Kategori
Narasi

karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan

Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia, siapapun dan dimanapun. Yaitu hak akan pilihan.

“Tapi tidak semua manusia punya pilihan kan, Bim?”
kata seorang teman saat kami berdiskusi beberapa waktu lalu.

Saya pikir semua orang punya pilihan. Hanya saja kadang manusia belum tahu bahwa masih ada pilihan lain. ketidaktahuan tentang adanya pilihan ini, menandakan kurangnya informasi. Bisa jadi manusia yang tidak mau mencari informasi, bisa juga si pemberi informasi tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Pilihan itu sebuah hal yang menakutkan. Menjadi pilihan karena ada dua hal berbeda yang akan dipilih. Biasanya dua hal yang berbeda ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak akan menjadi pilihan kalau kedua atau ketiga atau keempat hal tersebut berbeda hierarki kepentingannya.

Intinya satu. Semua pilihan tergantung kepada manusia itu sendiri. Orang lain bisa mencoba memberi pengaruh sekeras apapun, tapi ya ujung-ujungnya diri sendiri yang menentukan. Diri sendiri yang tahu kebutuhan.

Dilemanya, kadang manusia itu sendiri tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi seringnya manusia membutuhkan reassurance dari orang lain bahwa solusi yang dipikirkannya adalah benar. Bahwa keputusan yang akan diambilnya sesuai dengan kebutuhannya. Hal yang wajar.

Tapi kembali lagi ke poin sebelumnya. Pilihan itu kita yang menentukan. Saya sering sampaikan kepada klien dampingan, “sebenarnya di dunia ini yang peduli kepada diri kita, ya kita sendiri. Orang lain tidak akan peduli kepada kita.”

Bukan tanpa maksud saya sampaikan demikian. Bukan pula untuk terlihat edgy. Kita sendiri yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri, kadang manusia lupa dan menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri. Jangan sampai mempertaruhkan masa depan kepada orang yang mungkin tidak akan mampu melihatnya.

Akan saya sampaikan lengkap demikian apabila seseorang bertanya kepada saya pribadi, terlepas dari profesi saya. Tapi apabila ditanya atas nama profesi, tentu saja akan berbeda.

Sebagai profesional saya akan sampaikan. Wajar kita menempatkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan kita, tetapi perlu ditakar porsinya. Harapannya harus disesuaikan. Terlalu tinggi harapannya, resiko luka karena jatuhnya besar. Terlalu rendah harapannya Motif orang untuk melakukan sesuatu menjadi tidak ada.

Berbeda atau hampir sama. Bukan tugas saya untuk menentukan.

Tugas saya adalah membantu anda semua menemukan kebahagiaan. Tidak perlu khawatir akan kebahagiaan saya. Sudah tugas saya untuk tidak memperdulikannya.

I am your Happiness Mercenary.

Selamat menikmati jasa saya. Selamat menemukan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.