Kategori
Spoken Words

Maaf Perempuan, Masih Belum

Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah.
Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah.
Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya.
Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa berbahaya.

Kita sering sepakat untuk tidak sepakat di berbagai media.
Mencoba membelah konsep dan narasi yang sering tanpa makna.
Kami, laki-laki tidak akan mau kalah; karena tidak mau terlihat lemah.
Tapi, maaf perempuan itu yang diajarkan oleh orangtua dan tetangga di rumah.

Daripada perang kata tanpa makna, izinkan saya jadi penyambung pemikiran.
Menyampaikan ucapan maaf yang mungkin sebenarnya tidak kalian butuhkan.
Tapi saya mencoba, memahami dan membela apa yang sedang kalian perjuangkan.
Tidak, saya bukan SJW; sekedar mencoba memahami betapa susahnya menjadi kalian.

Maaf perempuan, kami membuat bercandaan yang berkaitan dengan tubuh tertentu.
Kami tahu, hal tersebut hanya menggambarkan betapa rendahnya diksi kami berjibaku.
Dari kecil sampai dewasa, bercandaan tersebut dirawat menjadi legenda.
Sampai pada ujungnya, kami menormalisasi pelecehan seksual secara verbal kepada anda.

Maaf juga perempuan, kami sering tidak membiarkan kamu keluar sampai malam.
Kami hanya khawatir kamu kenapa-kenapa di perjalanan.
Padahal kami tahu, yang berbahaya yang harusnya dikunci untuk berada di dalam.
Sebenarnya itu hanya menunjukkan betapa tidak cakapnya kami menjaga keadaan.

Maaf sekali lagi perempuan, kami juga sering merawat ketidakadilan.
Memandang rendah kinerjamu, hanya karena kamu perempuan.
Atau malah tidak percaya, padahal kamu punya kemampuan.
Itu hanya cara kami untuk membenarkan diri sendiri yang punya keraguan.

Sekali lagi, maaf perempuan; sepertinya berat menjadi kamu di negara ini.
Memang masih jelas kami ini sangat gemar budaya patriarki.
Membuat kesengajaan-kesengajaan menyalahgunakan relasi kuasa.
Karena kami tahu, kalau kami di bawah gengsi akan dibuat tidak ada.

Maaf perempuan, sepertinya kesadaran kami masih belum bangun.
Belum bisa semua sadar kalau kamu juga punya kebutuhan.
Terlalu sempit kacamata kami, jadi hanya melihat hidung dan idealisme sebatas ubun.
Tapi saya yakin, nanti tuntutan kalian akan dicatat di buku sejarah sebagai sebuah pencapaian.

Sampai saat itu terjadi, izinkan saya selalu menyampaikan.
Maaf perempuan, karena masih belum.

dok. pribadi




One reply on “Maaf Perempuan, Masih Belum”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.