini.

Sayangnya, seperti tulisan saya beberapa waktu lalu ini.

Nyatanya Manusia

Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang yang sudah memprediksinya dan hanya mengatakan “nah kan benar kataku” sembari melanjutkan aktivitasnya lagi. Tanggapan kedua jauh lebih reaktif, “wah […]

Apa yang saya tulis tersebut pun akhirnya terjadi, sudah paham kondisi akan menjadi begini. Ada banyak sekali kekecewaan yang kita rasakan, atau justru saya sendiri? Kecewa karena sudah punya harapan akan Indonesia, tapi ternyata kita masih belum sesiap yang saya perkirakan. Perasaan ini ditunjukkan kepada pemerintahnya, kepada rakyatnya, kepada siapapun yang merasa terdampak wabah ini.

Memang sepertinya sikap pesimis saya bukan yang dibutuhkan oleh seluruh pihak yang terdampak. Tetapi kritik dan saran konstruktif tetap diperlukan oleh siapapun yang merasa memegang tanggung jawab atas nyawa banyak orang. Satu kematian karena Corona, saya pikir sudah terlalu banyak untuk Indonesia. Beberapa sumber pun mengatakan kita belum mencapai puncak sebaran virus ini. Terbatasnya lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan tes menjadi salah satu alasannya. Masyarakat pun juga banyak salahnya dalam kondisi wabah seperti ini.

Intervensi Krisis

Intervensi krisis adalah salah satu teori yang sering digunakan dalam pendekatan profesi pekerja sosial. Intervensi krisis ini juga yang sepertinya sedang dilakukan oleh pemegang kekuasaan kepada rakyatnya. Latar belakangnya cukup jelas. Salah satunya tentang kontrak.

Dalam intervensi krisis, kontrak antara praktisi dan klien dikesampingkan. Menggunakan kontrak malah akan membuat kondisi semakin buruk. Menjadi terlalu formal dan harus melewati birokrasi yang berbelit-belit.

Bayangkan saja misalnya pemegang kekuasaan meminta pendapat dari masyarakatnya ketika hendak membuat pernyataan ataupun membuat keputusan dan kebijakan. Waktu yang ada jadi terbuang percuma dalam rangka untuk memformalkan sebuah pertolongan. Waktu yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pertolongan lain. Tapi di beberapa kasus antar praktisi dan kliennya, kontrak secara eksplisit sudah dilakukan.

Tidak baik kalau hanya diam sejak awal, dan baru ramai ketika ada desakan dari dalam maupun dari luar. Betul kan? Apalagi sampai menyangkal semua kajian yang dikeluarkan berbagai pihak. Intervensi krisis saja sudah banyak memiliki dukungan penelitian di belakangnnya. Tidak dianjurkan juga hanya bergantung kepada sesuatu yang bukan manusia yang berhak mengaturnya ataupun kepercayaan buta terhadap sesuatu yang diyakini.

Latar belakang lainnya dari intervensi krisis adalah pentingnya ada akuntabilitas antara praktisi dan klien. Bayangkan saja kalau klien tidak tahu apa yang bisa praktisi lakukan. Atau sebalaiknya, praktisi tidak tahu apa yang klien rasakan. Pentingnya akuntabilitas membuat intervensi krisis yang dilakukan berada di jalur yang tepat, karena intervensi krisis memang tidak digunakan untuk jangka panja. Sifatnya brief atau singkat. Berfungsi untuk menghilangkan kondisi krisis yang dirasakan.

Sebentar, saya lupa menyamakan persepsi kita tentang krisis. Beda persepsi akan sebuah konsep sering kali malah menjadi malapetaka di belakangnya. Contohnya saat pemegang kuasa menyampaikan bahwa Indonesia aman dari COVID-19 dan memberikan insentif wisata agar lebih banyak pengunjung yang datang ke Indonesia. Masyarakat akan punya banyak persepsi tentang keputusan itu. Ada yang menganggap itu untuk menggerakan roda perekonomian dalam negeri. Ada yang menganggap itu membuat wahana bunuh diri untuk warganya sendiri.

Apakah masyarakat salah? tidak.

Apabila memang harus ada yang salah. Mereka yang tidak menyamakan persepsi sejak awal yang perlu ditagih. Mau dibawa kemana sebenarnya kebijakan rumah ini.

Kembali ke topik sebelumnya tentang krisis.

Krisis adalah titik dimana dalam kehidupan manusia cara biasanya yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah tidak berhasil. Manusia akan merasa tegang, kacau, adanya disorganisasi ketika krisis datang menghampiri hidup mereka.

Apabila saat ini anda tidak merasa demikian, maka anda patut merayakannya. Itu privilege yang anda punya. Privilege juga berarti orang lain bisa tidak mempunyai. Sudah tugas anda yang punya privilege tersebut untuk membantu orang yang belum mempunyai privilege dalam situasi krisis seperti ini. Diwajibkan siapa? Tidak ada. Hati nurani saja sebenarnya. Empati yang memang tidak semua orang punya, pasti akan mengarahkan anda untuk membantu. Kalau anda merasa tidak punya empati, ya berarti biarkan “empati” itu menjadi privilege saya.

Intervensi krisis yang dilakukan pada masa krisis bukan berarti menjadi dasar untuk melakukan intervensi sembarangan. Intervensi krisis harus terstruktur, terencana, dan merupakan program yang langsung menyentuh kepada klien.

Ada satu hal lagi yang menarik dari model intervensi krisis. Model ini akan sulit berhasil apabila tidak adanya kepercayaan kepada praktisi yang akan membantu. Salah satu hal yang dapat dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi adalah pentingnya penanganan cepat ketika terjadi krisis. Tidak menunda-nunda. Dampaknya akan besar apabila kepercayaan sudah berkurang atau malah menjadi tidak ada. Semua arahan dari praktisi akan sulit didengar. Anggapan bahwa toh dari awal tidak peduli, kenapa sekarag tiba-tiba peduli akan muncul di diri klien.

Tantangan

Selain bersifat ringkas atau cepat atau sementara. Intervensi krisis ini punya tantangan lainnya. Salah satunya muncul dari sisi praktisi pelaksana. Sifat model yang ringkas dan dituntut cepat ini dapat memunculkan kecenderungan praktisi menyederhanakan masalah klien yang kompleks. Jangan sampai semua individu dianggap sama, diterapkan intervensi yang sama. Setiap klien punya keunikan-keunikannya masing-masing, standarnya perlu ada memang; tapi di lapangan harus ada penyesuaian dari masing-masing praktisi yang memangku kepentingan.

Hal tersebut yang membuat model intervensi krisis dalam pelaksanannya perlu memperhatikan pembangunan dan perawatan dari sistem sumber sebagai dukungan bagi klien setelah masa krisis selesai. Menjaga keadaan stabil jauh lebih sulit daripada membuat keadaan menjadi stabil. Perlu dukungan dari semua pihak agar sistem sumber yang optimal dapat terjadi. Tidak hanya menyalahkan praktisi. Klien dan significant others juga perlu sadar bahwa masalah yang ada adalah masalah bersama. Tidak bisa lagi dalam situasi krisis egosentrisme dimunculkan.

“Bukan masalah saya kok”

“Saya engga akan terpengaruh kok.”

Hal tersebut akan terjadi, tetapi percaya juga bahwa ketika domino pertama jatuh. Domino lainnya akan tidak seimbang dan akan runtuh secara bergantian. Egosentrisme kita tidak akan menolong bahkan diri kita sendiri pada akhirnya. Ini bukan lagi tentang survival of the fittest. Ini perihal keadalian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Titik awal kita semua ini tidak sama. Tentunya tidak adil kalau di titik akhirnya harus dinilai dengan cara yang sama. Apabila suatu saat pemegang kekuasaan tidak mampu lagi melindungi rakyatnya, maka hanya rakyatnya yang dapat melindungi sesamanya. Memang manusia adalah serigala bagi sesamanya. Tapi, saya masih yakin manusia juga dapat menjadi penyembuh bagi sesamanya.

Tapi, tentunya hal ini menimbulkan masalah baru.

Kolektifitas yang sebenarnya Tidak Kolektif

Menghadapi sebuah krisis, apalagi yang berskala besar. Butuh kerjasama secara kolektif dari semua pihak yang terdampak maupun yang tidak terdampak. Himbauan satu suara yang dipercaya diperlukan. Masyarakat yang mampu menerima himbauan tersebut dan mau melaksanakannya jauh lebih diperlukan. Jangan sampai kolektifitas kita hanya sebatas surat edaran di media sosial, tetapi pada kenyataannya tidak ada perlakuan apa-apa.

Pada situasi seperti ini kerja sama yang diperlukan. Perkembangan teknologi membuat semua orang dapat mengutarakan pendapatnya secara bebas, cepat, dan tersebar. Meskipun mungkin yang membuat pernyataan tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam membahas hal yang disampaikannya. Misinformasi muncul. Misinformasi ini yang menjadi salah satu penyebab kepercayaan dalam situasi krisis berkurang. Baik yang disebarkan oleh orang yang dekat ke pemegang kuasa atau oleh orang-orang yang jauh dari lingkungan pemegang kekuasaan.

Intinya, jangan mau jadi tidak pintar kalau terkait masalah nyawa banyak orang. Setiap orang butuh bantuan kita. Salah satu cara yang paling mudah seorang individu bisa lakukan adalah dengan berdiam diri di dalam rumah. Cukup itu.

Belajar dari Model

Pada tahun 2005 Robert mengeluarkan model intervensi krisisnya yang dapat menjadi rujukan kita.

Hal yang menarik dari model intervensi krisis dari robert tersebut ada pada poin nomor tiga dari bawah. Mengeksplor perasaan dan emosi. Sepertinya itu juga yang perlu kita lakukan pada masa krisis seperti ini. Banyak orang yang panik, takut, cemas karena banyak yang merasa membawa beban akan pandemi ini sendirian. Merasa orang lain hanya akan jadi beban. Merasa hanya dirinya yang pantas menyelamatkan yang lainnya. Padahal bisa jadi justru sang penyelamat yang butuh pertolongan.

Seandainya masih ada yang terkesan tidak mau tahu tentang kondisi ini. Dekati. Dengar alasannya. Beri penjelasan. Ini bukan lagi tentang hidup satu orang, tentu akan menjadi beban moral apabila karena ketidakmautahuan kita menjadi malapetaka bagi semua orang.

Disini pentingnya relasi manusia itu ada. Membuat kita tidak merasa serba sendirian melawan pandemi yang justru dibutuhkan kesadaran kolektif dalam penyelesaiannya.

Saya pikir pemegang kekuasaan memang belum sempurna dalam menanganinya. Tapi, juga tugas kita sebagai masyarakat untuk menjaga diri masing-masing. Kita semua melakukan perbaikan. Bumi juga sedang melakukan perubahan. Semuanya tujuannya satu, agar semuanya segera seimbang. Seperti yang dibutuhkan oleh semuanya.

Saya tulis ini sebenarnya dalam rangka mengeluarkan pikiran saya yang tertahan beberapa waktu kemarin karena berbagai hal. Didukung pula dengan saya yang memang diam saja di rumah sejak beberapa waktu lalu. Sengaja, agar saya tidak jadi malapetaka bagi orang lain.

Tulisan ini juga mencoba menggamabarkan bagaimana manusia ini sangat bergantung pada manusia lainnya. Relasi antar manusia bisa menjadi pengahncur maupun penyembuh bagi sesamanya, dan juga bagi Bumi yang kita tinggali ini.

Lagipula memang mudah menyalahkan berbagai pihak atas apa yang terjadi.

Tapi,

it is better to light a candle, than curse the darkness

Eleanor Roosevelt

Oh iya, satu lagi. Selamat Hari Pekerja Sosial Sedunia. Para pekerja sosial. Para penyelamat yang kadang malah justru butuh pertolongan, betul tidak?

*Apabila ingin membaca lebih lanjut tentang intervensi krisis bisa membaca buku dari Malcolm Payne berjudul Modern Social Work Theory. Suksma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.