Kategori
Cerita Pendek

Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)

“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”

cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di https://radityobimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/

Dua minggu berlalu sejak pertemuan Pertiwi dengan pria yang mengaku bisa membantu menyelesaikan masalah juga dengan kekhawatiran yang mengikuti. Pertiwi pada pagi harinya sudah menelepon untuk menjadwalkan pertemuan kembali, tetapi kali ini Pertiwi meminta tempatnya di luar ruang pertemuan biasanya. Pertiwi mengajak pria tersebut bertemu di sebuah taman dimana terdapat kursi-kursi yang hanya bisa diduduki sendiri oleh pengunjung yang datang. Tepat berada di bawah jalan layang, di sebelah sebuah pusat perbelanjaan.

“Halo Pertiwi, senang bisa bertemu kembali. Kalau boleh tahu kenapa kita bertemunya disini?”

“agar aku bisa lebih mudah menjelaskan mas, tempat ini terikat erat dengan memori.”

“Memori apa itu Ti?”

“Memori tentang bagaimana orangtuaku memperlakukan aku mas. Dengan keras”

Pria tersebut pun diajak untuk duduk di sisi selatan tempat itu. Dari tempat tersebut dapat dilihat sebuah daerah yang baru saja diratakan dengan tanah, entah oleh siapa. Beberapa orang berpakaian abu-abu masih terlihat berjaga di daerah itu.

“Jadi memori apa Ti yang kamu punya dengan tempat ini?” Pria tersebut terlebih dahulu membuka obrolan.

“Memori tentang kesewenang-wenangan orangtua mas. Jalur kekerasan yang digunakan. Bukan pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ini akan terjadi ke aku mas. Selama orangtuaku masih percaya dengan kakakku yang seringkali keras. Bisa jadi kekerasan yang sama akan terulang mas.” Kata Pertiwi sembari menghela nafasnya.

“Menurut kamu, kenapa orangtua sampai menggunakan jalur kekerasan?”

“Karena tujuannya lebih mudah tercapai dengan kekerasan mas. Lebih cepat selesai. Mungkin juga nanti tetangga-tetangga akan lupa dengan kekerasan yang terjadi. Karena ada hal baru lagi yang dilakukan oleh orangtuaku mas.”

“kalau untuk sekarang, kekerasan apa yang mungkin kamu rasakan Ti?”

Pertiwi kembali menghela nafasnya. Melihat gesture dari Pertiwi, pria tersebut tidak memburu-buru untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sebelumnya. Pria itu paham, menggali kembali pengalaman buruk orang lain, tidak akan pernah menyenangkan. Apalagi dilakukan di sebuah tempat yang dititipkan memori dari kejadian tersebut.

“Orangtua ku keras mas. Aku dipukul. Aku didorong. Aku diusir dari kamar ku sendiri. Padahal aku sudah lama tidur di kamar itu.”

“Selama orangtua ku selalu mendengar bisikan kakak ku. Akan selalu menjadi seperti itu mas. Aku paham orangtuaku memang butuh uang, tetapi apa dengan mengorbankan anaknya; uang lalu menjadi pembenaran mas?”

Laki-laki itu memandang titik di antara alis Pertiwi. Hal ini sering dia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya memperhatikan klien, tanpa menganggu kenyamanannya. Sebab pada beberapa orang, bertatapan langsung mata bertemu mata adalah sebuah hal yang sangat asing.

“Jadi, Pertiwi sedang tidak percaya orangtua ya?” Laki-laki itu kembali bertanya.

“Iya mas. Aku pikir dengan semua hal yang terjadi. Orangtuaku bukan orang pertama yang aku tunjuk kalau ditanya tentang kepercayaan.”

“Semua hal yang terjadi? Apa ada lebih banyak cerita yang mau Pertiwi bagikan?”

“Ada mas. Boleh kita sambil jalan mas?”

“Tentu.”

Pertiwi dan laki-laki tersebut bangkit dari tempat mereka duduk dan berjalan beriringan di sebuah jalan yang terkenal akan cobblestone-nya.

“Mas, di daerah dekat rumahku sedang marak sebuah penyakit. Jadi banyak tetangga-tetangga yang menutup dirinya di rumah. Tidak mau keluar dan tidak ada yang boleh masuk.”

“Hmm, lalu orangtua kamu juga?”

“Ya engga mas. Buktinya aku bisa keluar sekarang berjalan bersama mas. Orangtuaku malah mengundang sebanyak-banyaknya orang untuk masuk. Aku juga bingung. Engga takut itu orangtuaku.”

“Mungkin orangtua kamu punya pertimbangan lain?”

“Uang mas? kalau aku atau kakakku sakit bagaimana? kalau bapak dan ibuku juga sakit bagaimana? Engga semuanya bisa dihargai dengan uang kan.”

Pertiwi membawa laki-laki tersebut ke daerah lingkungan rumahnya. Laki-laki itu mengamati sendiri bagaimana banyak rumah yang menutup dirinya. Tanda larangan masuk tersebar dimana-mana. Kecuali, rumah milik Pertiwi dan keluarga. Dipampangnya baliho besar bertuliskan, “Silahkan Masuk, Rumah Aman”. Sekilas Keluarga Pertiwi menunjukkan bahwa rumah mereka sedang baik-baik saja.

“Semoga keluarga Pertiwi tidak terjebak dengan citra yang sudah terlanjur mereka buat.” Kata laki-laki tersebut dalam hatinya.

Pertiwi dan laki-laki tersebut kemudian duduk kembali di sebuah taman di dekat rumahnya. Melihat betapa kosongnya tempat tersebut, tanpa adanya aktivitas yang biasanya ramai dilakukan.

“Pertiwi, kalau boleh tahu. Sekarang Pertiwi ingin apa?”

“Ingin orangtuaku jujur. Ingin mereka sadar seandainya mereka tidak mampu, mengaku tidak mampu tidak akan melukai siapa-siapa. Aku engga mau suatu saat nanti aku menjadi tidak percaya mereka. Aku engga mau nanti aku merasa tidak butuh mereka.”

“Kalau begitu, ada yang bisa kita lakukan. Pertiwi percaya saya?”

“Percaya. Apa itu mas?”

“Ayo.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.