Kategori
Catatan Pekerja Sosial Refleksi

Berharap itu Gratis, Mencapainya Tidak

Dan itu hal yang wajar. Hal yang saya sering lihat dari banyak orang yang saya temui; Termasuk orang yang setiap pagi saya lihat di cermin. Termasuk manusia anggun yang murah senyum dan tampak tidak memiliki kecemasan. Tampak tidak punya masalah.

Punya banyak kecemasan itu wajar. Menjadi pertanyaan kalau malah tidak punya. Cemas tanda kita punya harapan, dan takut harapan kita tidak akan tercapai. Dalam arti lain, kita masih sering berpikir. Tentang masa depan yang seringnya belum pasti.

Akan kerja dimana?

Akan berdampingan dengan siapa?

Bisa tidak membahagiakan orang lain?

Bisa tidak menjaga diri sendiri?

Dan banyak-banyak kecemasan lainnya.

Tapi yang perlu diingat, stresor-stresor tersebut. Tidak selamanya merupakan stresor yang berdampak buruk. Banyak stres yang dirasakan, sebenarnya justru merupakan stres yang baik.

Misal.

Cemas akan pekerjaan di masa depan pada masa kuliah. Kecemasan ini apabila dapat diolah, malah dapat membuat diri bekerja lebih keras, belajar lebih giat. Jadi, meskipun masa depan masih belum bisa dipastikan, kita memastikan memiliki kriteria yang sesuai untuk menyambutnya.

Misalnya lagi.

Stres yang muncul karena tekanan untuk menikah. Sering terjadi. Sangat sering terjadi. Utamanya berasal dari orang terdekat, keluarga. Bisa menjadi pemicu diri memperbaiki diri, memantaskan diri agar sesuai dengan harapan orang-orang yang menaruh harapan.

Tapi. Apa sesuai dengan harapan pribadi?

Belum tentu. Bisa jadi masalah? Sangat bisa. Bisa jadi penguat? Sangat bisa sekali.

Tergantung pribadi masing-masing dan berbagai faktor yang ikut mendampingi stres tersebut.

Saya pribadi, seandainya sudah jenuh dengan rutinitas. Kecemasan ada banyak. Tetapi sering diri sendiri mencoba menegasi kecemasan yang ada. Hal ini membuat jeda dalam hidup.

Jeda. Semuanya memang berjalan, segalanya berjalan dengan baik. Sesuai harapan. Hubungan dengan orang lain baik. Tapi perasaan terjeda. Tidak merasakan bahagia, tidak merasakan semangat, tidak merasa excited dengan apapun. Punya harapan, sedang mencoba mencapai harapan yang dicatat. Tapi proses pencapaiannya hampa. Tidak merasa apa-apa. Hanya berkegiatan, just like a robot.

Sampai pada suatu waktu. Ada individu atau kejadian yang sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, didatangkan oleh yang Maha Mengatur. Bersinggungan meski mungkin nantinya garis singgungnya bergerak menjauh.

Individu yang tiba-tiba menekan tombol play dalam jeda yang sedang terjadi. Membuat individu merasakan bahagia, merasakan semangat, merasakan kecemasannya kembali. Mematikan mode auto pilot yang menimbulkan jeda dalam keseharian. Sengaja atau tidak disengaja, saya akan terus selalu berterima kasih akan hal itu. Meskipun mungkin individu tersebut, tidak membutuhkan terima kasih saya. Bahkan mungkin tidak sadar bahwa dirinya telah membantu seseorang.

Family Support

Latar belakang diatas lah yang juga menjadi latar belakang pentingnya kehadiran orang lain baik sengaja maupun tidak disengaja dalam bidup orang lainnya. Untuk menekan tombol play dalam hidup yang sempat ter-pause.

Yang termudah dan paling dekat untuk menjangkau seseorang yang membutuhkan pertolongan adalah keluarga. Baik keluarga inti, maupun keluarga lainnya di luar keluarga inti. Baik yang masih mendampingi kita, maupun yang telah mendahului kita. Baik yang masih dapat kita peluk, maupun yang sulit kita peluk karena situasi yang tidak memungkinkan.

Keluarga, adalah salah satu jalan keluar yang membantu untuk menghilangkan jeda dalam kehidupan seseorang.

Tapi keluarga yang bagaimana yang dapat membantu? Keluarga yang dapat membantu adalah keluarga yang sadar. Bahwa ada anggota keluarga lainnya yang memiliki masalah dan perlu bantuan. Keluarga yang sadar bahwa masalah yang dirasakannya, adalah penanda bahwa sebenarnya dirinya sedang diselamatkan. Dan bukan merupakan korban yang dipertontonkan.

Karena banyak keluarga yang tidak sadar, bahwa mereka memiliki masalah; sampai semuanya serba terlambat. Terlambat untuk dapat dipertahankan. Dan itu hal yang sangat mungkin terjadi.

Individu-individu dalam keluargalah yang dapat menjadi salah satu penyelamat yang menekan tombol play dalam kehidupan kita yang sempat terjeda.

Tapi, tidak semuanya punya keluarga yang mau membantu. Yang mampu membantu. Maka dari itu program family support ini hadir. Setidaknya menurut saya seperti itu.

Perubahan perspektif yang juga menjadi salah satu tujuan kegiatan seperti ini.

Saya pribadi berharapnya para keluarga bisa merasa bahwa mereka adalah orang yang diselamatkan. Bahwa mereka adalah orang yang beruntung. Tidak semua orang bisa dijangkau oleh BRSAMPK Paramita atau LKS yang lainnya. Tidak semua orang juga mau dijangkau oleh pelayanan di balai. Banyak anak-anak kita yang membawa perilaku menyimpangnya sampai usia dewasa. Banyak anak-anak yang harus menerima konsekuensi yang jauh lebih berat. Banyak anak-anak yang tidak menjalankan masa anak-anaknya seperti anak-anak seusianya.

Toh semuanya memang harus kontras. Hitam dalam hitam, percuma saja. Putih dalam putih, juga omong kosong. Kalau sudah bertemu dengan hitam yang memberatkan, tinggal menunggu putih yang memberi makna pada hitam yang telah dirasakan. Baik oleh diri sendiri, atau dengan bantuan orang lain.

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.