Nyaman? tidak juga. Rumah saya di Bondowoso selalu jadi tempat yang ternyaman.

Ramah? tidak juga. Yogyakarta dan Surakarta dengan budaya dan orang-orangnya menjadi tempat yang paling membekas tentang keramahan.

Wisata? tidak juga. Tempat saya bekerja sekarang di Lombok selalu punya cara sendiri untuk memunculkan wisata-wisata baru tiap periodenya.

Paling ingin dikunjungi? tidak juga. Semarang menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi, entah apa alasannya.

Banyak kenangan? tidak banyak. Bandung masih menjadi tempat yang saya titipkan paling banyak kenangan.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi. Saya tahu alasannya. Jakarta menarik karena ketersinggungannya. Ketersinggungan dengan orang-orangnya. Ketersinggungan dengan latar belakang budaya orang-orang yang datang dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengadu nasib melalui taxi online dan pekerjaan lainnya. Ketersinggungan dengan kecemasan yang muncul dibalik cerita orang lain. Ketersinggungan dengan suara yang akan menjadi favorit dari setiap perjumpaan. Ketersinggungan dengan cepatnya perubahan perilaku bisa ditampilkan oleh manusia. Ketersinggungan dengan mudahnya seseorang menjadi sosok yang paling cepat kita kenali di tengah keramaian.

Dan masih banyak ketersinggungan lainnya. Lalu, karena saya menarik diri dari beberapa sosial media, saya pun mohon izin untuk menaruh beberapa kumpulan foto yang saya ambil di Jakarta di blog ini.