Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Menjadi Tidak Terlalu Sosial dan Keasertifan

dok. pribadi

Beberapa waktu lalu, setelah saya menulis tentang Adil Sejak dalam Pikiran. Seorang rekan saya di Bandung mengirim pesan ke saya. Beliau menuliskan “Adakah nanti judul tulisan menjadi tidak terlalu sosial?”

Saya jawab, “Saya buatin khusus untuk (nama beliau).”

Pada awalnya saya juga berpikir. Kenapa beliau meminta tulisan seperti demikian, tetapi saya rasa mungkin beliau merasa seperti orang yang mungkin tidak terlalu sosial. Lalu saya pikir lagi, kenapa menjadi tidak terlalu sosial menjadi sebuah pertanyaan? Kenapa menjadi tidak terlalu sosial dianggap sebuah hal yang tidak adaptif di masyarakat? Kenapa harus ada dorongan untuk harus menjadi seseorang yang selalu aktif bersosialisasi?

Menjadi tidak terlalu sosial itu tidak masalah. Menjadi aktif bersosialisasi pun tidak masalah. Terlihat bahagia akan pilihan itu tidak masalah. Terlihat menyesal akan pilihan itu wajar.

it’s a human thing. Kalau tidak seperti itu apa bedanya kita dengan robot? emotionless

Dua pihak yang berbeda, punya harapan yang berbeda. Tapi sebenarnya tidak ada masalah dengan perbedaan tersebut.

Satu jadi masalah menurut saya, tidak tersampaikan harapan antara satu dengan lainnya. Bisa jadi tidak tersampaikan karena saling takut, atau karena merasa tidak punya kuasa juga untuk menyampaikan. Kurang asertif.

Asertif

Asertif itu keterampilan. Asertif tidak kita bawa dari lahir. Artinya asertif bisa dilatih. Bisa ditingkatkan atau bahkan bisa diturunkan. Asertif menjadi sebuah konsep yang menarik di hubungan antar manusia.

Asertif itu kemampuan seseorang untuk dapat menyampaikan perasaannya, kebutuhannya, keperluannya atau melindungi apa yang dianggapnya benar tanpa “menyerang” batas-batas orang lain. Tidak bermaksud menggurui. Tidak bermaksud merendahkan diri. Be who you are and say what you feel.

Kalau asertif seperti itu, kalau tidak asertif itu seperti apa?

Hemat saya, seseorang yang tidak asertif sering menjadi seseorang yang dimanfaatkan. Padahal merasa helpless. Hanya dapat mengatakan iya kepada tuntutan yang kadang tidak masuk akal. Membiarkan orang lain menganggu dirinya. Merasa tersakiti. Marah terhadap pilihannya. Tidak jujur.

Menjadi asertif itu sulit. Saya pun masih perlu banyak belajar untuk bisa asertif. Saya bisa menyampaikan apa yang saya rasa, tetapi tidak dapat saya janjikan dengan tidak menyerang batas-batas orang lain.

Apalagi asertif erat kaitannya dengan dengan budaya dan gender.

Beberapa budaya di Indonesia menganggap asertif adalah bentuk ketidaksopanan. Meskipun maksudnya tidak untuk menyerang. Menjawab orang lebih tua yang sedang berbicara saja, dosanya sepertinya besar sekali. Apalagi kaitannya dengan gender.

Laki-laki yang asertif sering dinilai sebagai sebuah perilaku yang memang harus dimiliki oleh laki-laki. Konstruksi sosial membuatnya seperti itu. Sedangkan apabila perempuan yang asertif di beberapa kesempatan sering dinilai sebagai sebuah perilaku maladaptif yang tidak sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat. Memang tidak bisa dipungkiri, laki-laki ditempatkan di sebuah hierarki yang lebih tinggi daripada perempuan di beberapa budaya, terlepas dari pekerjaan atau status sosial lainnya yang melekat. Kalau anda mengatakan sebaliknya, berarti anda kurang piknik. (Contoh kalimat yang tidak asertif).

Asertif bisa ditingkatkan dan bisa diturunkan. Saya pikir tidak ada orang yang akan bisa terus menjadi asertif. Sering di hadapan lingkungan yang sudah kita kenal, seperti pertemanan dekat; kita akan bisa asertif. Tapi di lingkungan yang baru kita kenal seperti pekerjaan, bisa saja kita menjadi pasif. Menjadi asertif erat kaitannya dengan mengetahui kapan dan dimana diri dapat mengekspresikan sesuatu.

Apalagi kaitannya dengan kuasa. Semakin banyak kuasa yang kita miliki, semakin besar ‘kesempatan’ kita untuk bisa menyampaikan hal yang dirasakan. Meskipun belum tentu asertif, karena asertif salah satu kuncinya adalah tidak menyerang batas-batas orang lain. Semakin ke sini batasan-batasan manusia saya lihat semakin tebal. Jadi semakin lebih muda ketersinggungan terjadi.

Dan tersinggung itu tidak menjadi sebuah masalah. Setidaknya untuk saya. Dengan tersinggung berarti kita merasa ada ketidaksesuaian antar nilai pribadi dan nilai orang lain; dari ketersinggungan itu harapannya akan muncul diskusi kedepannya. Sebuah budaya yang sangat ingin saya pribadi perbanyak di orang-orang terdekat dan juga di masyarakat luas.

Menjadi Tidak Terlalu Sosial

Kaitannya dengan pertanyaan rekan saya di awal. Saya rasa menjadi tidak terlalu sosial bukanlah sebuah masalah. Setiap orang punya kenyamanannya sendiri-sendiri. Teman yang sebenarnya dibutuhkan adalah diri sendiri. Orang lain yang membutuhkan kita adalah privilege yang satu dengan lainnya tidak akan sama.

Tapi yang perlu kita pahami bersama adalah setiap orang akan punya harapan kepada orang lain. Harapan akan peran yang harus dilakukan. Harapan akan outcomes yang dihasilkan dari peran yang sebelumya diharapkan untuk dilakukan.

Intinya harapan menjadi salah satu alasan munculnya motif seseorang untuk melakukan sesuatu. Harapan yang dipenuhi, akan menambah harapan baru dari orang lain terhadap diri sendiri. Sebaliknya, harapan yang tidak dapat terpenuhi; juga dapat mengurangi harapan baru yang seharusnya disampaikan pada diri sendiri, tapi akhirnya tidak.

Saya melihat pertanyaan menjadi tidak terlalu sosial demikian. Tidak ada yang akan mempermasalahkan saat seseorang menjadi tidak terlalu sosial, paling buruknya mungkin hanya akan menjadi bahan pembicaraan ketika ada kelompok berkumpul. Sudah sampai situ saja. Menurut saya tidak akan sampai pada tahap yang membahayakan nyawa.

Tapi dengan menjadi tidak terlalu sosial, maka ada beberapa kesempatan yang mungkin bisa kita dapatkan saat kita aktif bersosialisasi; yang pada akhirnya terlewat untuk kita dapatkan. Apalagi saat ini masih banyak lingkup kerja yang menghargai relasi baik.

Jadi saat individu merasa bahwa tidak masalah menjadi tidak terlalu sosial, itu pilihannya dan kita harus menghargai itu. Tapi individu tersebut juga harus paham bahwa dirinya berada dalam sebuah sistem sosial yang berhierarki. Ada nilai dan norma yang harus dipegang erat-erat di setiap tingkatannya kalau ingin merasa dibutuhkan. Saya rasa perasaan ingin dibutuhkan sudah menjadi kebutuhan dasar dari manusia di dekade kemarin dan akan terus diperkuat di dekade kedepannya. Penghargaan dan aktualisasi yang merupakan dua puncak tertinggi dari diagram kebutuhan maslow sudah memprediksinya jauh-jauh hari.

Tapi kedepannya, mari bersama-sama mencoba menjadi asertif. Menyampaikan kebutuhan dan kemauan kita terhadap orang lain, tanpa menyerang batas-batasnya. Kita bisa tidak menyerang batas-batas orang lain, dengan mengetahui batas-batas diri sendiri. Mindfullness.

Jangan sampai kita hanya menyalahkan masyarakat tentang ketidakterimaan mereka atas diri yang tidak terlalu sosial atau maladpatif, karena masyarakat juga tidak akan tahu kalau kita tidak menyampaikan. Kalau kita tidak mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan yang berbeda. Jadi asertif. Sampaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.