Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Keluarga yang “Ada”

Mengambil beberapa pembelajaran dari kegiatan Family Support. Mempelajari kembali tentang kelekatan yang muncul dalam sebuah hubungan.

Kaitannya dengan keluarga, utamanya keluarga dari klien yang saya tangani. Banyak tarik ulurnya. Terkadang berdasarkan hasil asesmen, justru keluarga yang mungkin memberikan pengasuhan yang salah sehingga dampak jangka panjangnya dirasakan oleh anak-anak pada saat ini. Tapi saya juga tidak bisa menegasikan begitu saja peran keluarga dalam proses rehabilitasi bagi klien. Kembali berulang lagi saya sering disadarkan baik secara langsung maupun tidak langsung, keluarga berperan besar bagi anak; atau lebih tepatnya keluarga bertanggung jawab besar kepada anak, terlepas dari digunakan dengan baik atau tidak tanggung jawab tersebut. Maka perlu memang dilakukan asesmen resiko yang tepat, untuk mengetahui kita memberikan intervensi demi kepentingan anak atau kepentingan keluarga. Dua-duanya kadang hampir sama pentingnya; tapi justru disitu seninya untuk menyeimbangkan.

Keluarga yang ada itu baik, tapi jauh lebih baik keluarga yang “ada”. Keluarga yang tidak hanya hadir fisiknya, tapi juga hadir kehangatan, hadir kepedulian, hadir cintanya untuk anak-anaknya. Perspektif pekerja sosial juga memiliki sejarah melihat klien sebagai seseorang yang ada di lingkungannya. Person in Environment. Melihat bahwa permasalahan yang muncul bukan hanya karena klien itu sendiri, tetapi harus dilihat secara keseluruhan dan diselesaikan secara holistik. Keluarga menjadi salah satu yang ada dalam lingkungan klien. Bahkan mungkin menjadi yang paling besar memberikan pengaruh kepada klien.

Saya masih banyak melihat dari beberapa pengalaman sebelumnya. Cukup banyak keluarga yang menganggap bahwa apabila anak berada di tempat lain selain di rumah, contohnya di balai atau panti tempat anak dititipkan.
Tidak jarang, setelah anak dititipkan; beberapa keluarga atau orangtua mempersulit diri sendiri atau mengadakan hambatan-hambatan yang mungkin ada, tetapi sebenarnya bisa diatasi untuk memberikan dukungan kepada anaknya. Banyak keluarga yang menganggap bahwa dengan dititipkannya anak ke suatu balai atau panti, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab tempat penitip. Menjadi hilang tanggung jawab orangtua kepada anaknya.

Salah? tidak sepenuhnya.

karena memang, kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) dan pengembangan keberfungsian sosial anak akan dibantu oleh lembaga yang dititipkan. Ada juga pembina dan pengasuh yang bertugas mengawasi dan memberikan binaan kepada anak-anak. Tetapi ada hal yang tidak bisa digantikan oleh para petugas; yaitu kasih sayang, kelekatan, kehangatan, rasa cinta dari orangtua dan keluarga sendiri kepada anak. Karena pada dasarnya pembina dan pengasuh adalah orang-orang yang “ditugaskan” oleh lembaga atau instansi tertentu. Saya yakin akan beda ceritanya dengan mereka yang memang surat tugasnya langsung ditanda tangan oleh Yang Maha Kuasa.

“Saya harap orangtua bisa akur”

“Saya berharap supaya saya bisa diterima lagi di rumah”

“Saya mau diberi kepercayaan oleh orangtua”

“Saya mau dipeluk sama bapak ibu”

“Saya harap engga dipukuli lagi”

“Saya mau orangtua engga sibuk kerja”

Beberapa harapan yang dituliskan oleh anak-anak, kemudian dibacakan oleh perwakilan dari anak-anak juga kepada orangtua yang hadir pada kegiatan dukungan keluarga kami. Menariknya harapan dari anak perempuan lebih spesifik, daripada beberapa harapan anak laki yang lebih umum.

Kelekatan atau attachment antara orangtua dan anak menjadi salah satu hal yang ingin dicapai dari kegiatan kami. Saya sendiri melihat kelekatan sebagai sesuatu yang menarik. Salah satu karakteristik dari kelekatan adalah perasaan kehilangan atau terpisah ketika individu terpisah dari figur yang lekat dengan dirinya.

Contohnya.

Misalkan saya sebagai pekerja sosial di suatu instansi. Saya menangani seorang klien anak yang dirujuk. Pembangunan kepercayaan yang baik menciptakan rapport baik juga yang tercipta. Klien anak menjadikan saya tempat berlindungnya, menjadi tempat untuk menyamankan dirinya. Setiap ada masalah anak akan bercerita ke saya untuk mencari saran dan masukan. Lalu dalam perkembangannya ada satu dua hal yang membuat anak harus terpisah dari saya. Tapi kami tidak merasakan stres akan perpisahan tersebut. Tidak ada perasaan terpisah atau kehilangan. Jadi bisa dibilang interaksi kami selama ini bukanlah sebuah interaksi kelekatan atau attachment bond.

Karena pada dasarnya duka dan rasa kehilangan adalah inti dari teori attachment atau kelekatan.

Kelekatan dan pemisahan itu seperti dua mata koin yang berbeda. Kelekatan penting untuk bertahan hidup, dan rasa duka kehilangan yang muncul dari kelekatan berfungsi sebagai motivasi hebat untuk terus menjaga hubungan kelekatan yang terjadi; agar tidak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan. Ini yang perlu kita perhatikan bersama-sama, perlu kita jaga untuk orang-orang terdekat kita yang muncul interaksi kelekatannya. Maka perlu diketahui juga reaksinya dari kehilangan atas kelekatan yang terjadi. Reaksi yang muncul secara berurutan adalah protest, despair, dan detachment.

Protest dimaksudkan untuk memberikan pertanda kepada subjek individu tersebut lekat untuk segera mengakhiri pemisahan yang terjadi, untuk melanjutkan interaksi kelekatan yang sudah ada sebelumnya. Protest menunjukkan penolakan untuk menyerah kepada perpisahan atau kehilangan yang terjadi. Sedikit sulit menanggapi reaksi protest, karena yang diinginkan oleh individu yang melakukannya adalah aksi untuk menghentikan kehilangan atau pemisahan; bukan kata-kata yang menyamankan mereka.

Despair atau putus asa akan muncul apabila tidak ada pertemuan kembali dalam durasi waktu tertentu. Individu akan menjadi diam, akan menunjukkan putus asa dengan adanya harapan bahwa subjek kelekatannya akan kembali kepada individu tersebut. Waktu tidak bisa diputar diulang kembali, dan yang telah hilang tidak bisa kembali muncul. Menghadapi realita yang memang terjadi daripada melakukan pelarian dari realita tersebut. Ada baiknya, ada buruknya. Tinggal tugas pekerja sosial untuk lebih menguatkan hal baik yang ada di reaksi despair atau putus asa ini; karena pada dasarnya reaksi putus asa ini perlu bagi seseorang untuk bergerak menghadapi duka yang dihadapi. Kalau kata anak sekarang untuk move on.

Akhirnya, apabila interaksi sama sekali tidak terjadi dan pemisahan terus berlanjut, individu akan menjadi diam dan masuk ke tahap detachment atau tahap pemisahan dan penarikan terjadi; reaksi yang bisa membahayakan kepada individu tersebut juga, utamanya bagi anak-anak yang belum bisa memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri.

Perbedaannya di orang dewasa biasanya kita memiliki satu cara sendiri untuk mereorganisasi kelekatan yang sudah muncul. Mencari subjek kelekatan lain yang bisa menjadi pengganti, meski mungkin tidak akan pernah sama.

Anak-anak yang sudah menunjukkan reaksi detachment, tentunya tidak kita inginkan bersama-sama. Kita tidak ingin anak-anak kita merasa tidak memerlukan kembali orangtuanya. Merasa bahwa tidak ada gunanya berharap ke orangtuanya. Membayangkan bahwa tidak penting keberadaan orangtuanya dalam hidupnya. Maka dari itu penting bagi kita untuk memahami ketika anak sudah memunculkan reaksi protest, untuk subjek kelekatannya sesegera mungkin mengakhiri pemisahan yang terjadi, memberikan perhatian kepada individu yang melakukan protest. Bagaimanapun interaksi kelekatan adalah interaksi dua arah. Perlu respon dari masing-masing individu untuk membangun, menjaga, dan memperbaiki kelekatan yang ada. Sebelum individu tersebut merasa subjek kelekatannya hilang permanen. Sebelum grief atau duka muncul. Sebelum individu tersebut merasa tidak memerlukan lagi adanya interaksi kelekatan dengan subjek yang sebelumnya ia merasa lekat.

Saya sebenarnya sangat menyayangkan seandainya ada anak yang sampai merasa tidak memerlukan orangtuanya. Terkecuali memang dalam keadaan-keadaan darurat yang membahayakan anak tersebut. Tapi semoga pelan-pelan, sedikit demi sedikit melalui tanggung jawab yang diberikan. Kita dapat bersama-sama membuat lebih baik lagi pola pengasuhan yang mungkin masih belum sesuai di masyarakat. Demi kepentingan terbaik untuk anak. Bisa saja anak mendapatkan keluarga atau orangtua pengganti, tapi saya rasa kelekatannya akan berbeda dengan orangtua kandungnya.

“Pak saya kemarin itu pertama kali peluk Amaq (Bapak) saya. Saya nangis minta maaf, Amaq saya cuma lihat keatas kaya tahan nangis juga.” Kata salah seorang anak dampingan saya di Balai.

Saya tahu kegiatan family support kemarin juga masih dapat diperbaiki lagi kedepannya, tapi saya berharap semoga kegiatan kemarin dapat menjadi pemicu awal dari terbangunnya hubungan baik antara anak dan orangtua di lingkungan keluarganya nanti. Kita percaya bahwa pengasuhan terbaik itu ada di keluarga, dengan prayarat ideal yang sudah ditentukan. Seperti yang kita tahu juga, anak tidak akan selamanya ada di Balai ataupun panti. Suatu saat mereka akan kembali ke keluarga, akan kembali ke masyarakat.

Saya memang belum menjadi orangtua, tetapi saya belajar banyak sebagai pekerja sosial di setting anak. Saya berterima kasih kepada orang-orang baik yang sudah bersinggungan dan mengajarkan banyak hal tentang pentingnya menjadi orangtua. Semoga anda juga memahami pentingnya menjadi seorang orangtua bagi diri sendiri dan juga anak-anak anda nantinya. Ayo menjadi keluarga yang “ada”, tidak hanya sekedar ada. Ayo peduli.

Ditulis di Mataram, 31 Oktober 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.