Kategori
Cerita Pendek

tentang Pertiwi (Bagian 2)

Anak perempuan meminta bantuan kepada yang katanya sang penolong. Bagian ke-2.

“Wah saya pikir untuk pertemuan pertama kita, sudah banyak informasi yang saya dapat. Tapi Pertiwi ada yang mau disampaikan lagi?”

“Ada mas, banyak. Masnya mau menemani aku dan mendengarkan kan?”

“Iya saya mau.”

Laki-laki itu kembali duduk di kursinya. Pertiwi pun dipersilahkan kembali menceritakan semua hal yang ingin diceritakannya. Biasanya pada pertemuan pertama klien-klien dari laki tersebut tidak mau berlama-lama. Tapi kali ini berbeda. Pertiwi ingin didengarkan. Mungkin karena tidak ada lagi yang mau mendengarkannya di luar sana. Mungkin tidak ada yang mau menemani.

“Mas, aku sebenarnya bingung dengan sikap kakakku. Aku kan adiknya, kita ini sedarah lo. Kok iya aku malah dimarahin waktu mau menyampaikan pendapatku ke orangtua penggantiku. Pakai diancam-ancam lagi. Katanya aku mau dibuat menangis setiap hari, kalau sampai menyampaikan pendapatku. Katanya lagi kalau aku tetap memaksa aku akan direndam di bawah air yang mengalir sampai aku tidak bisa bernafas.”

“Hmm, mungkin tidak kalau cara Pertiwi yang mungkin kurang tepat menyampaikannya?”

“Kurang tepat bagaimana mas? kalau aku engga menyampaikan langsung; aku yakin engga akan didengar. Ya aku ngelakuin cara yang menurut aku bisa dilakukan mas.”

“Iya paham Pertiwi. Perlu diingat juga kalau kakakmu itu hanya menjalankan tugas. Seandainya dia berlebihan itu salah dan perlu kamu ingatkan. Perlu saya juga mengingatkan, karena tugas utama seorang kakak adalah melindungi dan mengayomi siapapun yang ada di rumah.”

Pertiwi mengangguk menandakan kepahamannya. Matanya melihat langit-langit di ruangan berukuran 4 x 5 tersebut. Tempat dimana banyak orang lainnya menceritakan masalah-masalah yang ada di rumahnya sejak dulu. Pria tersebut terus mengobservasi gesture dan mimik yang ditunjukkan Pertiwi. Utamanya di mata Pertiwi. Dia percaya bahwa mata seseorang sering kali menceritakan hal yang lebih berarti dibanding kata-kata yang tersurat. Begitu juga dengan kasus Pertiwi.

“Kamu tidak apa-apa? kalau boleh saya menilai, sepertinya kamu sedang sedih. “

“Aku hanya terpikir kata-kata temanku yang juga punya masalah di rumahnya mas.”

“Kenapa memangnya dengan mereka, Pertiwi?”

“Ada temanku yang sudah hilang karena masalah dirumahnya. Hilang untuk selamanya. Katanya sih dilempar kelereng ke arah paru-parunya oleh kakaknya juga; entah bagaimana ceritanya pun aku engga tahu. Ada temanku yang sedang tergeletak lemah di rumah sakit. Mungkin menunggu untuk hilang juga. Ada temanku yang dimasukan di ruang isolasi oleh kakaknya; katanya menganggu kondisi rumah mereka. Ada temanku yang hanya bisa menangis sendiri di kamarnya, engga tahu harus berbuat apa. Atau meskipun tahu harus berbuat apa, tetapi engga bisa melakukan apa-apa karena banyak faktor mas.”

“setiap orang punya masalahnya masing-masing, Ti. Boleh kan saya panggil nama pendek kamu dengan Ti? Kadang menyebut Pertiwi secara keseluruhan agak aneh di lidah saya.”

“boleh maas.”

“Iya setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tapi sebenarnya kebutuhan tiap orang juga sama pada akhirnya.”

“Ah engga mungkin mas, kan tiap orang beda.”

Laki-laki tersebut pun menggambarkan sebuah segitiga di sebidang kertas, sambil menunjukkannya kepada Pertiwi.

“Mudahnya gini Ti, salah satu rujukan saya yang belum pernah berubah tentang kebutuhan itu dari Diagram Kebutuhan Maslow. Disitu dijelaskan kalau manusia itu akan ada 5 tahap kebutuhan dalam hidupnya. Dimulai dari kebutuhan fisiologis sampai pada kebutuhan untuk aktualisasi diri di puncaknya. Misalnya Pertiwi kebutuhan fisiologisnya sudah terpenuhi. Maka kamu akan naik untuk mencari kebutuhan akan rasa aman. Sepertinya saat ini kebutuhan akan rasa aman belum kamu dapatkan ya?”

“Iya mas hehe. Aku ngerasa engga aman di rumah sendiri. Apalagi kakakku yang keras ke aku. Aku tahu kok dia juga hanya menjalankan tugas. Tapi gimana ya. Aku takut.”

“Iya tidak apa-apa Ti. Ketakutan kamu dan kecemasan kamu itu hal yang wajar. Bukan hal yang perlu ditakuti dan bukan hal yang harus kamu pendam. Saya yakin kamu mampu melewati semuanya. Saya menyampaikan tentang Diagram Maslow juga ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kebutuhan dasar kamu sudah terpenuhi, dan itu pantas sama-sama kita syukuri.”

“Iya mas. Alhamdulillah untuk kebutuhan dasar sepertinya aku sudah merasa dicukupkan.”

Pria tersebut tetap mencatat hal-hal penting yang sudah disampaikan oleh Pertiwi. Tidak semuanya tapi, karena pria itu juga tidak mau kehilangan momen untuk menunjukkan bahwa dia peduli kepada Pertiwi dan segala masalahnya. Membangun rapport yang baik untuk mempermudah dalam proses pertolongan yang akan dilakukan.

“Lalu kira-kira Pertiwi ada rencana kedepannya kah untuk menyampaikan ketidaksetujuan kamu kepada orangtua penggantimu?”

“Ada mas, tapi aku masih bingung cara mencapainya. Aku masih perlu waktu lagi untuk memikirkannya, boleh?”

“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”

“Iyaa mas. Terima kasih.”

One reply on “tentang Pertiwi (Bagian 2)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.