Kategori
Refleksi

Prioritas Dua Puluhan

setiap orang punya waktunya masing-masing.

Menariknya. Beberapa waktu kebelakang banyak teman-teman dekat saya, yang menceritakan kebutuhannya. Sebenarnya mereka bercerita juga karena saya bertanya suatu pertanyaan atau mereka duluan yang bertanya ke saya. Karena saya juga sedang di dalam kondisi yang sama dengan kebutuhan mereka. Dengan pusingnya mereka.

Pertanyaannya sederhana.

Karir/Pendidikan/Pasangan/Keluarga?

Seandainya sudah kenal dekat dengan siapapun. Entah kenapa, obrolannya nanti tidak akan jauh-jauh dari pertanyaan tersebut. Meskipun tidak secara tertulis, seringnya secara tersirat akan tersampaikan.

Mungkin memang sudah diumur-umur kami ini, oleh budaya yang ada diharuskan untuk memilih pilihan-pilihannya.

Dan memang teman-teman dekat saya. Utamanya beberapa waktu terakhir ini. Sering sharing dengan saya tentang hal-hal tersebut. Saya juga senang saja mendengarkan cerita-cerita mereka, dan belajar dari latar belakang mereka menceritakan pilihannya.

Saya juga tidak bisa men-judge pilihan mereka benar atau salah. Yang saya tahu alasan dibalik pilihan mereka. Mendukung pilihan yang mereka pilih dan mempertahankannya.

Ada orang yang lebih memilik karir.
Ada yang lebih memilik untuk berpasangan.
Ada yang lebih memilih untuk keluarga.
Ada yang mengejar pendidikan setinggi-tingginya terlebih dahulu.

Saya rasa sah-sah saja demikian. Tapi yang terkadang membuat saya bingung dan teman-teman saya bingung juga. Apa tidak bisa semuanya digapai dalam waktu bersamaan. Atau memang harus ada yang dikorbankan?

Terkadang kami sendiri atau kita sendiri bingung dengan sebuah konsep yang disebut prioritas.

Dalam dunia profesi saya, sebagai seorang pekerja sosial. Prioritas ini sering menjadi kata-kata andalan yang dikeluarkan saat menjalankan rancangan intervensi yang telah dilakukan.

Tujuan sudah jelas. Rencana sudah ada. Wah, tapi rencananya ada banyak. Mana dulu yang dikerjakan?

Buat skala prioritasya, katanya.

Atau misalnya sedang mengikuti wawancara di sebuah perusahaan atau organisasi. Lalu diberi contoh kasus yang mengharuskan kita berada di dua tempat yang berbeda dalam suatu waktu. Kita dengan mudahnya nanti akan saya buat skala prioritas. Saya lihat dimana saya paling dibutuhkan.

Mudah. Diatas kertas.

Tapi dengan keempat pilihan diatas. Saya dan banyak teman-teman saya kesulitan membuat skala prioritasnya. Misalkan contoh kasusnya untuk saat ini saya memprioritaskan karir dan pendidikan untuk berjalan bersama-sama. Menurut saya hal ini sudah ideal. Sudah menjadi target jangka pendek dan jangka panjang yang sesuai. Lalu dalam suatu kesempatan, Bapak Puji mengatakan, “mau sampai kapan kamu ada di siklus seperti itu, untuk diri kamu sendiri kapan? nanti mau diturunkan ke anak-anak kamu perilaku seperti itu, sehingga membuat jarang bersama keluarga?”

Lalu tanpa diundang seorang teman dekat lama saya beberapa waktu lalu menelfon. Bertukar kabar. Diakhir dia mengingatkan, “jangan kerja terus-terusan, kamu masih muda. jangan diulang kesalahan yang sama ya. jaga diri ya.”

Saya jadi bingung kembali. Saya jadi memikirkan hal ini berulang-ulang ketika ada waktu kosong. Prioritas saya sudah jelas. Karir dan pendidikan. Lalu kenapa saya masih ragu? kenapa saya masih bertanya-tanya kembali? Apa prioritas saya sebenarnya tidak hanya dua hal tersebut?

Saya masih ingin terus meningkat dalam segalanya. Ingin menjadi yang terbaik dalam apapun, untuk keluarga saya. Saya rasa untuk mencapai hal tersebut maka memprioritaskan karir dan pendidikan saya adalah hal yang tepat. Begitulah sedikit gambaran tentang sulitnya membuat skala prioritas di umur dua puluhan. Meskipun dalam perjalanannya, bertemu dengan orang-orang baru; saya yakin prioritas saya akan berubah kembali.

Ada lagi seoarang rekan. Prioritasnya hampir sama dengan saya, cuma bedanya beliau lebih menekankan pada keluarganya. Karena beliau bertanggungjawab terhadap adik-adiknya yang masih di usia sekolah. Hal ini membuat beliau memilih untuk menurukan skala prioritas dalam berpasangan setidaknya sampai beberapa tahun kedepan. Tidak salah. Dan memang masuk akal prioritasnya.

Ada juga teman yang memprioritaskan untuk mendapatkan pasangan terlebih dahulu. Dan itu sah-sah saja. Tidak ada yang bisa disalahkan. Hidup punya pribadi masing-masing. Dan pertanggungjawabannya nanti juga untuk pribadi masing-masing. Toh yang akan menikmati dari pencapaian-pencapaian kita mungkin diri masing-masing juga. Dan semoga kepada kalian yang masing bingung, suatu saat akan menemukan dan mampu menyusun prioritasnya masing-masing.

Prioritas masing-masing. Tapi ya kembali lagi. Namanya juga rencana, suatu saat bisa berubah. Tuhan selalu punya keunikannya sendiri dalam melakukan intervensi terhadap rencana hamba-hambanya. Dan percaya saja, kali ini pun akan demikian.

Tapi.

Yang membuat kami-kami ini sering kebingungan. Sering ragu. Sering galau; Menurut saya adalah kurangnya apresiasi. Bukan apresiasi dari orang lain. Tapi apresiasi dari diri sendiri. Bahwa apa yang telah kita lakukan selama ini, sampai diumur segini sudah hebat. Bisa bertahan dengan masalah-masalah yang terus berkembang di masyarakat. Terus mengembangkan coping strategi dalam menghadapi masalah-masalah yang ada.

Mungkin jika diri sendiri yang ideal mengatakan kepada diri sendiri yang belum ideal, nanti akan jadi seperti ini.

Cukup, jangan terlalu keras ke diri sendiri. Cukup, jangan terlalu kecewa dengan diri sendiri. Kamu sudah datang dari jauh dan sudah melakukan suatu hal yang hebat. Jangan bodoh amat dengan diri sendiri ya. Halo diri saya sendiri, keep me ya.

mungkin idealnya apresiasi diri

Jadi sebenarnya tulisan ini tidak seberat tulisan-tulisan yang lain. Saya menulis juga sebagai refleksi diri dan bagi teman-teman di sekitar saya. Untuk membantu menyelesaikan unfinished business kami masing-masing. Atau seandainya tidak dapat menyelesaikan. Tulisan ini dapat menjadi catatan bahwa sudah pernah mencoba untuk menyelesaikannya.

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.