Kategori
Catatan Pekerja Sosial

#SadariAnak – Penguatan dan Konsekuensi

Orangtua sibuk bermain Puzzle-Dokumentasi Pribadi

Tulisan ini nantinya akan menjadi tulisan dengan episodenya masing-masing. Saya buat seri tulisan ini untuk kita lebih sama-sama banyak belajar tentang anak. Pengetahuan tentang anak terus berkembang, apa yang kita rasakan saat usia anak-anak bisa menjadi tidak relevan lagi sekarang, dan itu bukan hal yang harus ditakutkan. Saya yakin sudah banyak orangtua atau calon orangtua yang terus mengembangkan pengetahuannya tentang pola asuh dan juga dunia anak.

Saya juga menulis dengan prinsip bahwa “Anak tidak bisa memilih orangtuanya, tetapi orangtua bisa memilih untuk menjadi seperti apa untuk anaknya.” Saya tulis juga dengan bercermin pada kasus-kasus anak yang diamanahkan untuk saya bantu tangani, yang sebagian besar ada pengaruh keluarga di dalamnya.

Orangtua adalah pendidik pertama yang akan ditemui anak dalam tumbuh kembangnya. Tapi belum tentu orangtua adalah pendidik utama. Ada kasus yang pernah saya tangani dimana anak merasa belajar lebih banyak dari teman di sekolahnya, daripada dari orangtuanya. Kedua orangtuanya ada di rumah setiap malam, tapi tidak ada proses pendidikan, tidak ada kehangatan yang diberikan. Jadi memang orangtua adalah pendidik pertama yang ditemui anak, tapi belum tentu akan menjadi yang utama dalam tumbuh kembang anak.

Saya rasa semakin kita menuju tahun-tahun berikutnya. Tidak adanya kelekatan antara orangtua dan anak akan semakin sering dijumpai. Beberapa alasan yang diberikan orangtua adalah sibuk bekerja, anak sulit diatur, hanya mau main hp saja, kalau engga dituruti nanti marah, diajak membuat masalah oleh temannya, dan berbagai alasan lainnya.

Salah siapa? tidak ada yang salah. Kita hanya perlu belajar lebih banyak lagi. Menjadi adaptif untuk anak-anak kita.

Pandangan orangtua terhadap anak juga sangat besar kaitannya dengan harapan. Apakah orangtua punya harapan yang terlalu tinggi atau rendah rendah pada anaknya.

Orangtua selalu menginginkan anak yang mudah diatur. Anak yang disiplin. Seringnya orangtua lupa, kalau kedisiplinan bukan tujuan akhirnya. Disiplin adalah proses menuju hal yang jauh lebih besar untuk dicapai anak. Disiplin ada proses antara dari titik anak sekarang berada dengan titik akhir yang dicita-citakan anak dengan pendampingan orangtua.

Penting untuk orangtua memahami bahwa disiplin adalat alat atau media pencapaian tujuan, bukan malah menjadi tujuan akhir itu sendiri. Kalau kita fokus kepada disiplin menjadi tujuan akhir, mindset yang terbentuk adalah anak harus disiplin apapun yang terjadi. Anak harus patuh setiap saat. Perintah orangtua adalah mutlak. Hubungan yang terjadi adalah hubungan bos dan stafnya.

Tapi saat kita bisa memisahkan disiplin sebagai sebuah antara dari tujuan yang lebih besar, maka kita akan lebih fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Anak bahagia? gunakan disiplin yang menekankan pada kasih sayang dan ketenangan.

Anak mandiri? gunakan disiplin yang menekankan agar anak bisa belajar dalam prosesnya, menumbuhkan kesadaran dan pemahaman; bukan hanya aturan dan arahan tanpa kesepakatan.

Anak gemar belajar? gunakan disiplin yang membuat anak dapat berpikir kritis dan reflektif, bukan hanya sistem reward dan punishment yang berbalut sogokan.

ya tidak mudah memang dalam proses menerjemahkannya. karena perbedaan setiap anak dan setiap kasus. Jangan sungkan meminta bantuan kepada profesional seperti pekerja sosial atau guru untuk membantu menerjemahkannya.

Disiplin memang erat kaitannya dengan kesepakatan, bukan aturan. Kesepakatan artinya kita mempercayai anak sebagai subjek perubahan, tidak hanya menjadi objek. Kesepakatan yang ditelurkan oleh semua pihak, tertulis (ini penting), dan dilakukan dengan konsisten dan transparan adalah kata kunci dalam disiplin baik bagi anak.

Kesepakatan tertulis itu penting. Saya seringnya menjadikan kesepakatan yang sudah disusun bersama sebagai memento. Anak harus menjaganya bagaimanapun juga, memberikan tanggung jawab terhadap hal sekecil kertas ukuran A4. Tentu juga sebagai pengingat bagi anak, kalau anak sudah tidak fokus atau lupa tentang kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Kesepakatan yang bagaimana? apa dengan sistem reward dan punishment yang tadi berbalut sogokan?

Penguatan

Tentu tidak. Kita juga perlu membedakan antara memberikan penguatan dan memberikan sogokan pada anak. Sogokan kemungkinan besar hanya akan menjadi euphoria sesaat bagi anak, sampai sogokan yang diberikan sudah tidak ada nilainya lagi karena rumus yang digunakan terus sama atau nilai sogokan yang diminta terus naik, sampai orangtua tidak sanggup memenuhi.

Kasus tersebut pernah terjadi kepada salah satu orangtua anak yang saya dampingi. Anaknya selalu meminta uang atau barang sebagai imbalan mengikuti aturan dan keinginan orangtuanya, karena sejak awal sudah dibiasakan demikian. Sampai suatu saat barang yang diinginkan tidak bisa dipenuhi orangtuanya. Anak marah, meninggalkan rumah, dan mengadaikan barang yang dibawanya.

Sogokan adalah jalan tercepat agar terasa seperti “ada” perubahan pada anak. Tetapi bukan jalan yang bisa dilalui secara lama. Batasannya sangat terlihat.

Orangtua perlu percaya bahwa anak berperilaku untuk menjawab keingintahuannya. Kepuasaan yang muncul di diri anak karena dapat menyelesaikan masalah dan keingintahuannya terjawab adalah sebuah penguatan yang baik. Maka dari itu perlu kerja sama dari semua pihak agar pengasuhan anak difokuskan kepada minat anak. Kepentingan terbaik anak, bukan hanya kepentingan orangtua.

Anak yang tumbuh dan berkembang berdasarkan minatnya adalah tujuan pendidikan yang harusnya dicapai. Kalau disamaratakan semuanya tentu kurang sesuai. Saya dan anda saja berbeda minat kita, dan kita tidak bisa mengelak bahwa menekuni apa yang kita minati jauh lebih baik daripada menekuni apa yang kita dipaksa untuk minati. Penguatan-penguatan ini yang harus kita cita-citakan bersama. Baik secara individual maupun secara sistem. Anak-anak harus dibiarkan bebas mengeskplor dunianya, dan tentunya dengan dampingan orangtuanya.

Konsekuensi

Lawan dari reward biasanya adalah punishment. Tetapi saya akhir-akhir ini lebih suka menggunakan kata konsekuensi. Anak yang dihukum atau di-punish terkesan lebih negatif. Dibayangan saya interaksi yang terjadi dengan punishment adalah satu arah. Superordinat memberikan perlakuan kepada subordinatnya.

Banyak orangtua yang memberikan hukuman kepada anaknya menggunakan kekerasan, salah satunya kekerasan fisik. Emosi marah merupakan hal yang wajar. Tapi menjadi berbahaya kalau sampai emosi marah yang dirasakan malah menghilangkan kesempatan anak untuk tahu dan belajar dari kesalahannya. Apalagi sampai terjadi pukulan. Anak hanya tahu kalau dia berbuat sesuatu maka anak akan dipukul. Tanpa diberikan hak akan penjelasan.

Kalau orangtua sendiri tidak memberikan akses akan penjelasan kesalahan anak. Lalu, kepada siapa anak harus bertanya?

Lalu, apabila anak tanya kepada orang lain yang dipercayanya. Orangtua akan menyalahkan orang lain yang memberi informasi kepada anaknya. Padahal orangtua sendiri lah yang membuat anak tidak punya kepercayaan kepada keluarga pada awalnya. Kebiasaan menyalahkan orang di luar sistem keluarga ini perlu dievaluasi bersama, tidak selesai permasalahan anak kalau hanya sibuk menulis dan membuat daftar orang yang harus disalahkan.

Baiknya, anak harus diajarkan tentang konsekuensi. Anak harus paham tentang dampak dari pilihan atas perilakunya. Orangtua juga harus bisa memahami motif dari perilaku anak yang dinilai salah tersebut. Munculnya dikarenakan apa? Lalu, adakah pilihan lain yang bisa anak pilih? Dengan demikian kita belajar kembali untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada anak. Umpan balik harus digalakkan untuk selalu diberikan kepada anak.

Mudahnya, bagaimana anak mau berubah. Kalau sasaran perubahannya tidak jelas atau tidak ada yang mau menjelaskannya kepada anak. Pengetahuan anak hanya sebatas, “perilaku kamu salah, jangan dilakukan lagi.”

Anak harus berubah seperti apa kalau dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya salah? seperti saat kita mendapatkan nilai ujian jelek, lalu hanya ditulis tingkatkan belajarnya. Belajar apa yang harus ditingkatkan. Terlalu banyak yang harus dilakukan dengan kemampuan anak yang masih terbatas. Apalagi hanya diberikan umpan balik yang negatif.

Seseorang yang ada di usia dewasa saja apabila dijatuhkan atau dinilai buruk atas kinerjanya bisa jadi merasa tidak nyaman. Motivasi dan arahan adalah hal yang dibutuhkan oleh semua orang, termasuk anak-anak kita.

Kalau Kemendikbud punya hastags #MerdekaBelajar, maka saya juga punya hastags #SadariAnak :))

Saya sadar apa yang saya pahami belum sempurna. Tapi saya akan terus belajar untuk menyempurnakannya. Saya akan terus berdiskusi dengan orang lain untuk menambah ilmu saya. Orang boleh tidak setuju dengan tulisan-tulisan saya, apalagi kalau dilihat saya belum memiliki anak sendiri. Saya juga paham itu hak semua orang untuk setuju atau tidak setuju, tapi jauh lebih baik kalau kita bisa belajar dan berdiskusi bersama-sama untuk kepentingan terbaik bagi anak.

Sekali lagi, mari #SadariAnak

P.S. Kalau butuh bantuan dan saran boleh dihubungi Pekerja Sosial terdekat yang ada di daerahmu ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.