Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Kesehatan Mental dan Beban bagi Caregivers

Ditulis pada bulan oktober 2018, ketika masih banyak hal yang saya khawatirkan. Sekarang pun sebenarnya masih.

Photo by Nandhu Kumar on Pexels.com

Kesehatan mental akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Kesehatan mental tentunya terkaitan dengan salah satu jenis disabilitas, yaitu disabilitas mental. Disabilitas mental sendiri sering disebut disabilitas kasat mata, karena kasat mata sehingga tidak bisa langsung terlihat, maka dari itu jarang juga orang ingin mengetahui tentang disabilitas mental.

Ketertarikan saya kepada kesehatan mental sudah terpupuk sejak berkuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Melalui praktikum-praktikum yang berada di dalam kurikulum pendidikan sebagai pekerja sosial profesional, tidak jarang saya berjumpa dengan rekan-rekan kita yang mengalami disabilitas mental.

Praktikum II dan Praktikum III menjadi pengantar saya mengetahui lebih lanjut tentang kesehatan mental ini dan pentingnya menjaga kewarasan.
Pada praktikum II saya berpraktik di salah satu Rumah Sakit terbesar di Jawa Barat. Ada beberapa pengalaman yang membuat saya menjadi lebih ingin mengetahui tentang kesehatan mental. Salah satunya adalah pengalaman dengan pasien di daerah Kabupaten Bandung.

Saya sudah melihat seorang anak yang awalnya baik-baik saja dan dapat berinteraksi seperti anak yang lainnya, tetapi dikarenakan perundungan berulang dari teman-teman dan guru di sekolahnya membuat sang anak tersebut kini harus minum obat-obatan untuk skizofrenia secara rutin dan harus melakukan check up ke rumah sakit yang jaraknya jauh dari rumahnya. Hal ini juga membuat kedua orangtuanya kehilangan pekerjaan dikarenakan harus menjaga sang anak di rumah agar tidak melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri. Saya melakukan home visit dan juga melihat bagaimana takutnya lingkungan sekitar terhadap kehadiran anak tersebut, dan kondisi keluarga yang jauh dari kata sejahtera.

Saya juga sudah cukup melihat bagaimana seseorang yang mengalami disabilitas mental selalu mencoba kabur dari rumahnya dan menakuti warga sekitar sehingga keluarganya mencoba menyingkirkan dengan cara yang halus. Warga sekitar juga menjadi takut berhubungan dengan keluarga tersebut. Info terakhir pasien tersebut kabur dari rumahnya dan belum kembali lagi sampai saat tulisan ini dibuat. Riwayat kehidupan pasien tersebut diwarnai dengan kekecewaan dan ketidaksiapan. Dari dahulu memiliki segalanya, karena judi dirinya juga kehilangan segalanya.

Saya juga sudah melihat bagaimana seseorang yang terlantar dan mengalami skizofrenia diharuskan dirujuk ke rumah singgah dikarenakan pelayanan kesehatan yang diberikan sudah maksimal dan tidak ada keluarga yang bisa merawat dirinya, sehingga mungkin harus menghabiskan sisa masa hidupnya tanpa kepastian dan bahkan tanpa keluarga.

Pada Praktikum III pun saya juga mendapatkan beberapa pengalaman mengenai pentingnya kesehatan mental. Meskipun saya tidak mengambil fokus disabilitas, saya diberi amanah untuk menjadi Koordinator Bantuan Sosial Kabupaten Cianjur. Sehingga sering berhubungan dengan para penyandang disabilitas di tempat saya praktik untuk menyalurkan bantuan dari kerjasama STKS Bandung dan Kementerian Sosial.

Saya ingat ada tiga penyandang disabilitas yang waktu itu saya datangi untuk didata. Saya pun menemukan kesamaan dari ketiganya. Mereka sama-sama dipasung. Meskipun pasung yang dilakukan bukanlah pasung yang sering kita lihat di televisi. Pasung yang dilakukan cenderung pasung halus, dimana penyandang disabilitas dipisahkan tempat tinggalnya dari keluarganya. Ada keluarga yang mampu maka sampai ditempatkan di rumah yang cukup besar sendirian. Ada yang kurang mampu ditempatkan di semacam loteng yang tidak terawat. Ada juga yang ditempatkan seperti di sebuah bekas kandang hewan. Tidak ada alat yang mengikat diri mereka, tetapi juga tidak ada orang yang mau melihat mereka. Mereka terikat oleh harga diri dan gengsi keluarga mereka.

Praktikum III juga mengajarkan saya tentang pentingnya sistem sumber. Salah satu sistem sumber yang membantu adalah sebuah Komunitas yang bernama Komunitas Sehat Jiwa, mereka membantu mendiagnosa dan memberikan pengobatan kepada pasien penyandang disabilitas yang saat itu diinfokan kepada mereka. Tanpa biaya, tanpa birokrasi yang panjang. Semuanya dilandaskan kepedulian kepada sesama manusia. Kasih sayang kepada sesama penyintas.

yang dicari hilang, yang dikejar lari, yang ditunggu, yang diharap, biarkanlah semesta bekerja. Untukmu

biarkanlah semesta bekerja untukmu, kata Kunto Aji. Saya juga setuju. Berdasarkan pengalaman saya, salah satu dari sekian banyak penyebab seseorang kehilangan kewarasan mentalnya adalah terlalu khawatir dan kita pun sering menjadi terlalu khawatir.

Khawatir pekerjaan.
Khawatir tidak bisa membahagiakan orangtua.
Khawatir tidak bisa makan dan minum esok hari.
Khawatir tidak punya teman.
Khawatir tidak punya pasangan.
Khawatir tidak punya masa depan.

Salahkah kita khawatir? tidak.
Tapi salah bila kita terlalu khawatir. Selama kita selalu melakukan yang terbaik, saya rasa kekhawatiran-kekhawatiran kita akan mengikis pada akhirnya. Lagipula, bagi yang percaya; selalu ada kekuatan supranatural di luar kemampuan kita. Apapun sebutannya sesuai keyakinan anda.

Tapi Tuhan saja tidak cukup menurut saya. Kekhawatiran dan kecemasan kita tidak dapat dihilangkan dengan hubungan vertikal ke atas saja. Harus seimbang. Bila ada hubungan vertikal, maka juga harus ada hubungan horizontal. Hubungan horizontal ini yang menjadi solusi terdekat dalam menjaga kewarasan diri kita sendiri, yaitu orang lain sebagai support system kita.

Support System selalu menjadi kata-kata yang memiliki arti bagi saya. Saya percaya menjaga kewarasan sendirian itu sulit, dengan bantuan support system pun tetap sulit, tetapi ada kemungkinan sukses lebih tinggi. Karena kalau kita tidak bisa menjaga kewarasan secara kualitatif, setidaknya kita bisa menjaga kewarasan secara kuantitatif.

Jangan biarkan siapapun orang yang kamu kenal sendirian, sesenang apapun dia. seceria apapun dia. tetap dekati dan jadilah support system yang baik.

Karena orang terkadang suka sendirian, tetapi tidak ada orang yang suka kesepian.

Beban Kesehatan Mental

Beban Keluarga atau Family Burden adalah konsep yang telah diteliti utamanya dalam berbagai penyakit kronis. Didefinisikan sebagai berbagai masalah fisik, emotional, sosial atau ekonomi yang dialami anggota keluarga karena disabilitas dari salah satu anggota keluarga lainnya.

Model pelayanan saat ini pada setting kesehatan mental banyak yang menekankan pada perawatan berbasis komunitas. Dan mengurangi pelayanan berbasis panti atau rumah sakit. Seandainya ada hanya dalam periode tertentu saja berbasis panti atau rumah sakit.

Dan karena model pelayanan ini yang digunakan maka keluarga atau orang terdekat pasien biasanya bertanggung jawab sebagai caregivers. Membuat tanggung jawab mereka bertambah banyak. Diikuti pula dengan masalah-masalahnya.

Penyandang disabilitas mental yang kronis. Biasanya banyak menghabiskan waktunya hanya di rumah. Dan setidaknya ada satu orang anggota keluarga yang membantu menjaga. Membuat yang menjaga berkurang produktivitasnya.

Caregivers punya peran signifikan untuk merawat klien disabilitas mental. Merawat sendiri bukan kerjaan yang mudah. Merawat diri sendiri kadang sulit, apalagi harus merawat orang lain. Dan akan sangat mungkin mempunyai dampak pada kehidupan pribadi dari si caregivers ini.

Dampaknya sendiri dapat bermacam-macam. Tidak dapat bekerja. Rutinitas yang terganggu. Gangguan finansial. Dampak pada kehidupan sosial.

Derajat gangguannya sendiri berbeda-beda. Tergantung seberapa berat tingkat disabilias yang dirawatnya. Contohnya seperti skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan yang terus menerus dan kronis kepada seseorang. Yang sering menyebabkan isolasi, kecemasan, depresi dan frustasi. Untuk pengidap dan untuk caregivers-nya.

Memang seram dampaknya bila kita tidak menjaga kesehatan mental. Menganggu emosi. Menganggu pemikiran. Mengganggu kemampuan kognitif seseorang. Merubah pribadi seseorang. Menyebabkan perubahan kebiasaan. Dan jangka panjangnnya merusak kehidupan sosial dan juga keadaan ekonomi.

Caregivers yang merasakan beban ini punya kesulitan memenuhi kehidupannya. Dan juga membuat ia mengalami kesulitan dalam merawat anggota keluarga yang mengalami disabilitas mental.

Siklusnya berulang-ulang. Maka dari itu disabilitas mental pun dapat berpengaruh terhadap suatu keluarga. Bukan tidak mungkin, anggota keluarga yang lain. Lama-kelamaan. Juga merasakan gejala-gejala disabilitas mental.

Beban yang dirasakakan oleh caregivers pun juga dapat mempengaruhi klien disabilitas mental. Resiko relapse mungkin terjadi di lingkungan yang memiliki ekspresi emosional berlebihan. Stres yang dirasakan dari sikap keluarga menjadi penyebab relapse. Karena klien merasa, merekalah yang menjadi penyebab semua masalah bermasalah.

Klien pun kembali masuk ke siklus yang saya sebutkan tadi. Siklus relapse.

Salah satu cara untuk keluar dari pusaran siklus ini adalah dengan mengikuti terapi bersama keluarga. Untuk lebih memahai apa penyebab keluarga bertindak negatif terhadap anggota keluarga yang mengalami disabilitas mental. Mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan beban yang dirasakan. Dan perubahan-perubahan apa saja yang dirasakan oleh keluarga selaku caregivers dan klien.

Kedepannya. Dengan mulai meningkatnya awareness mengenai beban caregivers ini. Perlu diubahnya model pelayanan yang berfokus kepada klien. Menjadi model pelayanan yang memiliki pendekatan kepada klien dan caregivers.

Saya juga memiliki saudara jauh penyandang disabilitas mental dan saya sedikit banyak paham beban yang dirasakan para caregivers.

Untuk saat ini tidak banyak yang bisa saya lakukan, selain meningkatkan awareness tentang masalah ini. Sembari membangun jejaring, sembari membangun kekuatan. Untuk mampu merubah sistem pelayanan kesehatan mental, dan pekerja sosial mampu berkolaborasi dengan profesi lain sebagai garda terdepan dalam preventif, curatif dan rehabilitatif.

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.