Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Kenapa Pekerja Sosial?

Pekerja Sosial menjadi sebuah profesi yang tergolong baru di Indonesia. Perannya bisa besar, tetapi masih banyak yang belum mengenal. Ini beberapa alasan saya memilih menjadi seorang pekerja sosial.

Bahkan sepertinya keluarga juga kurang paham dengan profesi yang saya jalani sekarang. Tapi untuk ini memang salah saya sepertinya kurang waktu untuk dapat menjelaskan.

Intervensi utama pekerja sosial adalah mengenai keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, organisasi, maupun masyarakat. Sudah pernah saya tulis mengenai keberfungsian sosial di link berikut.

Tentang Keberfungsian Sosial

Keberfungsian sosial menjadi “nyawa” dari profesi pekerjaan sosial. Kalau ditanyakan kepada mahasiswa pekerjaan sosial tentang definisi profesi, saya berani jamin mayoritas akan menyebutkan atau menyinggung keberfungsian sosial di definisinya. Sasaran intervensi ideal yang dicita-citakan dapat dicapai oleh semua klien yang ditanganinya. Juga merupakan salah satu aspek dari kondisi “sehat” yang didefinisikan oleh World Health Organization […]

Sejujurnya pun saat berkuliah di STKS Bandung pada awalnya saya belum tahu nanti lulus akan menjadi apa. Belum memahami tentang profesi pekerja sosial. Baru di tingkat 2 dan tingkat 3 saya mulai mendalami tentang pekerja sosial; utamanya tentang seberapa kompleksnya profesi ini dan besaran dampaknya bila dilakukan secara benar ataupun sebaliknya bila dilakukan secara salah.

Hal yang saya cintai

Ada banyak hal yang sebenarnya membuat saya kembali jatuh cinta lagi dan lagi kepada profesi ini. Salah satunya adalah cara pandang profesi pekerja sosial dalam menangani suatu kasus

Cara Pandang

Saya sangat bangga dengan cara pekerja sosial melihat manusia. Pekerja sosial melihat manusia dengan berbasis pada strength-based perspective, melihat kekuatan dan potensi yang telah ada di dalam manusia tersebut. Jadi tidak hanya melihat masalahnya saja.

Tidak hanya itu, pekerja sosial juga melihat manusia sebagai sebuah unit yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Mempengaruhi masalah, mempengaruhi sumber daya, mempengaruhi pembuatan keputusan, mempengaruhi cara menghadapi masalah, dan mempengaruhi sangat banyak hal lainnya. Sehingga pada intervensi yang dilakukan sangat jarang hanya berfokus pada klien saja yang harus diubah. Lingkungan pun biasanya akan ikut terseret untuk mendapatkan intervensi dalam proses manajemen kasus yang dilakukan oleh pekerja sosial. Penyelesaian secara holistik.

Kesempatan Belajar

Hal lainnya yang juga membuat saya cinta dengan profesi ini adalah saya sangat banyak belajar dari klien. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya saya memang gemar mengobservasi manusia dan segala dinamikanya. Mempelajari manusia yang punya banyak sekali perbedaan variabel antara satu dengan yang lainnya.

Karena saya bekerja di setting anak, cukup sering saya bertemu dengan klien yang seperti saya; tapi versi mudanya. Saya bertemu dengan kesalahan-kesalahan yang mereka buat, dan berharap agar mereka bisa kembali adaptif. Berharap agar mereka dapat kembali ke keluarga, sebagai tempat pengasuhan terbaik bagi anak.

Saya menemukan hal-hal baru dalam perjalanan, meskipun baru seumur jagung saya menekuni profesi ini. Bahagianya, saya belajar banyak hal-hal baru sembari berkesempatan membantu anak-anak yang saya dampingi.

Hal yang saya masih perlu menyesuaikan

Ada beberapa hal juga yang sepertinya saya perlu menyesuaikan dalam berprofesi sebagai pekerja sosial. Saya anggap sebagai tantangan meskipun bisa juga menjadi beban suatu saat nanti

Bermain dengan Harapan

Disadari tidak disadari profesi ini dekat dengan harapan. Mudahnya, pekerja sosial memiliki wewenang untuk bermain dengan harapan. Harapan yang muncul dari berbagai pihak, seperti keluarga, lembaga perujuk, masyarakat, lembaga tempat bekerja, dan juga harapan dari klien itu sendiri. Menyeimbangkan harapan yang ada dan menyelaraskannya dengan proses intervensi memiliki seninya tersendiri. Harapan yang tidak terpenuhi pun akan sangat bisa menjadi beban bagi pekerja sosial.

Begitu besarnya dampak dari harapan dan cukup menakutkan apabila tidak dapat dipenuhi. Tetapi kita juga perlu melihat sisi sebaliknya, dengan adanya harapan; dengan dijaganya harapan. Maka dapat menjadi penguat nomor satu dalam proses perubahan perilaku. Kalau klien sudah tidak punya harapan untuk berubah, maka tugas utama kita adalah kembali menumbuhkan harapan itu.

Keseimbangan dalam menjaga dan merawat harapan adalah kuncinya.

Maka dari itu, penting dalam tahap awal untuk membuat kontrak pelayanan yang realistis disesuaikan dengan waktu penanganan. Membuat kesepakatan dan memberikan penjelasan bahwa perubahan perilaku bukan sesuatu yang instan. Prosesnya bisa lama dan juga memerlukan dukungan dari seluruh pihak yang peduli, yang belum peduli pun harus bisa dirangkul agar menjadi peduli. Memperbanyak sumber yang dapat diakses.

PR yang Dibawa Pulang

Dalam beberapa kesempatan, kasus dari klien yang saya dampingi ikut terbawa sampai ke rumah. Maksudnya sampai benar-benar terpikirkan saat sarapan, saat berolahraga dan pada beberapa kesempatan di luar pekerjaan. Saya keluar rumah dengan bahagia pada pagi hari dan pulang dengan membawa beban. Apalagi kalau saya tahu ada hal lebih yang sebenarnya bisa dilakukan dalam penanganan klien, tetapi dibatasi oleh banyak variabel di lapangan.

Pekerja sosial rawan dengan burnout, maka dari itu pada saat skripsi saya melakukan penelitian tentang burnout pekerja sosial medis di salah satu rumah sakit rujukan pusat. Berdasarkan penelitian saya salah satu kunci agar terhindar dari burnout adalah menyesuaikan harapan dan melakukan self care.

Saya menjadi sering mendengar tentang istilah self care. Banyak orang yang terus mengingatkan untuk tetap menjaga diri kita sendiri, tidak hanya dipermukaan. Tetapi juga menjaga apa yang ada di dalam. Tiap orang punya caranya masing-masing, tapi untuk saya caranya dengan menulis.

Mengenai pembelajaran tentang burnout ini juga pernah saya tulis di link berikut.

Jangan Menyembuhkan

Fenomena burnout satu dekade belakang ini semakin mencuat. Memasuki masa revolusi industri, dimana setiap orang dituntut untuk melakukan segalanya dengan efektif dan efisien. Hal ini membuat setiap orang berlomba-lomba melakukan pekerjaan terbaiknya. Atau sebaliknya, berlomba-lomba mencari cara agar dapat melakukan pekerjaannya dengan sesuai dan menghindari hukuman. Benar atau salah. Bukan posisi saya untuk menilai.

Ditulis dan diselesaikan Sabtu, 14 Desember 2019 di Poli Jiwa Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram dalam rangka pendampingan klien.

Radityo Bimo Kartiko Aji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.