Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Mengamati Kondisi Diam

Menggunakan diam menjadi sebuah seni sendiri dalam memberikan layanan sebagai pekerja sosial. Tulisan tentang kondisi-kondisi diam yang saya amati sesuai pengalaman saya di lapangan.

Saya sering mendapatkan kesempatan mengamati interaksi antara anak-anak dengan orang tuanya, anak-anak dengan teman sebayanya, anak-anak dengan pembina termasuk pekerja sosial ada di situ. Hal yang menarik adalah adanya diam. Kediaman yang terjadi bisa karena banyak hal. Persepsi orang akan berbeda akan diam yang ditunjukkan oleh lawan bicara. Orang bisa saja menganggap diam yang ditunjukkan adalah keengganan dari lawan bicaranya untuk menanggapi hal yang sedang dibicarakan. Bisa saja orang marah karena ini. Bisa juga orang bingung karena kediaman ini. Pernah juga kediaman yang terjadi disepelekan. Biasanya saya lihat di interaksi antara orang tua dengan anak.

Hal yang menjadi potensi masalah ketika kediaman ini di sepelekan. Diam yang terjadi dianggap sebagai suatu keadaan yang normal. Pada dasarnya mungkin ada beberapa orang yang memang senang menyendiri, menarik diri dari lingkungan sosialnya. Tapi bagi saya pribadi sepertinya tidak ada orang yang menyukai kondisi sepi. Tidak ada orang yang menikmati kesepian. Maka dari itu diam adalah suatu subjek diskusi yang menarik baik bagi praktisi maupun bagi anak atau keluarga itu sendiri.

Ada beberapa kondisi diam yang saya temui pada saat berpraktik.

Pertama, adalah kondisi diam antara orang tua dan anak. Beberapa kasus klien yang saya dampingi, menunjukkan dan menampilkan kondisi diam yang terjadi antara orang tua dan anak. Biasanya saya sudah memiliki hasil asesmen yang dilakukan kepada anak, asesmen yang mengacu pada instrumen Biologis Psikologis Sosial Spiritual (BPSS). Dalam beberapa kasus saya juga sudah memiliki hasil assesment yang dilakukan kepada orangtua anak. Seandainya tidak dapat langsung, saya bisa menanyakan kepada pendamping kemasyarakatan dari Bapas; yang tentunya nanti harus di verifikasi lagi kepada orang tua yang bersangkutan.

Berdasarkan hasil asesmen tersebut, saya bisa memprediksi bagaimana pola interaksi antara orang tua dan anak. Informasi yang didapat juga membantu saya memetakan potensi masalah yang dapat terjadi atau masalah yang sudah terjadi.
Lalu pada suatu waktu saya mencoba melakukan temu keluarga antara orang tua dan anak. Saya pertemukan keduanya yang memiliki latar belakang keluhan antara satu dengan lainnya. Anak memiliki keluhan terhadap orangtuanya. Orang tua juga memiliki keluhan kepada anaknya. Hal yang menarik adalah di beberapa kesempatan pertemuan tersebut orang tua dan anak sama-sama diam, tidak mengatakan keluhan yang mereka rasakan antara satu dengan yang lainnya.

Kalau di posisi anak biasanya karena mereka takut kepada orang tuanya. Kalau dilihat dari posisi orangtua, biasanya mereka takut salah bicara kepada anaknya. Kondisi diam pun akan sering terjadi. Kondisi diam yang di belakangnya ada bahaya laten dari masalah-masalah yang ada tapi tidak tersampaikan. Setelah pertemuan keluarga pun masing-masing pihak akan kembali saling menyalahkan satu sama lain, meskipun sebelumnya sudah difasilitasi untuk dapat menyampaikan masalah yang ada.

Siklus ini pun sering berulang. Hanya muncul keinginan saling menyalahkan, tanpa adanya usaha untuk menyelesaikan. Sebenarnya siklus ini bisa diputus. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tahu bahwa diam tidak akan menyelesaikan masalah. Saya jadi ingat perkataan salah satu dosen saya Bapak Aribowo di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung pada mata kuliah CO/CD. Perubahan yang dilakukan kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat dapat digambarkan melalui tahapan Tahu, Mau, Mampu.

Tahu bahwa ada masalah.

Mau menyelesaikan masalah yang ada.

Mampu menyelesaikan masalahnya.

Seandainya keluarga sudah tahu bahwa diam adalah masalah, maka tugas Pekerja Sosial selanjutnya adalah mendorong keluarga untuk mau menyelesaikan masalah. Seandainya keluarga sudah mau menyelesaikan masalah, maka tugas selanjutnya dari Pekerja Sosial adalah memberikan kemampuan kepada keluarga tersebut untuk dapat menyelesaikan masalahnya.

Kedua, kondisi diam antara pekerja sosial dengan klien. Saya pun secara sadar maupun tidak sadar sering menggunakan kondisi diam ini. Biasanya pada saat melakukan asesmen kepada klien. Ada dua hal yang menjadi dasar yang biasanya menjadi alasan kenapa kondisi diam dilakukan pada saat asesmen. Menunjukkan penghargaan kepada klien dan memberikan waktu bagi klien untuk merefleksikan jawabannya.

Klien yang saya tangani sejauh ini adalah klien anak yang berkonflik dengan hukum. Sebelum sampai di Balai anak-anak sudah ditanyakan berbagai macam hal oleh penyidik di kepolisian. Satu hal yang saya yakini adalah pertanyaan yang diberikan oleh seorang penyidik kepolisian dan seorang pekerja sosial meskipun dengan topik yang sama akan berbeda penyampaiannya. Seni profesinya sudah berbeda. Pekerja Sosial menempatkan klien sebagai subjek dari perubahan perilaku yang akan dilakukan. Disitulah penghargaan terhadap klien muncul. Pekerja Sosial akan menempatkan dirinya sebagai seorang pendengar, maka dari itu proses asesmen bisa menjadi suatu proses yang memakan waktu. Proses asesmen akan terus dilakukan, karena prosesnya yang spiral sampai kasus benar-benar diterminasi.

Pekerja Sosial juga memberikan klien waktu untuk meresapi dan merefleksikan ceritanya sendiri. Hal ini dilakukan dengan menampilkan kondisi diam. Seringkali setiap individu sudah mengetahui solusi dari masalahnya, tapi terkadang masih membutuhkan penguatan dari orang lain bahwa solusi yang dia pikirkan itu tepat. Diam yang dipakai berguna pada kondisi seperti ini. Membantu orang sampai pada tahap mengatakan, “oh iya ya” atau “kenapa saya sampai bisa begitu ya” atau juga “apa yang sudah saya lakukan dengan hidup saya.”

Tapi kondisi diam yang dilakukan juga perlu hati-hati. Jangan sampai karena salah menggunakan diam, klien menganggap sedang membuang-buang waktu meminta bantuan kepada pekerja sosial. Hal ini bisa diminimalisir seiring bertambahnya jam terbang pekerja sosial, dengan menemui berbagai macam tipe-tipe klien.

Ketiga, melihat ke konteks yang lebih besar. Diam juga menjadi budaya di beberapa masyarakat kita. Diam yang mengarah ke bungkam. Dibungkam. Budaya bungkam, dimana individu dalam masyarakat tidak bisa menyampaikan pikirannya. Tidak bisa menyampaikan hal yang sebenarnya dianggap masalah. Mungkin sudah terpatri sejak awal. Sejak kita juga masih anak-anak.

“engga usah bilang ke ke orang lain, malu”

“sudah ini aib keluarga, engga perlu orang lain tahu”

Ada benarnya, ada juga tidak benarnya. Budaya bungkam menjadi penyebab banyak masalah sosial di masyarakat menjadi tidak disadari. Tidak bisa dinilai. Saat masalah tidak disadari menjadi sebuah masalah maka tidak akan ada penyelesaiannya.

Contohnya seperti kesehatan mental pada beberapa tahun lalu yang belum seramai dibicarakan seperti tahun ini. Kasus eksploitasi pekerja anak berlatar belakang budaya yang bergerak secara senyap. Pernikahan di usia anak yang masih ada di beberapa wilayah, meskipun batas usia pernikahan sudah dinaikkan.

Semua kondisi tersebut dapat dilanggengkan dengan masih adanya budaya bungkam di masyarakat. Kondisi diam yang sebenarnya tidak diharapkan. Tapi mungkin masih dibutuhkan sampai saat ini. Sama-sama tahu ada potensi masalah, tapi sama-sama sepakat untuk tidak mau melihat dan menyelesaikan masalah tersebut.

Lalu, mau sampai kapan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.