Kategori
Cerita Pendek

tentang Pertiwi

Anak perempuan meminta bantuan kepada yang katanya sang penolong.

“Halo, aku Pertiwi. Aku butuh bantuan anda”

“boleh apa ada yang mengganjal?”

“aku bingung aku ini apa”

“bisa dijabarkan lebih jelas?”

“bisa asal mas tidak marah?”

“kenapa dianggap akan marah?”

“karena teman semua marah”

Pria tersebut mempersilahkan Pertiwi untuk duduk di sebuah sofa panjang dengan bantalan ternyaman yang pernah dibuat di dunia. Menawarkannya minum yang ditolaknya dan mempersiapkan tisu yang sudah disimpannya disebuah box hitam di samping kursi tersebut.

“Tadi kata Pertiwi ada yang mengganjal? boleh dijabarkan kembali?”

“boleh. Jadi aku tinggal di rumah yang sedang banyak masalah. orangtua kandungku tidak ada. yang ada hanya orang tua pengganti yang diberikan kepadaku. tanpa keinginanku sendiri.”

“masalahnya apa karena orang tua pengganti mu Pertiwi?”

“sepertinya jauh lebih kompleks daripada itu. masalah di rumahku tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk kepada satu pihak saja. sepertinya. ini masalah bersama. karena kami semua merasakannya. kami semua akan terdampak. mungkin juga kami semua yang jadi penyebabnya”

“kami itu siapa?”

“orang-orang yang merasa tinggal dan juga merasa memiliki rumah ini, siapapun itu”

Pria tersebut mulai mencatat apa saja yang disampaikan oleh Pertiwi. Pada catatannya banyak coretan-coretan kecil yang ia tambahkan sendiri sebagai pelengkap dari informasi yang diberikan Pertiwi. Semacam penilaian pribadi.

“Orang tua penggantiku sepertinya tidak tahu keinginanku. Padahal aku sudah sering menyampaikan pikiranku melalui berbagai cara. Tapi tetap saja tidak didengar. Aku kan anak mereka. Aku juga punya hak untuk didengar.

“kalau boleh tau, contohnya seperti apa?”

“Masa tiba-tiba orang tua penggantiku menyuruhku untuk mengawasi ayam peliharaan ku 7×24 jam. Kalau sampai keluar dari halaman rumah, katanya akan akan di denda dipotong uang jajan. Terus kan aku kerja di Ibukota. Rumah mahal, jadinya aku sharing cost dengan beberapa temanku yang lain. Ada yang perempuan, ada yang laki-laki juga. Masa katanya aku mau dimasukin ruang isolasi seandainya aku pulang ke rumah nanti. Padahal orang tua penggantiku engga pernah tuh memikirkan bagaimana aku tinggal sebelumnya, membiayai saja tidak. Tanya tentang kenyamananku saja tidak.”

“okey berarti Pertiwi menganggapnya orang tua pengganti pertiwi tidak adil ya?”

“iya sangat tidak adil. orang tua macam apa yang tiba-tiba menerapkan aturan tanpa kasih tahu anaknya dulu”

“tapi bukannya itu fungsi orang tua ya? memberikan batasan-batasan yang mungkin dianggap oleh mereka untuk kebaikan Pertiwi?”

“iya memang mas, tapi kan mereka bukan orangtua kandung ku. mereka jadi orangtua pengganti saja bukan karena keinginanku. mereka di pilih oleh keluarga besarku yang lain, untuk merawat aku katanya. sebagai perwakilan dari orangtua kandungku yang sudah lama aku tidak bertemu”

“lalu Pertiwi sudah pernah melakukan sesuatu untuk menunjukkan ketidaksetujuan kamu kepada orang tua pengganti?”

“sudah mas”

“dengan cara bagaimana ya kalau boleh tahu Pertiwi?”

“aku datangi langsung ke kamar mereka waktu mereka sedang santai sore. aku sampaikan keinginanku mas, langsung kepada mereka. tapi mereka belum sempat mereka menjawab. kakak ku malah mengusirku. aku dibilang menganggu waktu istirahat orang tua penggantiku di penghujung sore. padahal kan aku hanya mau bilang kalau aku juga mau didengar.”

Pria tersebut terus mencatat informasi yang keluar dari Pertiwi. Sambil terus memperhatikan seluruh gesture dan mimik yang dikeluarkan. Observasi sementara pria tersebut menilai Pertiwi sudah jengah dan jujur menyampaikan seluruh informasinya, tanpa dipengaruhi faktor-faktor lainnya. Pertiwi hanya ingin didengar. Pertiwi hanya ingin diakui.

“oh iya, kira-kira mas bisa bantu saya kan?”

“saya akan mengusahakan yang terbaik ya.”

“wah berarti mas akan menemui kedua orang tua pengganti saya langsung kan? dan menyampaikan bahwa mereka salah?”

“di jangka panjang mungkin iya. tapi ada banyak hal yang harus saya pastikan kembali. Saya bekerja secara holistik. Saya juga punya kode etik yang harus saya jaga. Saya harus koordinasi dengan banyak orang lainnya untuk memastikan yang terbaik bisa diberikan untuk kamu. Untuk saya ini saya tidak bisa turun langsung ke orang tua kamu, tapi nanti seandainya memang benar-benar ada krisis yang terjadi. Saya pastikan saya akan melakukan intervensi pada krisis tersebut. ini juga pertemuan pertama kita kan, dipertemuan selanjutnya saya ingin lebih mendengar lagi tentang perkembangan kamu ya Pertiwi.” Kata pria berambut hitam sembari memberikan air minum yang telah disiapkannya dari tadi.

One reply on “tentang Pertiwi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.