Kategori
Sajak

Naif

Tidak ada yang lebih naif dari manusia yang sedang sendiri. Dikuatkannya pikiran dan hati dalam rangka untuk percaya diri. Perilaku turut berubah agar sekitar tidak mati sunyi. Banyak menyangkal dan berlindung di kalimat karena “karena untuk berserah diri”.

Orang mau membantu, ditolak setengah mati. Satu hilang, dua pergi, tiga datang, yang keempat menjadi apati. “Masalahku bukan masalahmu” katanya, kalian tidak usah peduli. Tapi saat mereka pergi, diri sendiri menjadi hilang kendali.

Naif memperbanyak diri ketika ditabrak konsep bahagia. Menjadi angkuh, bahagia bukan tanggung jawab siapa-siapa. Tapi jungkir balik memperjuangkan orang lain punya. Sampai lupa hidup bukan hanya hitam putih saja.

Jangan susah hati membantu kenaifan yang ingin abadi. Banyak cara lain untuk membantu tanpa sakit harus dilewati. Tidak perlu menyiksa diri saat sang naif masih berdiri. Percaya saja, suatu saat si subjek akan kembali.

atau justru malah mati.