Kategori
Refleksi

Gratitude

Salah satunya tentang syukur.

Dua hari yang lalu saya berbicara melalui telepon dengan teman saya yang bekerja di sebuah NGO di Kota Bandung. Kebetulan beliau sedang ada tugas selama kurang lebih sebulan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dalam hampir satu jam kami bicara, kami tukar informasi tentang nilai-nilai yang kami temukan selama bekerja dan bagaimana kondisi di lapangan dari orang-orang yang kami bantu. Meskipun berbeda setting. Beliau lebih makro, saya sangat klinis. Padahal saya masih ingat kalau saya yang paling ingin di Makro, dan beliau ingin bekerja di klinis. Malah ketuker pada akhirnya untuk sementara. Suatu saat saya juga akan bergerak di bidang kesejahteraan sosial secara makro.

Kembali ke obrolan, kami banyak bertukar pikiran tentang keadaan dari masyarakat yang ada di lingkungan tempat kami bekerja. Beliau banyak menggambarkan keadaan di Sumba, saya sedikit banyak coba menggambarkan keadaan di Lombok. Diobrolan itu sepertinya secara tidak langsung kami mengaminkan bahwa keadaan kehidupan kami, mungkin bisa dibilang harus lebih disyukuri dibanding saudara kita di luar sana yang mungkin menurut perspektif kami masih kurang beruntung. Saya pakai kata perspektif kami, karena kami juga tidak mau menilai bahwa hidup mereka tidak baik atau tidak layak. Karena yang menjalani mereka, dan mereka sendiri yang tahu tentang segala perihal di dalamnya. Intinya kondisi yang ada di diri kita semua harus disyukuri.

Kembali ke bersyukur, beberapa waktu terakhir juga entah karena apa; banyak teman-teman saya yang memberi kepercayaan saya untuk mendengarkan cerita mereka. Saya juga banyak belajar dari orangtua klien yang saya tangani, dengan berbagai latar belakang dan berbagai masalah juga potensinya.

Untuk cerita dari teman-teman saya masalah utamanya ada dua hal. Pekerjaan dan Jodoh. Untuk pekerjaan saya bisa sedikit banyak membantu memberi saran, untuk masalah jodoh saya sedikit banyak bisa mengacaukan dari saran yang saya beri hahaha. Tapi ada pola yang menarik dari beberapa teman yang cerita kepada saya, utamanya tentang masalah pasangan. Kaitannya dengan ekspektasi, konsekuensi, dan selektif. Pada penghujungnya kalau boleh saya tarik kesimpulan, bermuara di syukur.

Ekspektasi selalu jadi awal pendirian komitmen. Komitmen membuat individu mau memulai sesuatu, mempercayakan sesuatu. Tapi ekspektasi juga yang menjadi pembatal janji, ketika komitmen di awal tidak bisa dilakukan secara konsisten sampai mencapai hal yang dituju.

Tidak ada yang terbaik, kesimpulan yang bisa saya tarik. Saya, kamu, kita semua ini bukan yang terbaik. Kita ini sama-sama penakut, kita ini sama-sama mudah gugup, atau mungkin kita ini sebenarnya sama-sama tidak ada yang siap. Tapi dengan segala keterbatasan yang ada, lucunya muncul sebuah pola. Manusia dengan segala masalah dan keterbatasannya dengan segala yang menghambatnya dari hal-hal yang saya sebutkan diatas. Tidak mau mundur, tidak ada yang bisa menariknya mundur. Membuatnya berpaling, membuatnya menghilang. Padahal kita tahu kita ini tidak dititipi berbagai kelebihan yang mungkin dimiliki orang lain, mungkin kita juga tidak ada yang bisa dibanggakan. Tapi ternyata masih berani-beraninya kita sebagai manusia ini menaruh dan membuat ekspektasi kepada orang lain. Kita tahu mungkin kita ini bukan yang terbaik dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang terbaik untuk siapapun itu. Kata kuncinya ada di kata cukup. Cukup untuk nantinya digantungkan impian dan harapan orang lain. Cukup untuk tidak menjadi penyebab kesedihan. Cukup untuk menjadi sandaran siapapun itu nanti. Menjadi manusia yang dicukupkan.

Berkaitan dengan konsekuensi. Semua pilihan manusia pasti akan mengikuti konsekuensi yang juga sesuai. Kadang bisa diprediksi, sering kali tidak. Saat manusia memutuskan untuk mengubah dua subjek individu menjadi satu subjek bersama, dari aku dan kamu menjadi kami atau kita. Berarti seseorang tersebut sudah siap dengan segala konsekuensinya. Jika dia begini, maka kehidupanmu akan begitu. Kebiasaan begini, budaya antara dua orang yang begitu; sering kali akan menimbulkan pertanyaan jangan-jangan bukan manusia ini? ada keraguan. Wajar. Kita memang manusia dengan segala ketidakyakinannya. Tapi justru itu yang membuat kita menjadi manusia, kalau saya kutip salah seorang teman berkata, “ya harus dinikmati, perasaan manusia dengan segala gejolaknya.”.

Mengenai selektif saya tidak bisa berkomentar banyak, tapi dari pola yang saya alami dan saya pelajari. Ujungnya pencarian manusia bukan lagi kepada kriteria yang mengharuskan semua kotak prasyarat di centang. Tapi lebih kepada penerimaan. Bisakah dia menerima saya dengan segala kekurangan saya, bisakan saya menerima dia dengan mungkin segala kekurangannya. Karena memang pada akhirnya manusia akan disadarkan bahwa memang tidak ada yang serba sempurna untuk bisa dipilih, tetapi selalu ada yang “ada”, selalu ada yang pantas, selalu ada yang sesuai untuk dipilih, selalu ada yang layak. Selalu ada yang patut untuk disyukuri. Jangan sampai selektif kita menjadi dilema bagi diri sendiri. Kembali ke rasa syukur.

Karena mau tidak mau, suka tidak suka. Manusia akan selalu mengatakan, “saya akan mendampingi kamu dengan sungguh, kalau diragukan. Saya akan mendampingi kamu dengan tangguh” dan akan dijawab berbeda-beda pula oleh manusia lainnya. Hak mereka untuk menjawab berbeda, tapi setidaknya kita sebagai manusia sudah mencoba. Seandainya memang bukan kembali ke bersyukur.

Saya bersyukur beberapa waktu kemarin banyak diajari tentang bersyukur. Semoga kalian juga. Sampai bertemu di waktu dan tempat yang jauh lebih baik ya rekan-rekan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.