Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Lima Tahapan yang Tidak Bertahap untuk Menerima

Photo by Felipe Vallin on Pexels.com

Kita, berarti termasuk saya dan kamu. Meskipun berbeda-beda tetapi ada saja hal yang membuat kita semua ini terkoneksi. Salah satunya adalah grieving atau duka atau kesedihan. grief itu universal dan saya rasa setidaknya sekali dalam hidupnya pernah mengalami dan merasakan grief atau kesedihan ini. Biasanya sebagai respon terhadap penyakit yang kronis pada diri sendiri, kehilangan sebuah hubungan yang dekat, atau bahkan sampai kematian dari seseorang yang penting untuk kita. Kubler-Ross pada tahun 1969 mencoba menjelaskan tentang tahapan ini, dalam bukunya “On Death and Dying“.

Rasa kesedihan atas alasan-alasan tersebut biasanya akan banyak mengubah sudut pandang kita akan kehidupan. Saya sendiri sering menyebut bahwa kunci kehidupan itu ada di harapan. Selama ada harapan, selama dipelihara harapannya, selama dijaga harapanya maka hidup akan terasa seperti hidup. Tidak terjeda. Tidak berhenti.

Hal yang perlu diingat adalah setiap orang itu bersedih atau berduka dengan caranya sendiri-sendiri. Ada orang yang akan lebih terbuka dan lebih emosional akan kesedihannya. Ada juga yang akan lebih memaknai kehilangannya secara personal, dan mungkin tidak akan menunjukkan kesedihannya, tidak menangis. Penting diingat agar kita juga sebagai individu yang terkadang sama lemahnya, tidak saling berlomba untuk menilai pengalaman orang lain mengenai grief yang dirasakannya. Manusia dengan segala keunikannya atau kalau kata Minke, “Bumi Manusia dengan segala masalahnya.”

Kubler-Ross sendiri menyatakan bahwa ada lima tahapan dari grief ini. Sebenarnya bukan tahapan diksi yang tepat. Karena tidak semua orang yang bersedih atau berduka akan melewati secara urut tahapan-tahapan ini. Bisa jadi malah hanya melewati dua atau tiga tahapan tanpa bersinggungan dengan kelima-limanya.

Kelima tahapan tersebut adalah.

  • Denial (Penolakan)
  • Anger (Marah)
  • Bargaining (Tawar-menawar)
  • Depression (Depresi)
  • Acceptance (Penerimaan)

Dimana penerimaan biasanya menjadi akhir. Menjadi ujung dari kesedihan yang dirasakan dari grief yang terjadi. Kunci untuk memahami tahapan ini bukan dengan memaksa diri untuk melewati setiap tahapannya secara runut. Tapi, akan lebih membantu untuk melihat kelima tahapan tersebut sebagai sebuah panduan di dalam memahami proses grieving. Tahapan ini juga bukan untuk secara mudah menyimpulkan sebuah kumpulan emosi yang sangat kompleks kedalam paket-paket mungil.

Ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangi, rasa sakitnya bisa teramat sangat. Sometimes it can feel unbearable. Normal bila seperti itu. Proses grieving itu kompleks dan bahkan kita akan sering bertanya-tanya apakah sakitnya akan berhenti. Kita hanya perlu ingat, bahwa kesedihan dan duka kita itu seunik kepribadian kita masing-masing. Tidak perlu merasa malu, bingung, dan sedih. Ini hanya proses yang membuat kita merasa menjadi manusia seutuhnya yang memiliki akal dan perasaan masing-masing.

Sebenarnya mudahnya penyebutan tahapan ini adalah “5 stages of grief” tapi saya lebih memahami dan lebih mudah dalam berdiskusi dengan menyebutnya sebagai lima tahapan untuk menerima.

Denial

Denial adalah salah satu tahapan pertama yang biasanya terjadi. Denial menjadi salah satu cara kita untuk mencoba bertahan dari kehilangan yang dirasakan. Reaksi utama dari proses kehilangan yang terjadi adalah menolak realita yang ada. “Ini tidak mungkkin terjadi, ini tidak boleh terjadi.” Sering kita dengar kata-kata tersebut dari orang lain ataupun diri kita.

Tahapan ini sering kali membuat dunia yang kita jalani menjadi tidak berarti dan terasa membebani dari setiap sisinya. Hidup menjadi tidak masuk akal. Membuat kita berpikir bagaimana kita bisa melaluinya, dan bila kita melaluinya, bagaimana cara kita melaluinya, lalu mengapa kita harus melaluinya.

Hal yang menjadi kunci dari tahapan denial adalah kita sebenarnya bukan menganggap bahwa kehilangan itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah kita berusaha mengumpulkan informasi dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Untuk beberapa orang, tahapan ini menjadi pintu masuk utama yang sebenarnya membantu kita menghadapi gelombang-gelombang sakit yang akan dirasakan selanjutnya.

Anger

Tahapan anger atau marah. Menurut saya pribadi merupakan tahapan kunci dalam proses penerimaan yang akan dicapai. Keluarkan saja amarah, meskipun kadang bisa tidak ada akhirnya marah yang kita rasakan. Lebih banyak kita bisa merasakan marah kita keluar, akan lebih memudahkan bagi diri kita dalam proses penyembuhannya juga. Sebenarnya banyak emosi yang berada di bawah marah yang kita keluarkan, cuma seringnya kita terlebih dahulu paham dan sudah lebih berpengalaman memahami emosi marah yang kita rasakan dibanding emosi-emosi lain yang muncul.

Yang perlu dijaga adalah, terkadang marah tidak ada batasnya. Kita sendiri yang harus memberi batasan. Marah yang tidak terukur sering kali akan mempengaruhi orang lain, teman dekat, keluarga, orang yang hendak menolong, bahkan diri kita sendiri. Kita hidup di masyarakat yang takut akan emosi marah. Padahal saya pribadi percaya, bahwa marah yang terukur menjadi salah satu sumber kekuatan. Menjadi sebuah pondasi awal dalam perubahan. Memberikan kekuatan awal untuk berdiri dalam menghadapi kehilangan yang kita rasakan.

Tapi kemarahan sebenarnya dapat lebih diterima di masyarakat kita, daripada mengakui bahwa kita sebenarnya ketakutan menghadapi kehilangan kita. Marah itu normal, dan sekali lagi emosi-emosi yang ada di tahapan-tahapan ini yang membuat kita menjadi manusia, yang sebenarnya itu tidak sekuat perkiraan kita. Wajar.

Bargaining

Sebelum kehilangan terjadi. Sering kali kita membuat sebuah penebusan kepada otoritas yang jauh lebih tinggi. “Saya akan lakukan apapun, agar yang terburuk tidak terjadi.” atau “Saya akan lakukan apapun, asal dia bisa kembali.”

Tahapan ini sadar atau tidak sadar membuat kita banyak mengeluarkan pernyataan “bagaimana jika, bagaimana kalau, andai saja waktu itu” dan berbagai pernyataan serupa lainnya. Kita mencoba menawar rasa bersalah kita. Kita menganggap dengan rasa bersalah, kita bisa membalikkan keadaan seperti saat kehilangan belum terjadi. Meskipun akan sangat sulit untuk demikian. Tahap bargaining membuat kita tertinggal di masa lalu. Kita mencoba membuat penawaran agar diri kita keluar dari rasa sakit yang dirasakan.

Padahal sebenarnya kita tahu, penawaran yang kita lakukan adalah untuk menunda hal yang sebenarnya tidak terhindarkan. Menghibur diri sendiri dengan skenario-skenario ideal yang kita idam-idamkan.

Bargaining juga membuat kita lebih terfokus kepada kesalahan pribadi kita ataupun penyesalan-penyesalan kita. Kita mungkin akan memutar kembali memori kita bersama orang yang sudah hilang dari hidup kita. Mencatat semua kesalahan kita yang membuat dia tersakiti. Kita me-recall memori kita mengenai kata-kata yang seharusnya tidak kita sampaikan. Kita membuat asumsi sendiri bahwa apabila yang terjadi adalah skenario yang berbeda, mungkin hasilnya juga akan berbeda.

Depression

Tahap depression atau depresi merupakan salah satu yang mungkin bisa dibilang terberat dan mungkin juga akan menjadi tahapan yang cukup panjang. Sebenarnya kita juga tidak bisa melakukan self diagnosis dan mengatakan kita depresi. Harus ditentukan oleh yang memang profesional berdasarkan gejala-gejala yang kita rasakan. Tapi sepemahaman saya yang dimaksud pada tahapan ini adalah respon yang kita keluarkan akan kehilangan yang besar.

Penarikan diri dari lingkungan, berputar dalam pusaran kesedihan, munculnya pertanyaan-pertanyaan untuk apa melanjutkan apabila harus melanjutkannya sendirian. Depresi setelah kehilangan adalah hal yang wajar. Mungkin kita akan menjadi tidak ingin terlalu berinteraksi dengan banyak orang, menjangkau lebih sedikit orang untuk membantu menghadapi rasa sedih yang dirasakan. Satu hal yang menjadi catatan adalah menghadapi depresi setelah kehilangan orang yang penting bagi kita, akan sangat bisa sekali membuat kita merasa terisolasi.

Mungkin saja kita memang butuh untuk sendirian, tetapi belum tentu kita bisa menghadapi kesepian yang mengikutinya.

Seandainya kita tidak merasakan gejala-gejala depresi setelah orang yang berarti untuk kita hilang, malah menjadi sesuatu yang sepertinya tidak wajar. Tahapan ini adalah sebuah proses dari tahapan penyembuhan diri. Bukan akhir, setidaknya demikian yang idealnya terjadi. Idealnya.

Penerimaan

Kita sering salah mengartikan bahwa yang dimaksud dengan menerima kondisi adalah kita menerima dan merasa baik-baik saja atas apa yang telah terjadi. Banyak orang yang bahkan tidak merasa baik-baik saja atas kondisinya. Tahapan ini lebih kepada cara kita menerima kenyataan bahwa orang yang berarti untuk kita telah hilang, dan kita menyadari bahwa ada realita baru yang harus kita terima; dan bukan kita malah merasa baik-baik saja akan keadaan. Tapi kita mencoba menerimanya. Mencoba legowo. Meskipun bisa jadi kita tidak menyukai realita baru kita. Tapi kita mencoba hidup di dalamnya.

Dalam mencoba menerima. Seringnya kita akan tetap menjaga aktivitas kita yang sebelumnya. Sebelum orang yang kita anggap penting hilang. Tapi terkadang aktivitas yang sebelumnya tidak bisa kita lanjutkan. Kita tidak bisa melanjutkan apa yang terjadi di masa lalu. Semuanya sudah berubah dan memang kadang kita harus menyesuaikan. Kita mulai memahami peran diri dan peran orang lain, menaruh peran tersebut kepada orang lain atau menanggungnya menjadi peran diri sendiri.

Dalam proses kita menerima. Kita mungkin akan merasa kita sudah mencurangi orang yang sudah hilang sebelumnya. Kita tidak bisa mengganti apa yang sudah hilang. Tapi kita bisa membuat koneksi baru, membuat hubungan yang berarti kembali, membuat saling ketergantungan yang baru, yang sehat. Meskipun memang, tidak akan bisa mengganti yang telah hilang.

Kita mendengar kebutuhan kita. Kita bergerak. Kita berubah. Kita tumbuh. Kita berevolusi. Kita berevolusi. Kita membuat awal baru dan menjangkau orang lain dan terlibat dalam kehidupaannya. Kita berinvestasi pada diri kita sendiri. Hidup kita mulai berjalan kembali, tapi kita tidak bisa melakukan semua hal tersebut; sampai kita membiarkan rasa bersedih dan berduka kita untuk selesai, untuk hilang.

Mencapai tahapan ini mungkin tidak akan bisa dirasakan semua orang. Bagi kita yang bersinggungan dengan tahapan akhir yaitu penerimaan. Saya ucapkan selamat.

Yang menjadi kunci di tahap penerimaan adalah bukan berarti kita tidak lagi merasakan sakitnya kehilangan. Tapi kita tidak lagi menolak realitas situasi kita dan kita tidak mencoba untuk merubah keadaan yang sebenarnya tidak bisa kita ubah.

Akhir

Menghadapi kehilangan adalah pengalaman yang sangat personal dan unik. Tidak ada yang bisa membantu kita melewatinya secara instan, karena memang pengalamannya akan selalu berbeda dan faktor-faktor yang ada di belakangnya juga tidak sama. Tapi orang lain bisa membantu kita merasa nyaman untuk melewati proses ini. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membiarkan perasaan sedih dan berduka untuk hadir di hidup kita. Menolaknya bisa jadi hanya akan memperpanjang proses yang harusnya dapat kita lewati.

Ingat, rasa berduka dan bersedih adalah proses pribadi yang tidak memiliki batas waktu, atau tidak memiliki panduan pasti bagaimana untuk melaluinya.

Rasa sakit yang saya, kamu, kita rasakan dengan orang yang hilang adalah sesuatu yang unik. Perasaan yang terlibat di dalamnya juga spesial antara satu dengan lainnya. Hal yang wajar untuk kita untuk mengambil waktu dan menghilangkan sementara semua ekspektasi dan standar dari orang lain dalam menghadapi proses berduka atau bersedih.

Jangan dipaksakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.