Kategori
Narasi

Relasi yang Menyembuhkan

pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi

Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita akan lebih paham ketika mengalaminya dalam kehidupan kita sendiri.

Manusia oleh Aristoteles sendiri pun disebut Zoon Politicon atau secara harfiah diterjemahkan menjadi hewan yang bermasyarakat. Kita membutuhkan satu sama lain, tapi terkadang kita tidak perlu orang lain. Kenapa? Karena manusia adalah sosok yang kompetitif. Kadang karena terlalu kompetitif, manusia tidak mau terlihat kelemahannya di hadapan orang lain. Boleh setuju atau tidak dengan saya, tapi saya berani bilang kalau manusia-manusia ini sombong. Bisa dibilang angkuh juga kalau kata teman saya. Homo Homini Lupus. Manusia adalah serigala bagi sesamanya.

Kesombongan manusia ini karena sifatnya yang kompetitif, sering menimbulkan dilema dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tahu dirinya sedang membutuhkan sesuatu. Tetapi dia juga tahu bahwa dirinya tidak mau terlihat membutuhkan sesuatu. Sejak kecil banyak manusia yang dicekoki dengan nilai bahwa kekurangan/kelemahan/ketidakmampuan adalah sebuah dosa besar. Pembungkaman tak kasat mata, masuk secara perlahan melalui budaya, sampai pada akhirnya diaamiinkan semua pihak.

Ujung-ujungnya kesepian semakin marak. Saya yakin banyak orang yang terkadang butuh sendiri, tapi tidak ada orang yang merasa membutuhkan sepi.

Kepercayaan

Relasi antara penolong dengan orang yang ditolongnya adalah sebuah potensi sumber yang besar pengaruhnya. Contoh mudahnya tentang kepercayaan. Saya akan menggantungkan harapan saya untuk ditolong dengan orang yang sudah dipercaya. Kepercayaan ini juga berbeda-beda bentuknya. Bisa karena waktu, bisa juga karena kemampuan.

Saya elaborasi.

Proses pembangunan kepercayaan dengan waktu itu sulit sulit tidak gampang. Ada yang lama sekali, ada yang cukup cepat; ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Setiap orang akan punya seninya masing-masing. Hal yang menarik adalah pembangunan kepercayaan yang cepat juga perlu kita berhati-hati.

Kenapa?

Pada beberapa kasus dengan kepercayaan yang cepat terbangun, di baliknya ada harapan besar yang perlu ditanggung. Harapan yang tiba-tiba langsung besar, seandainya sang penolong tidak siap dapat menimbulkan masalah-masalah lainnya. Sulit nantinya kalau si penolong akan dijadikan simbol tempat menaruh harapan seperti Superman atas semua masalah yang dihadapi oleh orang yang ditolongnya. Seorang individu tidak mungkin bisa jadi obat panasea bagi semua masalah.

Kalau kepercayaan yang terbangun karena kemampuan sudah jelas. Saya baru saja dari Dokter Spesialis Mata. Tentu saja saya tidak kenal sebelumnya. Tapi saya rela saja berbagai macam alat digunakan kepada saya. Mau menjawab jujur semua pertanyaan-pertanyaan sang Dokter. Mau diresepkan obat apapun yang dituliskan. Padahal saya baru kenal. Saya percaya dan menghargai kemampuan dari Dokter Spesialis tersebut.

Relasi yang Menyembuhkan

Saya pernah ada di posisi menarik diri dari lingkungan karena adanya masalah-masalah yang saya pikir harus saya sendiri yang menanggungnya. Begitu angkuhnya saya akan masalah-masalah saya. Begitu saya menempatkan kenyaman orang lain jauh diatas kenyamanan diri sendiri. Tetapi tidak untuk waktu yang lama. Lagi-lagi saya diselamatkan. Saya merasa diselamatkan oleh relasi dengan orang lain yang menyembuhkan. Saya ditolong dengan cara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Yaitu dengan memberikan perspektif baru dari pernyataan saya. Salah satu contoh yang dilakukan rekan saya adalah memutarbalikan pernyataan saya. Diputarbalikan secara logis, sampai saya sendiri pun memaknai pernyataan tersebut. Pikiran saya “diserang”. Perubahan pola pikir mempengaruhi perasaan saya. Sampai menulis ini pun saya sambil tertawa kecil karena memikirkan begitu sederhananya cara yang sebenarnya rekan saya lakukan. Perasaan saya yang berubah, lalu mempengaruhi perilaku saya. Menjadi menerima. Tanpa proses bargaining, dari denial langsung ke acceptance.

Apa yang dia ubah? sederhana.

Saya terlalu menempatkan kebahagiaan orang lain, di atas kebahagiaan saya sendiri.

Salah satu keluhan saya pada dia.

lalu rekan saya menjawab begini

Kalau kamu pikir begitu, yasudah. Kamu tinggal tunggu ada orang lain yang menempatkan kebahagiaan kamu, di atas kebahagiaan dirinya sendiri.

Pikiran saya “diserang” dengan kalimat tersebut.

Saya pribadi tidak pernah berpikiran sampai kesana. Saya terlalu fokus dengan narasi bahwa saya adalah sang penyelamat, dan orang yang saya selamatkan wajib bahagia. Lalu tiba-tiba cara pikir saya diserang sesederhana itu, yang mempengaruhi perasaan lalu perilaku saya. Saya disadarkan. Saya kemudian menerima masalahnya.

Ada satu lagi hal sederhana yang rekan saya katakan.

Waktunya engga tepat. Waktunya salah.

Keluhan saya lainnya kepada rekan.

Lalu dengan santainya dia menjawab.

Kalau waktunya yang salah. Ya suruh waktu juga yang membenarkan. Tunggu waktu yang membenarkan.

Jawaban sederhana rekan saya.

Saya tertawa sejadi-jadinya malam itu. Bukan karena saya butuh hiburan, karena memang iya. Tetapi saya tertawa dengan kebodohan saya sendiri yang tidak pernah terpikir dengan sudut pandang tersebut.

Biarkan waktu yang membenarkan. Sederhana. Tanpa ada buru-buru.

Cerita tersebut hanya salah satu contoh bagaimana sebuah relasi bisa menyembuhkan. Lalu, apa ada relasi yang menyakiti? Oh jelas, tentu saja ada. Tetapi kenapa harus fokus kepada yang menyakiti, kalau yang membahagiakan bisa didapatkan?

Bukannya Payung Teduh bilang, “Mengapa takut pada lara, sementara semua rasa bisa kita cipta?”