Kategori
Narasi

Nyatanya Manusia

Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang yang sudah memprediksinya dan hanya mengatakan “nah kan benar kataku” sembari melanjutkan aktivitasnya lagi. Tanggapan kedua jauh lebih reaktif, “wah beneran ini Indonesia udah ada Covid-19?” Yuk kita beli masker. Kita beli sembako untuk bertahan hidup. Kita cari hand sanitizer.

Lalu pertanyaannya adalah, apakah ada yang salah dari dua perilaku yang saya simpulkan dengan sangat sederhana dan mungkin salah tentang manusia Indonesia menghadapi Covid-19?

Kalau saya boleh menjawab. Tidak ada.

Saya sering mendengar ungkapan “homo homini lupus est.” atau terjemahan bebasnya adalah manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Manusia ini memang menikam untuk sesamanya. Mudahnya, manusia ini yang memang sudah jalannya untuk berbuat jahat untuk sesamanya. Kompetisi yang menjadikannya seperti itu.

Saya berkata demikian melihat kenyataan di lapangan. Harga masker naik berkali-kali lipat. Hand sanitizer langka. Orang-orang berbondong-bondong memborong bahan-bahan mentah sebagai bekal menghadapi outbreak yang terjadi. Kita dipertontonkan bagaimana manusia berperilaku dengan segala kepanikannya, yang memang wajar terjadi. Tapi tetap menarik untuk diamati.

Saya gemar mengamati manusia dengan segala perilakunya. Mencari tahu sebab perilaku tersebut. Memahami faktor pendorong dan faktor penghambatnya. Mempelajari dampak perilakunya dan mengetahui bagaimana respon manusia terhadap dampak dari perilakunya sendiri. Ceritanya tidak pernah sama. Manusia ini memang model yang gagal. Tapi saya bersyukur kita produk gagal. Betapa membosankannya apabila kita ini produk yang sempurna. Tanpa kesalahan. Flawless. Tidak ada yang rusak. Tidak perlu ada juga yang membenarkan. Tidak ada keharusan untuk membenarkan sesuatu. Seperti akan bosan sekali hidup yang pendek ini apabila begitu kehidupan yang harus kita jalani.

Saya rasa beberapa waktu ke depan, kita akan diperlihatkan tampak asli manusia. Jadi ya siap-siap untuk kecewa. Siap-siap untuk harapan-harapan kita semua patah.

Karena yang sempurna sudah tidak ada, dan yang tidak bersalah sepertinya belum dilahirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.