Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Tentang Keberfungsian Sosial

Photo by Edward Eyer on Pexels.com

Sudah banyak tersebar di internet literatur mengenai keberfungsian sosial atau social functioning. Tapi juga masih banyak pekerja sosial yang sedikit salah kaprah mengenai keberfungsian sosial ini, atau sebenarnya mereka paham mengenai keberfungsian sosial; tetapi mencoba menegasi kebutuhan bahwa setiap klien diharapkan memiliki keberfungsian sosial pada akhir intervensi. Hal-hal seperti ini yang menghilangkan ciri khas dari profesi pekerjaan sosial. Membuat profesi ini semakin meredup popularitasnya. Atau hanya dikenal sebagai “orang yang suka membagi-bagikan bantuan.”

Tidak ada yang salah dengan definisi tersebut. Tapi saya percaya kita bisa melakukan lebih.

Keberfungsian Sosial

Keberfungsian sosial sendiri merujuk pada dua aspek utama, yaitu:

  • Kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan sehari-hari. (untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan).
  • Kemampuan memenuhi peranan-peranan sosial yang diharapkan oleh masyarakat atau subbudaya klien. (Berkaitan dengan harapan masyarakat terhadap individu dan sistem nilai yang tertanam di lingkungan masyarakat tersebut. Pekerja sosial juga membantu menyeimbangkan tuntutan dari masyarakat dan kemampuan coping dari individu.

Nah, terkait dengan kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Seseorang dikatakan berfungsi sosial, apabila mampu menjalankan tugas kehidupan melalui tiga cara:

  • Mampu menjalankan peranan dengan baik. Mengefektifkan segala sesuatu yang diharapkannya untuk diwujudkan secara nyata.
  • Memiliki tanggung jawab terhadap orang lain. Membuat keputusan yang rasional, dapat dipercaya dan mampu berupaya untuk kesejahteraan orang lain.
  • Memperoleh kepuasaan diri dari kinerja, tugas dan pelaksanaan tanggung jawabnya.

Tugas-Tugas Kehidupan

Pemenuhan tugas-tugas kehidupan tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Agar lebih memahami tentang hal ini, saya suka merujuk kepada teori dari Maslow.

Lima Tingkat Kebutuhan Manusia yang terdiri secara hierarkis, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologis yang fundamental
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan kasih sayang
  4. Kebutuhan untuk dihargai
  5. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri

Dengan merujuk pada teori maslow ini, maka pekerja sosial dapat lebih mudah memetakan sasaran intervensi dari klien. Lebih mudah membantu pekerja sosial memberikan gambaran ideal dan gambaran kondisi klien saat ini.

Misal, saya sudah memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Tapi belum memenuhi kebutuhan akan kasih sayang. Jadi intervensi dari pekerja sosial dapat memfokuskan terhadap pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang untuk saya. Setelah itu dapat bertahap membantu memenuhi kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan mengaktualisasikan diri.

Meskipun pada praktiknya, sedikit sulit mengidentifikasi kebutuhan klien. Seringnya akan tumpang tindih antara kebutuhan satu dengan yang lainnya. Disini perlu keahlian dari pekerja sosial untuk membuat skala prioritas bersama-sama dengan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya.

Peranan Sosial

Setiap orang pada dasarnya menduduki beberapa status sosial sekaligus. Contoh misalnya saya suatu saat nanti akan menduduki status sebagai seorang suami, ayah, dan pegawai. Setiap status sosial tersebut disertai peranan sosial tertentu, dan pelaksanaan peran sosial ini menunjukan keberfungsian sosial.

Status sosial memiliki peranan sosial. Pelaksanaan peranan sosial menunjukkan keberfungsian sosial.

Indikator Keberfungsian Sosial

Direktur Jenderal Rehabilitasi Kementerian Sosial, Bapak Edi Suharto. Menyampaikan hal yang sederhana, tetapi mengena saat kegiatan pembinaan pegawai di Kota Bandung pada bulan april lalu. Kebetulan saya dan rekan-rekan di BRSAMPK Paramita juga diundang untuk mengikutinya, bersama dengan rekan-rekan dari BRSAMPK Handayani dan BRSAMPK Antasena.

Beliau menyampaikan sebuah kutipan, “if you can’t measure it, you can’t improve it.” Kalau kita tidak dapat mengukur sesuatu, bagaimana mungkin kita dapat meningkatkan hal tersebut. Ukuran awalnya saja belum tahu.

Ada cara yang cukup sederhana yang saya kutip dari buku Prof. Adi Fahrudin tentang indikator keberfungsian sosial. Mudahnya untuk mengukur keberfungsian sosial, maka dibagi menjadi dua variabel pada sebuah indikator.

  • Indikator Positif, meliputi pencapaian, kepuasan dan penghargaan.
  • Indikator Negatif, meliputi stres, kekecewaan dan ketidakberdayaan.

Mengukurnya sederhana. Seseorang dapat dinilai berfungsi sosial apabila lebih banyak indikator positif yang dirasakannya. Begitupun sebaliknya, apabila lebih banyak indikator negatif yang dirasakannya, maka orang tersebut dapat dibilang masih belum berfungsi sosialnya.

Meskipun harus hati-hati dengan variabel stres. Saya banyak mempelajari tentang stres saat menyusun skripsi saya tentang burnout. Tidak semua stres yang dirasakan oleh individu itu negatif. Ada juga stres yang positif. Stres dengan dosis yang sesuai, malah mampu meningkatkan kinerja seseorang. Maka untuk variabel stres, perlu dilakukan in-depth interview mengenai stres yang dirasakan dan latar belakangnya.

Keberfungsian sosial dapat juga diukur dengan merujuk pada teori segitiga keberfungsian sosial, yang terdiri dari:

  • feeling of self worth (Menghargai diri sendiri)
  • Satisfaction with roles in life (Puas dengan peranan dalam hidup)
  • Positive relationship with others (Relasi positif dengan orang lain)

Indikator-indikator tersebut sedikit banyak dapat membantu pekerja sosial untuk mengevaluasi kondisi klien saat ini, dengan kondisi ideal yang seharusnya dimiliki klien.

Keberfungsian yang Tidak Berfungsi

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi sosialnya. Tapi saya coba padatkan menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Faktor internal (motivasi kurang, coping strategi yang kurang baik, kapabilitas yang belum baik, tidak adanya kemandirian dan berbagai faktor lainnya.)
  • Faktor eksternal (kemiskinan struktural dan budaya kemiskinan yang sulit diubah, persekusi, bencana alam dan faktor-faktor lainnya.)
  • Gabungan dari keduanya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut. Pekerja sosial perlu untuk mampu melakukan asesmen yang tepat agar nanti dalam merencanakan intervensi dan pelaksanaan intervensi, mampu membantu klien untuk berfungsi secara sosial lagi.

Akhir kata, tulisan ini lebih untuk mengingatkan agar mampu menilai keberfungsian sosial diri sendiri. Kalau saya pinjam kata-kata Bapak Pujiarrohman, M.Psi. dari NTN, “sebelum menyelesaikan masalah orang lain, kita harus menyelesaikan masalah kita sendiri. Menyelesaikan unfinished business.

Sumber Rujukan:

Adi Fahrudin. (2018). PERSPEKTIF BIOPSIKOSOSIAL untuk Asesmen Keberfungsian Sosial. Cetakan Kesatu. Bandung: PT. Refika Aditama

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.