Kategori
Narasi

Panasea itu Pernikahan

Persepsi masyarakat Indonesia tentang pernikahan itu unik. Pernikahan dianggap sebagai obat panasea bagi semua permasalahan.

Saya kurang setuju seandainya pernikahan dijadikan tempat melatih kemandirian. Mungkin banyak juga yang tidak setuju dengan pernyataan saya tersebut. Itu hak anda. Apa yang saya tulis biasanya berdasarkan pengalaman dan ilmu yang saya pelajari. Meskipun saya belum menikah, tetapi ada banyak sekali pengalaman orang yang saya amati kaitannya dengan pernikahan. Baik pengalaman indahnya dan juga pengalaman kurang indahnya.

Pekerja sosial yang bekerja di setting klinis akan sangat sering bertemu dengan keluarganya, dengan segala keunikannya juga dinamikanya.

Menarik dilihat kalau banyak sekali tayangan televisi ataupun tayangan melalui media lain yang menglorifikasi pernikahan usia muda. Pernikahan muda (bukan usia anak) itu memang tidak saya permasalahkan, apalagi kalau memang sudah siap malah sangat baik seandainya dapat dilakukan. Tapi perlu banyak hal yang dipikirkan kembali. Kecuali pernikahan dianggap hanya sebagai syarat administratif saja, tanpa melihat kesakralannya. Tanpa melihat esensi dalam perjalanannya. Saya dapat menyampaikan seperti itu melihat banyak fenomena di lapangan. Pernikahan hanya sebagai aksesoris.

Peer presure jadi alasan pernikahan yang diburu-buru, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Ujung-ujungnya kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan, malah tersampaikan ke publik. Ujung-ujungnya publik akan menilai secara diam-diam ataupun secara terbuka. Tergantung budaya dan nilai yang ada di masyarakat. Akhirnya pernikahan bisa tidak berjalan mulus, yang jadi korbannya siapa? Salah satunya adalah anak.

Pernah saya bahas juga di tulisan saya mengenai relasi kuasa.

Pernikahannya erat kaitannya dengan tugas perkembangan manusia yang setiap individu berbeda-beda pencapaiannya. Tugasnya sebenarnya sudah coba dipetakan oleh para ahli, tapi ya memang manusia dengan segala keunikannya. Ada anak dampingan saya yang pemikirannya dan perilakunya sudah sangat dewasa, ada juga orang dewasa yang sering perilaku dan pemikirannya seperti anak-anak.

Apalagi sekarang saya pribadi melihat usia biologis tidak menjadi patokan utama lagi dalam menjelaskan kematangan mental seseorang, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga hubungan pernikahan.

Sekarang, izinkan saya sebagai pemantik diskusi. Tulisan ini juga bukan untuk menilai bahwa hubungan yang sedang anda jalani itu belum baik, setiap orang punya preferensinya masing-masing. Tapi yang perlu diperhatikan adalah dampaknya kepada pasangan dan juga anak akan besar. Terlantar dan ditelantarkan adalah salah dua dampaknya. Pernikahan tidak sebercanda itu.

Pernikahan tidak sebercanda itu

Sosial Media

Motif orang menggunakan sosial media tentunya akan berbeda-beda. Ada yang untuk bersilaturahmi, ada yang untuk mengaktualisasikan diri, ada yang untuk mengetahui kabar terbaru. Pasti akan beda output dan outcome dalam penggunaan sosial media.

Tapi sepertinya ada satu hal yang ingin saya ajak anda untuk bersepakat.

Sosial media pribadi kita biasanya hanya untuk menampilkan citra diri yang positif. Menampilkan hal-hal menyenangkan. Ataupun bila hal menyedihkan, biasanya dalam rangka mencari dukungan.

Lain kata. Lain kalimat. Lain maksud.

Kita terjebak oleh sosial media kita sendiri. Kita dijebak oleh alat yang seharusnya memudahkan kita mengaktualisasikan diri. Kita menjebak diri sendiri dalam citra yang sudah terlanjur kita tampilkan. Kaitannya dengan pernikahan? Tentu saja ada.

Banyak pengalaman orang lain yang menceritakan bahwa hubungan pernikahan mereka terjebak oleh citra yang sudah terlanjur mereka tampilkan. Apa salah? Tidak sepenuhnya. Bisa jadi demi menggapai citra yang sudah terlanjur dipublikasikan; individu akan berusaha keras agar citranya bisa berkesinambungan.

Apapun caranya.

Nah di dua kata “apapun caranya” ini yang perlu sama-sama kita amati. Jangan sampai mengorbankan orang lain demi untuk ego pribadi. Dampaknya kekerasan dapat terjadi. Banyak sekali dari pengalaman orang dekat saya tentang adanya kekerasan ini, baik fisik, emosional, maupun seksual. Kekerasan yang dilakukan untuk melindungi citra. Kekerasan yang dibiarkan; dibiarkan karena tidak pernah terbuka. Lingkaran setannya terus berputar disana.

Budaya bungkam masih kuat dan mengakar di Indonesia. Bahkan di usia generasi muda pun, masih banyak praktik budaya bungkam dilakukan. Menjadi lebih kuat apabila sudah ada di tahap yang lebih berkomitmen, masa pernikahan. Kaitannya sudah dengan nilai dan budaya di masyarakat.

Masalah adalah aib.

Aib merusak citra.

Citra yang rusak akan berakibat banyak ke variabel lain di kehidupan. Maka dari itu ada hukuman sosial yang sering dipraktikkan di masyarakat, untuk mengajarkan tentang budaya malu. Apapun yang terjadi, masalah apapun yang muncul. Harus dikunci rapat-rapat di dalam hubungan tersebut. Merasa tidak perlu menjangkau profesional. Akhirnya kekerasan yang ada, mengalir dan dibiarkan mengalir oleh kedua belah pihak. Sampai ada korban, baik secara fisik, emosional, ataupun seksual. Semoga saya salah.

Normalisasi

Hubungan yang tidak baik memang mudah diamati, sulit dipahami, kompleks untuk diatasi. Beberapa diantara kita mungkin memiliki hak istimewa/privilage dengan mendapatkan hubungan yang sehat. Ada juga yang sedang diuji dengan hubungan yang tidak sehat. Hal yang saya pelajari adalah sulit untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat. Banyak variabel yang masuk di dalamnya.

Keluarga.
Citra.
Ekonomi.
Cinta?

Pada kondisi dimana korban potensial sudah tidak dapat berbuat banyak, orang lain yang harus bergerak. Kekerasan atau abuse menariknya sekarang dinormalisasi. Sulit bagi korban untuk keluar, tetapi orang lain atau bahkan korban sendiri cenderung menormalisasi kekerasan yang timbul tersebut.

“ya itu kan hubungan mereka”
“urus aja rumah tangga sendiri”

Sayang, Kita secara sadar menormalisasi perilaku kekerasan dan perilaku mengontrol. Menganggapnya sebagai sebuah hal yang tidak dapat dihindari. Mengamini sebagai kejadian yang wajar dalam sebuah hubungan. Dampaknya panjang dan dapat menurun ke generasi selanjutnya bila tidak hati-hati.

Panasea

Saya tidak bilang pernikahan itu buruk. Saya menyampaikan bahwa pernikahan itu perlu banyak dipikirkan. Beberapa waktu lalu saya juga mengikuti training psikologi pernikahan yang diadakan oleh UGM, dan memang ternyata sangat kompleks variabel-variabel dalam pernikahan. Bukan untuk ditakutkan, lebih untuk dijaga agar dampak buruk nantinya kepada anak tidak terjadi.

Kesakralannya perlu dijaga, setidaknya untuk saya pribadi. Bukan acara seremonialnya yang perlu dihitung; tapi komunikasi pranikah dengan mengungkapkan harapan antar pasangan perlu digaungkan. Ini yang perlu di normalisasi.

Kedepannya saya punya harapan besar bahwa para orangtua tidak menganggap pernikahan sebagai obat panasea yang bisa menyembuhkan berbagai macam masalah sosial seseorang. Pernikahan bukan tempat latihan. Kekerasan bukan outcome yang diharapkan. Perceraian tidak pernah menjadi cita-cita siapapun. Kapanpun itu.

Pernikahan tidak semudah kutipan-kutipan bijak yamg bersliweran di Internet.

Mungkin ini tulisan saya yang paling tidak terstruktur, but let it be. Bisa saja pemikiran saya akan pernikahan akan berubah suatu saat nanti. Bisa saja saya akan menjadi hipokrit.