Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Pekerja Sosial Anak dan Batu Sandungnya

Pekerja Sosial Anak mempunyai seninya sendiri. Sedikit gambaran pengalaman saya sebagai pekerja sosial anak di BRSAMPK “Paramita” di Mataram.

KOMPETISI DENGAN YANG MUNGKIN TIDAK HARUS DIAJAK BERKOMPETISI

Hal yang saya maksud disini adalah biasanya dalam proses pertolongan terkadang pekerja sosial anak lupa akan peranan dan batasan-batasannya. Anak-anak yang dibantu oleh pekerja sosial, kebanyakan pada awalnya adalah involuntary client, atau anak-anak yang sebenarnya tidak tahu apa itu pekerja sosial secara definisi maupun secara tupoksi yang dilakukannya; tetapi dirujuk oleh keluarga atau lembaga lainnya sehingga menjadi klien dari pekerja sosial.

Beberapa pekerja sosial dalam membangun rapport baik dengan klien, memiliki caranya masing-masing. Cara yang berbeda-beda ini tujuannya sama menurut saya, yaitu untuk memperoleh kepercayaan dari klien untuk mempermudah dalam menjalankan proses pertolongan. Proses pembangunan kepercayaan antara pekerja sosial dan klien ini seringnya memposisikan pekerja sosial sebagai seorang pahlawan bagi sang anak, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.

Hal ini dapat menjadi potensi yang berbahaya menurut saya, dikarenakan posisi pekerja sosial yang menjadi orang baik perlahan-lahan dapat menggantikan posisi orangtua kandung si anak. Apalagi kalau latar belakang masalah anak ada kaitannya dengan orangtua. Karena pada akhirnya proses pelayanan kepada anak, utamanya dalam setting institusi; akan mengembalikan anak kepada keluarga atau lingkungan masyarakatnya. Sebuah hal yang tidak mungkin anak akan berada di dalam institusi seumur hidupnya.

Pada perjalanannya ada kemungkinan bahwa orang tua sadar bahwa posisinya berada di bawah pekerja sosial anak. Anaknya sendiri menganggap bahwa pekerja sosial adalah orangtua penggantinya. Kondisi ini dapat menyebabkan orangtua menarik anaknya dari proses pelayanan yang diberikan. Seandainya situasi anak bukan situasi krisis, maka pekerja sosial pun tidak berhak untuk menahan anak untuk kembali ke keluarga. Proses pelayanan yang sedang berjalan pun berhenti.

SUPERVISI

Supervisi dalam teori memang mudah dihafalkan. Biasanya dalam pekerja sosial secara teori merujuk kepada tiga macam supervisi. Supervisi administratif, supervisi pendidikan, dan supervisi dukungan pribadi. Tapi dalam pelaksanaannya, kegiatan supervisi sering terlupakan. Baik karena ketidakadaan waktu ataupun kendala-kendala lainnya yang ada di lapangan. Pekerja sosial yang memiliki peranan sebagai manajer kasus pun terkadang lupa bahwa dalam setiap pekerjaan, tidak mungkin diri pribadi pekerja sosial dapat melakukan penilaian yang objektif terhadap pekerjaannya sendiri; saya pribadi pun pernah lupa. Apalagi kalau pekerja sosial sudah merasa bahwa permasalahan anak relate dengan dirinya, peksos merasa mempunyai latar belakang permasalahan yang hampir sama dengan anak. Hal ini bila dibiarkan berlarut-larut dapat menimbulkan bias pekerja sosial dalam proses pelayanan.

Supervisi ini penting utamanya untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dari pekerja sosial. Kaitannya juga dengan proses pelayanan untuk mengetahui apakah rencana pelayanan yang sudah disusun berdasarkan asas self determination dari klien sudah sesuai dengan pelayanan yang dapat difasilitasi oleh institusi pekerja sosial bekerja. Seandainya kebutuhan klien belum dapat terfasilitasi, disitulah sistem rujukan yang integratif digunakan.

Supervisi juga diperlukan karena penanganan terhadap permasalahan anak itu cukup kompleks. Melibatkan banyak pihak. Pada pelaksanaan proses pelayanan pekerja sosial pun harus sering berkoordinasi dengan keluarga anak, karena anak belum bisa menentukan tujuan hidupnya sendiri dan belum dapat mengukur pencapaiannya yang diinginkan. Maka dari itu diperlukan supervisor yang dapat memberikan masukan-masukan ataupun perbaikan secara berkelanjutan dalam proses pelayanan terhadap klien.

BANGGANYA MENJADI PAHLAWAN

Menjadi pekerja sosial bagi saya pribadi memiliki kepuasannya tersendiri. Apalagi kalau rencana intervensi yang sudah disusun berdasarkan asesmen yang baik dapat terlaksana. Apalagi target jangka pendek dan jangka panjang dalam pelaksanaan intervensi dapat tercapai atau bahkan melampaui yang sudah direncakan. Bangga rasanya, seperti menjadi pahlawan dalam satu hari itu.

Tapi sensasi menjadi pahlawan ini melengahkan.

Penanganan klien oleh pekerja sosial, apalagi yang menjadi seorang manajer kasus memiliki tanggung jawab yang besar. Seringnya karena kita terlalu masuk dalam masalah anak, kemudian merasa punya tanggung jawab untuk “menyelamatkan” anak; pekerja sosial pun bergerak terlalu cepat. Terlalu cepat disini sampai-sampai mengabaikan pelibatan orangtua dari anak tersebut dalam proses perencanaannya intervensi yang dilakukan. Hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa pekerja sosial yang tahu segalanya. Pekerja sosial adalah Superman yang dikirim khusus untuk menyelamatkan si anak.

Klien anak adalah individu yang ada di dalam sebuah sistem yang sudah ada. Seandainya satu individu itu berubah peran atau memiliki tugas-tugas baru. Kemungkinan besar akan berdampak pada individu lain dalam sistem tersebut. Contoh mudahnya anak-anak yang tiba-tiba sekolah tanpa sepengetahuan orangtua. Orangtua tentunya dalam jangka panjang perlu mempersiapkan untuk uang saku, transportasi, keperluan lainnya untuk anak. Kalau pekerja sosial bergerak terlalu cepat dan mungkin terlupa mengabarkan kepada keluarga maka akan ada ketidakstabilan di dalam sistem keluarga tersebut. Ketidakstabilan ini yang dihindari dalam rangka meningkatkan keberfungsian sosial dari anak dan juga keluarga.

seni

Maka dari itu dosen-dosen saya di STKS Bandung yang kini berubah menjadi Poltekesos Bandung dulu sering mengatakan bahwa profesi pekerja sosial adalah sebuah seni tersendiri. Saya yang masih mahasiswa pada waktu itu pun bingung maksud dari kalimat tersebut. Sampai saya pun terjun sendiri di dunia profesi pekerja sosial. Karena memang ternyata bentuk penanganan dari satu pekerja sosial dengan pekerja sosial lainnya berbeda. Tergantung dari latar belakang nilai yang dianut, pendidikan yang diterima, pengalaman menghadapi masalah anak, dan bahkan sampai perbedaan bahasa pun sangat memiliki pengaruh dalam bentuk-bentuk pelayanan yang dihasilkan dari satu pekerja sosial dengan pekerja sosial lainnya.

Seandainya profesi ini memang profesi seni. Saya bangga bisa ikut menghidupkan seni-seni yang hidup dan berkembang di dalamnya. Salam pekerja sosial. Salam kesejahteraan sosial.

selesai ditulis pada 25 September 2019 Pukul 16.23 WITA di Ruangan Layanan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos) – Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Paramita” Mataram.

ttd.
Radityo Bimo Kartiko Aji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.