Kategori
Catatan Pekerja Sosial Narasi

Adil Sejak dalam Pikiran

Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.

Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi perilaku.

Saya pikir lagi, sering kali manusia tidak adil kepada dirinya sendiri. Lalu, bagaimana mau adil kepada orang lain. Salah satu bentuk ketidakadilan adalah mengenai kebahagiaan. Beberapa manusia menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan sendiri, tidak salah; tapi apa kewajiban kita untuk membahagiakan orang lain juga? Saya pikir tidak pernah ada kewajiban seorang individu untuk membahagiakan orang lain.

Atau juga bisa dilihat sebaliknya.

Terlalu banyak individu yang sombong akan konsep kebahagiaan. Menganggap bahwa hanya individu tersebut yang dapat membahagiakan orang lain. Jadinya merasa diri sendiri lebih superior kepada orang lain dalam sebuah hubungan. Saat individu merasa lebih memiliki kuasa akan orang lain, perilaku-perilaku yang berlebihan akan rentan terjadi. Bibit-bibit kekerasan disiram dengan subur oleh kesombongan atas kebahagiaan orang lain.

Sebelumnya saya sempat menyinggung mengenai normalisasi kekerasan dalam sebuah hubungan yang kebetulan saat itu saya kaitkan dengan pernikahan.

Panasea itu Pernikahan

Persepsi masyarakat Indonesia tentang pernikahan itu unik. Pernikahan dianggap sebagai obat panasea bagi semua permasalahan.

Saya pun ingin menyinggung kembali hal tersebut. Normalisasi terhadap kekerasan yang dilakukan masing-masing individu. Sebutannya normalisasi, berarti ada usaha yang dilakukan untuk menganggap sebuah peristiwa menjadi sebuah hal yang lumrah. Dilakukan secara sadar oleh salah satu pihak atau malah dua-duanya. Dampaknya besar dan bisa berkesinambungan. Sebuah masalah yang terus memupuk dirinya sendiri seiring bertambahnya waktu. Sampai nanti meluap dan meledak.

Banyak waktu saya akhir-akhir ini membaca tentang relasi, pernikahan, perceraian dan dampaknya kepada anak. Banyak anak yang menjadi korban dikarenakan keegoisan orangtua. Anak tidak bisa memilih siapa bapak atau ibunya. Anak tidak bisa memilih pola asuh yang akan diterapkan nantinya dalam masa tumbuh kembang. Semuanya ditentukan oleh tiap-tiap individu dalam sebuah hubungan.

Saya tahu dengan pasti bahwa masalah dalam setiap pernikahan akan selalu ada. Tapi saya juga tahu bahwa sebelum ada komitmen melalui pernikahan, sedikit banyak trait dari pasangan individu sudah diketahui. Kalau ada gejala-gejala controlling behavior atau kekerasan, pernikahan bisa menjadi sebuah pemicu dan penguat seperti sebuah pedang bermata dua.

Gejala kekerasan bisa bertambah kuat karena individu menganggap telah memiliki hak sepenuhnya atas pasangannya.

atau sebaliknya.

Kepedulian seseorang dan rasa sayang juga dapat diperkuat oleh pernikahan.

Hal yang coba saya gambarkan adalah saya rasa sebenarnya setiap individu sudah mengetahui akan berhubungan dengan orang seperti apa. Apa saja kelebihan dan kekurangannya. Kalau nantinya kekurangannya jauh lebih banyak sesuai penilaian pribadi, saya pikir pernikahan bukanlah media untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Pernikahan bukan sarana uji coba untuk mengubah perilaku seseorang. Tapi jika ada keyakinan ada individu yang akan berubah karena pernikahan, maka silahkan itu hak masing-masing pribadi. Tapi untuk saya, sedikit pesimis dengan outcome yang diharapkan akan dapat terjadi.

Photo by Negative Space on Pexels.com

Anak akan selalu menjadi korban

Sejak bekerja sebagai pekerja sosial di lembaga anak di 2019. Sudah ada Sembilan klien anak yang menjadi dampingan saya. Kesembilannya memiliki permasalahan di keluarganya atau kalau boleh saya bilang; keluarga memiliki peranan kunci dalam munculnya permasalahan dari anak-anak tersebut. Maka dari itu saya khawatir. Terlebih lagi sepertinya kekerasan kepada anak ini tidak dibatasi secara regional saja. Setiap daerah punya fenomena gunung es akan kekerasan pada anak. Gambaran ringkasnya bisa dibaca di tulisan saya mengenai relasi kuasa, dimana saya tampilkan sebuah hasil survei oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang kekerasan pada anak di tahun 2018. Saya kebetulan juga ambil bagian dalam survei tersebut.

Anak akan selalu menjadi korban secara struktural.

Tinggal kita egois-egoisan saja, siapa yang hendak disalahkan?

Pemerintah? bisa jadi. Masyarakat itu sendiri? bisa jadi. Anak itu? saya pribadi merasa tidak bisa menyalahkan anak. Anak akan selalu menjadi korban. Tabula rasa. Anak akan dibentuk oleh lingkungan di sekitarnya.

Lingkungan sekitarnya banyak kriminal? kemungkinan besar anak akan tumbuh dan kembang menjadi kriminal.

Lingkungan sekitar banyak penyimpangan seksual? bukan tidak mungkin anak akan menjadi pelaku suatu saat nanti.

Kita yang menentukan seperti apa jadinya anak-anak Indonesia nanti. Kita dalam artian lingkungan terkecil adalah keluarga. Sampai ke lingkungan yang jauh lebih besar di dalam masyarakat ataupun dalam kebijakan.

Tapi yang pasti, pola asuh di dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Pola asuh yang baik salah satunya didapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan tidak melulu melalui sekolah formal, banyak jenis pendidikan non formal yang juga dapat membantu dalam mengembangkan pola asuh anak yang sesuai. Supaya nantinya anak dapat adaptif dalam merespon lingkungannya.

Saya menulis ini karena hari ini anak dampingan pertama saya melanjutkan proses hukumnya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) setelah berada di lembaga selama sekitar sembilan bulan. Banyak hal yang dapat kita cegah sebelum potensi masalah menjadi masalah dalam kaitannya tentang anak. Penguatan keluarga menjadi salah satu caranya, dan sepertinya itu yang akan menjadi fokus saya beberapa waktu ke depan. Menyampaikan melalui jalur perorangan, membuat adil sejak dalam pikiran dan perbuatan, dalam rangka memahami bumi manusia dengan segala permasalahannya.

Pikir matang-matang, dipertimbangkan dengan waktu yang cukup. Kalau butuh diskusi, mari kita berdiskusi. Saya bisa saja salah, tetapi selalu ada kemungkinan kalau saya juga bisa benar.

One reply on “Adil Sejak dalam Pikiran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.